Gigi Raffi Kelihatan di TV

Selain teguran KPI terhadap acara kawinan Raffi Ahmad, kemarin katanya Menkominfo sudah “menyatakan prihatin” pada stasiun TV yang menayangkan kelahiran anak Raffi dan Nagita. KPI pun tampaknya sudah geram dan bakal bereaksi.

Well… ini tampaknya akan jadi trend baru setelah dulu nikahan Anang-Ashanti juga disiarkan live (euh, kenapa malam pertamanya nggak sekalian aja sih?). Waktu itu acara Anang dapat teguran juga, rame juga masyarakat yang ngeluh di sosmed… tapi lantas kejadian serupa terulang lagi, dan lagi, dan lagi.

Soal operasi cesarnya ini juga seru, karena selama 90 menit masyarakat “harus” tahu bahwa Nagita Slavina sedang melahirkan. Nah, kenapa sih kita harus tahu? Sebentar… mari kita berpikir… kenapa kita harus tahu kalau Raffi berhasil menghamili Nagita dan sekarang hasil perbuatannya itu sedang dikeluarkan dari perut? Sudah nemu jawabannya? Sudah nemu alasannya? Belum? Sama… saya juga nggak nemu!

*tarik nafas sebentar-geleng-geleng kepala sebentar-lanjut lagi*. Kalau kita telaah dengan baik, sebenarnya acara model Anang-Ashanti dan Raffi-Gigi ini “hanya” mengikuti pola lama, karena pada dasarnya kita sudah sering banget disuguhi acara yang tipenya: memaksa-pentonton-mengikuti-kehidupan-seorang-artis-meski-kita-nggak-tahu-apa-bagusnya-dan-gunanya.

Misalnya, serial (serial means “episodenya banyak”, right?) “Shafiyah Anak Jamilah” yang menuntun penonton untuk melihat aktifitas seorang bocah yang—kebetulan—anak artis terkenal. Pokoknya kita harus tahu saat neng Shafiyyah lagi berenang, belanja baju, ke salon, cooking class, digendong sama pembantu, kentut, cebok, ngupil, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana juga dengan serial “Aprilio Kingdom” yang oleh situs resminya bahkan dikategorikan sebagai acara yang: “mengikuti apa saja kegiatan Kevin dalam kesehariannya, tidak hanya sebagai seorang musisi sekaligus produser, tapi juga sebagai seorang anak”. Sama saja kan dengan urusan Nagita melahirkan?

Pertanyaannya: apakah itu semua salah?

Euh, sebenarnya ini bukan soal salah atau bener sih, karena menurut saya penonton Indonesia selalu dipaksa—dan akhirnya menjadi terbiasa—menyukai sesuatu yang sebenarnya nggak penting buat kehidupan mereka.

Kalau ada kata “dipaksa” berarti endingnya akan ada saja pihak yang nggak rela dan ujungnya marah-marah. Karena kronologis kejadiannya adalah: ada seorang berduit yang mau bayar stasiun TV untuk menayangkan kehidupannya, sementara ada penonton TV—yang tidak punya duit—mengeluhkan tayangan tadi sosmed. Ya, masyarakat kebanyakan memang hanya punya sosmed buat misuh-misuh, terus apalagi?

Apalagi—sorry, saya ngoceh soal teknis ya… yang bosen diskip aja empat paragraf di bawah ini—soal penggunaan hak siar televisi di Indonesia juga sebenarnya belum beres juga urusannya.

Iya sih, di Indonesia ada Pedoman Perilaku Penyiaran-Standar Program Siaran (P3SPS) yang dikeluarin sama KPI Dalam P3SPS dalam Pasal 28 tentang hak privasi ditulis “Persoalan privat tidak boleh di bawa ke ruang publik, kecuali mengandung kepentingan publik yang tinggi” dan dalam pasal 2 juga tertulis “Lembaga Penyiaran wajib mengutamakan kepentingan publik setinggi-tingginya”

Tapi apa ada yang peduli sama dua pasal itu? Karena sebenarnya dalam ruang lingkup penyiaran, di Indonesia ini ada dua kubu yang terus bertikai: yaitu kubu yang mendukung Model Pasar, dan kubu yang mendukung Model Ruang Publik.

Model Pasar percaya bahwa masyarakat akan terlayani secara optimal kalau semua pertimbangan acara diserahkan ke penonton. Artinya, biarkan TV menyajikan acara sebagaimana yang mereka anggap layak jual, tidak perlu ada campur tangan pihak lain, karena toh kalau penonton nggak suka maka mereka akan ganti channel sendiri. Dibalik itu tentu hubungannya dengan iklan dan uang, karena dengan memutar acara tertentu maka TV pun bisa memasang iklan tertentu yang cocok. Uang pun mengalir masuk dan TV itu bisa tetap hidup.

Sebaliknya, Model Ruang Publik percaya bahwa harus ada partisipasi dari pihak lain, baik itu pemerintah, atau lembaga pengawas untuk memilih tayangan di TV. Resikonya, bisa saja si tayangan yang dipilih tidak cocok dengan pengiklan, akhirnya tidak ada iklan masuk, tidak ada uang masuk. Tapi buat Model Ruang Publik, itu cuma masalah kecil. Karena menurut mereka, media yang besar bukan yang untungnya besar… tapi adalah media yang bisa memberikan informasi yang bernilai penting pada publik. Kalau semua diserahkan pada pasar maka dikhawatirkan akan banyak informasi yang dibutuhkan masyarakat tapi tidak disajikan oleh media karena mereka hanya mementingkan acara apa yang bisa memasukkan iklan.

Oke… gimana sudut pandang saya sebagai penonton (meski yang ditonton cuma pertandingan bola aja)?

Menurut saya, solusi terbaik adalah TV berbayar. Karena logikanya begini: kita dikasih siaran gratisan (cuma bayar listrik doang) ya jangan protes kalo siarannya jelek (mungkin kata boss TV: wong gendeng, gratisan aja banyak maunya!). Tapi kalau TV nya berbayar, kita bisa protes andai siaran mereka jelek… karena kan kita bayar, pake duit sendiri juga, buat dapet acara bagus.

Karena lepas dari berbagai teori di atas… sudah terlalu banyak pelanggaran dan pihak berkepentingan yang ngomong, sehingga kalaupun ini urusan mau diberesin, pasti bakal ribet. Akhirnya—sejauh ini—kita sebagai penonton memang nyaris ga bisa apa-apa kecuali pindah channel atau matiin TV. (yang terbaik sih matikan TV, buka buku… stensilan)

Akan lebih bijak kalau—mungkin—artis itu punya duit, ya bikinlah channel sendiri di TV berbayar. Mungkin kalau isinya reality show kehidupan Raffi-Nagita namanya bisa “RagiTV”, keren kan? Yang nonton ya hanya orang-orang yang bayar, dan tentunya mereka adalah penggemar berat Raffi atau Nagita. Akhirnya artis itu senang, penggemarnya senang, slot siaran TV bisa diisi program lain, dan penonton non-fans juga lega karena tidak dipaksa melihat sesuatu yang buat mereka ga penting. Kalau sudah sampe punya channel sendiri begitu sih terserah mau bikin siaran 24 jam non-stop macam TheTruman Show bikinan Christof juga boleh. Bebas lah, kan siapa yang mau nonton mesti bayar.

Jadi, sementara ini… mari relakan saja kalau kita “terpaksa” harus melihat lagi Gigi-Raffi masuk di TV, berharap aja mereka ga muncul terlalu sering, dan berharap saat muncul mereka benar-benar sudah gosok gigi #EH []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Foto Anak Berdarah Lagi?
Baru sepuluh menit yang lalu saya melihat gambar anak kecil dengan usus terburai. Maka saya memantapkan hati meski tahu saya beresiko dihujat, tapi saya harus menulis ini: "Stop spreading photos...
Jangan Kasihan Ke Norman Kamaru
Sekarang lagi rame nih berita soal Norman Kamaru jualan bubur Manado. Awalnya saya baca itu di jabarsatu, lalu saya googling dan ternyata cukup banyak tuh portal media online yang mengangkat cerita se...
Preman Pensiun dan HP
Pertama kali saya tahu ada serial Preman Pensiun itu langsung dari mas Didi Petet. Waktu itu dia lagi ngisi acara Master Class dimana saya jadi panitianya. Dia nyebut judul itu sambil bilang “nonton y...
Tolikara dan Speaker yang Membesar
Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita penyerangan jamaah salat Idul Fitri dan pembakaran masjid serta kios-kios di Tolikara, Papua. Ketika itu terjadi, serentak semua orang bicara. Pakar, non...
Di Satu Negeri, Ada Pemimpin yang Suka Selfie
Konon katanya… Julius Cesar, Kaisar Romawi yang terkenal itu punya resep jitu untuk menentramkan rakyatnya, yaitu resep “Roti dan Permainan”. Begini formulanya: Berilah rakyat cukup makanan dan mereka...
Telolet yang Menyebalkan
Fenomena Telolet yang marak akhir-akhir ini (mendunia lho, sampai ada penyanyi internasional yang katanya mau bikin lagunya) menurut saya sangat menyebalkan, terutama karena fenomena ini menyebabkan b...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

4 thoughts on “Gigi Raffi Kelihatan di TV

  • 18/08/2015 at 09:13
    Permalink

    TV berbayar In**vision juga telah memaksa dengan bombardir iklan partai ownernya, udah bayar trus pilihannya liat propaganda hingga ntar 2019 -_-* jadi apa bedanya berbayar dan free ???

  • 18/08/2015 at 12:24
    Permalink

    ya minimal kita bisa protes kalau acaranya ga suka, kan kita bayar 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.