Siapa Sih Pemerintah?

Ini cerita waktu saya masih sekitaran kelas 2 SD (serius, saya pernah muda!)… jadi dulu itu tiap kali mau ke sekolah, saya selalu nyegat angkot.

Buat yang hidup sejaman dan sekelurahan sama saya, pasti tahu kalau dulu (nggak tahu sekarang) di sekitaran daerah Cilangkap—bahkan terus manjang sampe Cibinong, nggak tahu lah daerah saya masuk Bogor atau Depok—itu banyaaak banget pohon kenari, gede-gede. Seriusan pohon kenari. Maka ga heran kalo saya pertama kalinya kenal buah kenari, ya di pingir jalan itu… karena tiap hari berdiri di bawah pohonnya, kadang mungutin buahnya, terus dimakan (kampring nggak sih?)

Nah, saya itu kalo pergi sekolah sering dianter Bapak sampe jalan raya doang (naek angkot sendiri lah, anak gaul!)… Sambil nunggu angkot saya sering iseng ngeliatin deretan pohon kenari itu, dan mikir “ini pohon siapa yang nanem ya?”, tapi pertanyaan itu nggak pernah saya keluarin. Nah kebetulan hari itu terbit pertanyaan lanjutan di otak, tentu dengan asumsi dasar anak SD bahwa yang tanam pohon biasanya adalah si pemilik pohon, maka langsung aja saya nanya:

“Pak, ini pohon punya siapa sih?”

Bapak jawab sambil rada cuek-cuek gitu “Ini punya pemerintah.”

Saya mengerenyitkan jidat. Bingung. Ngeja ulang kata itu dalam hari: PE-ME-RIN-TAH? asli, dengan otak anak SD, rasanya kata itu asing banget. Iya sih saya sering denger kata pemerintah, terutama kalo ada berita di TV, tapi bentuk si “pemerintah” ternyata nggak bisa langsung tervisualisasi di otak. Saya bengong sebentar, celingukan, dan mata saya nangkep bapak-bapak, entah siapa keluar dari sebuah gang, pake kemeja, celana bahan, naek motor, pake helm… detik itu juga saya merasa menemukan koneksi antara kata pemerintah dengan bapak-bapak itu, dan saya langsung nunjuk:

“Pak, itu pemerintah ya?”

“HAH?” bokap ngeliatin, mungkin dia mikir… “ini anak begonya nurun dari siapa ya?” Terus dia menggeleng sambil jawab “Bukan!” OKE… masalah selesai, visualisasi saya hancur berantakan, dan angkot dateng, sehingga saya nggak bisa nanya-nanya lagi; dan setelah itu memang saya lantas lupa sama pertanyaan tadi

FAST FORWARD KE MASA KINI >>

Sekarang, setelah gede, terus terang saya juga masih merasa nggak akurat kalau disuruh memvisualkan kata “pemerintah”, oke… secara default, kalau denger kata “pemerintah” maka yang kebayang di otak adalah “orang pake baju PNS duduk di belakang meja”, yang lantas karena perkembangan jaman dan umur serta hormon maka visualisasi itu biasanya lebih spesifik: bu Camat Jane Wauran, bu Lurah Nurmala Hamid, atau Rinada

err… oke, ehm, lupakan nama yang terakhir! Mari kita kembali ke masalah. Sebenarnya kalau mau dipikir, apa sih arti kata “pemerintah”? Orang yang memerintah? Ya… secara bahasa Indonesia memang begitu, tapi terus kalau kata itu dilekatkan pada sosok orang yang memegang sebuah jabatan, kok saya ngerasanya agak gimana gitu, ada kata-kata yang ikut ngintili di belakangnya, macam: diktator, egois, totaliter, monarki absolut, otoriter, atau apalah… pokoknya buntutnya banyak dan kesannya negatif. Karena—ini kita bicara logika dan imajinasi aja ya, bukan KBBI—kalau ada kata “pemerintah” atau “orang yang memerintah” pasti ada lawan katanya, yaitu “orang yang diperintah”, dan secara imajinasi saja kita tahu kalau dua definisi itu dilekatkan pada sosok yang berbeda, sudah jelas siapa yang berdiri di atas dan siapa yang berdiri di bawah. Kekhawatiran saya soal bentuk hubungan antara “orang yang memerintah” dan “orang yang diperintah” pernah saya tuangkan dalam tulisan soal Tolikara, silahkan dibaca aja.

Tapi intinya… Kebayang nggak sih ironinya? kata “pemerintah” atau bisa disebut “tukang perintah” konotasinya negatif, beda sama kata “pejabat” atau “orang yang memegang jabatan”. Itu yang terakhir kesannya keren! apalagi kalau memegang “jabatan basah” (misalnya: tukang bersiin kolam renang atau pelatih lumba-lumba!), kedengerannya keren banget! Kita ngebayangin pasti seorang pemegang jabatan itu orangnya pinter, lulusan sekolah tinggi, orang kaya, cantik, dll. Tapi entah kenapa… secara praktek, saya ngeliat banyak pejabat yang kerjaannya ya… cuma tukang perintah!

Akhirnya terjadilah ambigu antara pejabat dan pemerintah, seorang pemegang jabatan pasti juga harus memberi perintah, tapi apakah memberi perintah adalah satu-satunya pekerjaan seorang pemegang jabatan?

Well, seperti judulnya blognya… ini cuma ocehan, mungkin nggak perlu terlalu ditanggapin lah. Tapi saya masih merasa kita perlu mendefinisikan ulang arti kata “pemerintah”, mungkin ini bakal panjang, mungkin ini bakal memaksa kita lantas harus juga mendefiniskan ulang kata lain, macam: wakil rakyat, elite politik, kekuasaan, petinggi, dll… silahkan saja lakukan sambil iseng, mungkin sambil buang air besar… daripada ngehayal yang nggak-nggak, hayo!… curhat

Tapi serius… ini penting, sehingga kalau kita punya anak, dan anak kita bertanyaan dengan muka polosnya “pemerintah itu yang bagamana sih?”, setidaknya kita tahu jawabannya. []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Tolikara dan Speaker yang Membesar
Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita penyerangan jamaah salat Idul Fitri dan pembakaran masjid serta kios-kios di Tolikara, Papua. Ketika itu terjadi, serentak semua orang bicara. Pakar, non...
Gigi Raffi Kelihatan di TV
Selain teguran KPI terhadap acara kawinan Raffi Ahmad, kemarin katanya Menkominfo sudah “menyatakan prihatin” pada stasiun TV yang menayangkan kelahiran anak Raffi dan Nagita. KPI pun tampaknya sudah ...
Awas, Saya Anak Jenderal!
Siapapun yang membaca buku Sketsa-Sketsa Umar Kayam: Mangan Ora Mangan Kumpul pasti kenal tokoh Mister Rigen (seorang pembantu rumah tangga asli Pracimantoro yang punya anak bernama Beni Prakosa), ser...
Biar Mereka Bangun Gerejanya
Dulu saya sempat sekolah di sebuah yayasan Katolik selama kurang lebih delapan tahun, namanya yayasan Mardi Yuana, di daerah Cibinong. Saya juga sampai saat ini punya banyak teman Katolik, dan nggak p...
PR Besar di Depan 411 dan 212
Dalam episode pertama season pertama serial The Newsroom, ada scene dimana tokoh Will McAvoy ditanya oleh seorang mahasiswi—yang belakangan diketahui bernama Jennifer Johnson—begini, “Can you say why ...
Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati
Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1] Ah, semoga ada yang benar-benar melihat b...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.