Chef: Hidup Kita di Tangan Kita

Saya baru selesai nonton film Chef (Jon Favreau, 2014), inti ceritanya soal seorang juru masak profesional di sebuah restoran ternama yang mengalami konflik hebat dengan seorang kritikus makanan—dan tentu otomatis konflik dengan publik juga—sampai dia harus keluar dari kerjaannya, pindah dari LA ke kota kelahirannya di Miami untuk memulai sesuatu yang baru, jualan makanan di food truck.

Ceritanya fresh, ringan, crunchy (sorry ini istilah saya sendiri), menghibur, tapi tetap dalam, sarat makna, dan—secara personal—sedikit nonjok. Di film ini Jon Favreau bertugas jadi produser, sutradara, penulis skenario, aktor … dan saya baru nyadar kalau dia adalah orang yang menyutradarai Iron Man! (walaaaah, kemane aje bang!)

Film ini secara cerita memenuhi pendapat Joko Anwar yang pernah nulis di salah satu tweetnya: “sebuah cerita film ga harus membawa tema besar atau penting”, ya… ada jenis-jenis film yang dibuat “hanya” untuk menghibur—tapi tetap harus digarap dengan serius, karena sebenarnya dunia perfilman butuh tema ringan untuk penonton kebanyakan, fungsinya sebagai penggerak industri. Dengan catatan tetap harus digarap dengan serius.

Menurut saya, Chef adalah jenis film indie yang digarap dengan serius, meski scriptnya ditulis oleh Jon Favreau sendiri ‘hanya” dalam waktu dua minggu, tapi dia sampai harus mendatangkan Roy Choi, seorang ahli makanan untuk menjadi konsultan sekaligus co-produser. Nggak tanggung-tanggung, dalam pra produksi film ini Jon sampai “mengintili” Choi ketika lagi kerja di dapurnya, dan juga ikut sebuah kursus masak. Persiapan yang memang sudah seharusnya dilakukan! Mirip dengan persiapan film Tabularasa (Adriyanto Dewo, 2014) yang sampai mendatangkan Chef Adzan untuk Cooking Advisor dan Tom Ibnur sebagai Cultural Advisor.

Film yang diperkuat oleh aktor dan aktris terkenal macam: Oliver Platt, Scarlett Johansson, John Leguizamo, Dustin Hoffman, Robert Downey, Jr… dan nggak lupa satu aktor cilik yang bagus banget maennya: Emjay Anthony ini nilainya 7,3 di IMDb dan 86% di rottentomatoes. Film ini juga berhasil mendapat Audience Award di Tribeca Film Festival 2014, nominasi Best Actor in a Comedy Movie di Broadcast Film Critics Association Awards 2015, dan nominasi Outstanding Achievement in Casting – Studio or Independent Feature di Casting Society of America 2015.

Secara isi, film ini mengajarkan saya satu hal, bahwa akan selalu tiba waktu dimana kita harus mengambil kendali hidup di tangan kita sendiri. Ketika kesempatan itu datang pilihannya cuma dua: ambil atau nggak, kalau nggak diambil maka dia akan nyamperin ke orang lain dan ga akan balik ke kita lagi.

Timing film ini juga nyamperin saya di waktu yang cocok banget! Karena saya akhir-akhir ini berpikir untuk memulai hal baru. Seriusan… stuck di sebuah area hingga lebih dari tiga tahun adalah warning tersendiri.

Oh, bukan berarti saya akan meninggalkan dunia novel dan film, dan beralih ke… euh, merangkai bunga, atau dagang cilok, atau mucikari bersertifikat mungkin? Nggak, pekerjaan tetap sama, sejak lima tahun yang lalu saya sudah sadar nggak akan bisa lepas dari dua dunia itu. Tapi yang beda adalah cara melakukannya.

Karena sejak keluar dari posisi editor buku sebuah penerbitan, saya 200% yakin bahwa kerja kantoran nggak cocok buat orang seperti saya, maksudnya… bukan kantoran gimana tapi… kerja dibawah perintah orang lain.

Tapi seperti stiker murahan di angkot “Hari Ini Gratis, Besok Bayar”, (kan bayarnya besok mas, besok naik lagi aja angkot ini… oke dan besoknya saya naik angkot yang sama tapi tetap harus bayar karena kan “gratisnya besok”, WTF!) … saya selama ini tetap mendorong realita dengan memaafkan situasi (edan lah ngomongnya!). Saya terus berpikir bahwa… besok saya akan jadi bos untuk diri sendiri, besok deh, besok deh, besok deh… dan akhirnya nggak juga sampe sekarang.

Bentar, kenapa jadi curhat ya? []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor
Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, ...
500 Hari yang Menyebalkan
Setelah nonton film 500 Days of Summer (Marc Webb, 2009) temen saya ngirim SMS begini: "Every young single girl is f*****g suck! Thanks GOD gue udah merried!"... Haha, oke saya akui SMS ...
Coraline... Bukan Caroline!
Sekarang saya bakal ngomongin salah satu film horor yang bikin betah ditonton. Yah sebenarnya saya ini rada alergi sama film horor, kecuali kalau dijebak teman seperti kasus ini. Namun khusus untuk Co...
Menafikkan Riset, Membuang Penonton
Dalam sebuah wawancara yang dimuat di media online (maaf kalau linknya sudah rusak, soalnya sudah lama, tapi kalau tidak salah ada di website SWA, langsung diklik aja buat yang penasaran), ada pernyat...
Alien di Cast Away on the Moon
Hmm, subuh ini perasaan saya lagi rada-rada romantis, gara-gara sambil sahur nonton film Cast Away on the Moon (Hey-jun Lee, 2009). Film ini pernah kesebut waktu saya nulis soal Jung Rye Won—aktris ce...
Film Fantasi dan Fiksi Ilmiah Indonesia: Adakah?
Pertanyaan di atas mungkin sulit dijawab. Di Indonesia, genre film fantasi dan fiksi ilmiah kalah populer dibandingkan drama percintaan dan tema horor-mistik. Mungkin lantaran biaya produksi film fant...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.