Laser Auto Focus, Bikin Candid Jadi Bagus!

Kadang kalau lagi waras, saya sering berpikir tentang kehidupan (cieeee… kehidupan). Yang dipikirin adalah kehidupan sayasendiri lah! Ngapain mikirin kehidupan orang lain? Ga ada kerjaan banget mikirin orang!

Nah, salah satu yang sering saya analisa bolak-balik adalah soal profesi saat ini: Penulis novel, sutradara, editor film, dan tukang pukul beduk di masjid (yang terakhir sebenarnya adalah profesi utama paling berprofit, heuheu…), disana saya sering bertanya: apakah memang ini profesi yang memang beneran ingin saya jalani?

Ternyata sesering saya berpikir, sesering itu pula jawabannya datang, dan selalu sama: KURANG SATU! Wah, ini tentu karena ada lagi satu hal yang pengen banget saya lakukan, sesuatu yang sebenarnya saya tahu punya bakat disana, saya pengen banget jadi fotographer. Lebih spesifik lagi, entahlah ada aliran fotografi apa saja di dunia, saya nggak ngerti… tapi saya pengen banget fokus jadi “fotographer candid”. Yes.. CANDID!

Well, itu mungkin istilah yang saya ciptakan sendiri saja. Tapi saya merasa… ada sesuatu yang “menggairahkan” dari candid, bayangkan… sebuah moment datang tidak bisa diatur, dia bisa datang kapan saja, saat kita lagi ngapain aja, dimana saja… lagi di jalan ngeliat ada cewek berdiri sedemikian rupa sehingga kontras sama grafiti di jalan, misalnya… atau lagi di WC ngeliat cicak kawin dengan pose yang ekstrim banget (mungkin mereka lagi syuting film p*rn* versi cicak)… lagi di angkot dan liat ada pengemis salto di pinggir jalan, misalnya… lalu saat moment-moment itu datang kita harus sesigap mungkin merekamnya, hanya dari tempat kita berdiri, tanpa cahaya artifisial, tanpa lampu yang disiapkan lebih dulu, kita cuma memanfaatkan cahaya sekitar, bahkan dengan fokus yang mungkin saja tidak sempat lagi diatur.

Kadang sebuah moment hanya menyisakan kesempatan satu kali dijepret, setelah diambil gambarnya lantas moment itu hilang (cewek itu udah nggak berdiri deket grafiti lagi, cicak tadi kawinnya selesai, atau pengemis itu sudah nggak salto lagi). Artinya… kalau hasil jepretan tadi hasilnya jelek, ya sudah… gagal deh.

Salah satu foto candid hasil jepretan pribadi, ini butuh kecepatan dan cuma satu kali jepret! soalnya detik berikutnya monyet itu mengubah posenya...
Salah satu foto candid hasil jepretan pribadi (yang agak nggak sopan tapi lucu), ini beneran butuh kecepatan dan cuma satu kali jepret! soalnya detik berikutnya monyet itu mengubah posenya…

Lalu, ada satu lagi seni soal candid yang saya pahami, sesuai dengan definisi di kamus:

can·did (ˈkandəd/): taken informally, especially without the subject’s knowledge.

Artinya, seni candid adalah juga seni ngambil foto tanpa ketahuan objek, karena kadang moment akan hilang kalau si objek (dalam kasus ini biasanya kalau objeknya adalah manusia) sadar akan keberadaan kamera. Logikanya, makin kecil kamera-makin bisa diumpetin-makin mungkin kita ngambil moment. Maka dari itu tentu saja bakal sulit banget (bisa, tapi sulit bin ribet) ngambil candid pake lensa 200-500mm f2.8! Sementara kita tahu kata pak ustadz: hidup itu jangan bikin ribet diri sendiri!

Nah, dengan kriteria-kriteria “pribadi” macam gitu, tentu yang saya butuhkan—idealnya—adalah sejenis smartphone yang kecil, 5 inchi pas lah… jangan 8-10 inchi gitu lho, ribet megangnya. Kalau 5 inchi kan masih bisa dipegang pake satu tangan, jadi bisa pura-pura SMS padahal lagi foto, hehe (pengalaman pribadi). Terus yang pasti kameranya harus bagus, bisa ngambil fokus dengan cepat—kembali dengan asumsi bahwa moment kadang bisa hilang secepat kilat, itu artinya harus bisa diambil dengan fokus lebih cepat dari kilat—dan tentu saja harganya harus pas sama kantong saya yang kerjaannya “cuma” tukang mukul beduk, bukan jenis kerjaan yang: berkantor-elite-di-Jakarta-lantai-sepuluh-dengan-dasi-mentereng-jas-mengkilat-dan-gaji-bulanan-berbentuk-dolar.

Setelah saya analisa dan cari-cari info di mbah Gogole, maka rasanya akan pas banget kalau saya pake ASUS Zenfone 2 Laser 5.0 (ZE500KG). Bukan cuma karena dia keluaran ASUS (Woi, ASUS bro! ASUS gitu lho! Masih nanya soal kehandalan ASUS?) atau karena smartphone ini diisi pake Android Lollipop… tapi karena menurut analisa saya, smartphone ini bisa memenuhi kriteria-kriteria yang saya sebutin di atas tadi, misalnya:

Soal ukuran? Produk ini termasuk yang paling tipis di kelasnya, ketebalan ASUS Zenfone 2 Laser ini cuma 3,5 mm. Lalu ukuran screen nya 5”, pas banget kan? Tapi layar kecil apa nggak kecil juga “ngekernya?”, hmm… nggak juga sih, karena pas saya lihat rasio layar terhadap perangkatnya itu sampai 70%, artinya sangat banyak ruang untuk ngeliat objek.

wider
70% wide, bagus kan? (sumber: www.asus.com)

Lalu kameranya? Kamera belakang yang penting buat candid: 8 MP, dengan apertur lensa f/2.0. Itu artinya saya bisa ambil foto dengan tinggi tanpa takut kena shutter-lag. Ketika saya cek di situs resmi ASUS, perangkat ini dilengkapi dengan beberapa mode yang bisa bikin saya jatuh cinta, antra lain Mode Low Light yang menjanjikan foto yang akan 400% lebih terang tanpa bantuan flash. OMG… FLASH! Saya lupa kalau flash juga bisa jadi penyakit kalau mau candid… objek kadang terganggu ketika ada flash mendadak. Sehingga jepretan kedua atau ketiga itu tidak mungkin dilakukan karena objek keburu kabur (atau manggil tukang pukul), dengan Mode Low Light seperti ini saya tetap bisa candid saat malam hari atau tempat yang kurang cahaya. Ini belum ditambah mode Super Resolution yang bisa membantu kita ambil gambar dengan detail tinggi di resolusi sampai 32MP.

pixelmaster-lowlight
edan, ada blur fokusnya! (sumber: www.asus.com)

Nah, lalu soal fokus yang saya ributin tadi? Nggak percuma produk ini pake kata “laser” di namanya, karena ASUS Zenfone 2 Laser pake teknologi otofokus laser, sehingga dia bisa mengukur jarak dalam kecepatan cahaya – dan menerjemahkan fokus hanya dalam waktu 0.2 detik. Ini membantu banget terutama kalau saya harus motret di kondisi yang minim cahaya. Lalu otofokus laser ini juga bisa mempercepat proses foto close up, termasuk saat memotret obyek yang lebih jauh. (Candid selalu jauh, right?)

pixelmaster-hdr
nah, ngambil gambar cewek cakep gini memang mendingan jauh, kecuali kalau mau digamparin sama pacarnya (sumber: www.asus.com)

Ada lagi? Hmm… selain harga lumayan terjangkau buat seorang tukang pukul beduk… teknologi Gorilla Glass 4 yang diusung produk ini bikin dia 85% lebih tahan banting (ya jangan dibanting-banting nggak jelas juga bro!), buat saya yang hidup di jalanan ini penting banget. Jalanan itu keras, jenderal! (halah)

Kesimpulan: dengan keluarnya smartphone ASUS Zenfone 2 Laser 5.0 ZE500KG ini, saya merasa makin pengen mewujudkan keinginan jadi “fotographer candid”, siapa tahu jalan rejeki memang dari situ, nggak ada yang tahu kan? Sekarang tinggal cari cara biar saya bisa punya barangnya sesegera mungkin! Yang baca post ini bantu-bantu doain dong, aamiin… []

Share This:

Related posts:

Kesan Canon IXUS 160
Menurut saya—selain Powerbank—salah satu senjata pembunuh bayaran blogger yang cukup penting adalah kamera digital. Soalnya, akan lebih bagus kalau postingan kita dilengkapi foto, dan kalau bisa sih f...
Cinta Indonesia? Pakailah Advan I5A 4G LTE
Kita semua tahu bahwa ada banyak cara untuk mencintai Indonesia, salah satunya adalah dengan menggunakan produk dalam negeri. Tapi meskipun begitu, kenyataannya masih banyak dari kita yang tidak pedul...
Tanggal Tua, Ayo Kita Belanja
Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall. Pagi ini saya me...
Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati
Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1] Ah, semoga ada yang benar-benar melihat b...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.