Mencari Hilal: Film (yang) Indonesia

Saya menonton film Mencari Hilal di Bandung, ketika itu saya dapat undangan premiere nya di XXI Empire. Dan seperti biasa, ketika akan menonton film Indonesia dimanapun juga maka saya akan mengosongkan kepala dari segala macam ekspektasi dan dugaan. Bahkan seringkali saya tidak mau membaca sinopsis atau review-review yang kagok beredar di sosmed.

Alasannya sederhana, saya percaya bahwa sesuai hukum dalam kehidupan… sesuatu itu ada yang bagus ada yang jelek. Begitupun film, ada film Indonesia yang bagus dan ada yang jelek, di Hollywood juga tidak semua filmnya bagus, ada juga kok yang berantakan.

Masalahnya terlalu banyak orang yang memposting review itu memiliki tiga penyakit: (1) belum-belum sudah skeptis pada perfilman Indonesia dengan bilang “pokoknya kalau film Indonesia pasti jelek!”, (2) mereka selalu berdiri di atas film yang artinya mereka menonton hanya untuk mencari kesalahan-kesalahanan film, dan (3) terlalu mudah membandingkan film Indonesia dengan flm luar (terutama Hollywood) dimana biasanya dari film Indonesia diambil contoh buruknya dan dari film Hollywood diambil contoh baiknya.

Iya sih, sudah jadi hak konsumen mendapat barang bagus. Saya juga ketika berperan sebagai penonton bioskop pasti mengharapkan dari duit tiket itu saya dapat tontonan bermutu. Beberapa kali saya juga “kena jebmen”, dapet film yang Zonk! Ya sudahlah… waktu itu saya cuma cengar-cengir saja, saya tidak langsung memukul rata semua film Indonesia buruk gitu lho. Ternyata cengar-cengir pasrah cukup mengobati efek Zonk tadi. Apalagi karena saya tahu bahwa… masih banyak kok film Indonesia yang layak di apresiasi

Nah, salah satu film Indonesia teranyar yang layak dapat apresiasi itu adalah Mencari Hilal (Ismail Basbeth, 2015). Saya memang tidak terlalu akrab dengan karya-karya Basbeth, mungkin salah satu yang saya suka adalah film pendek “Bermula dari A” dimana Basbeth jadi editornya. Tapi karya Basbeth sebagai sutradara itu yang saya belum tahu. Bagus deh… sesuai filosofi saya di awal tadi: saya jadi tidak memiliki ekspektasi apapun, pure nonton untuk nonton beneran!

Langsung saja, inilah beberapa catatan saya berkaitan dengan film Mencari Hilal:

aaa

(1) Potret Perubahan. Ada beberapa orang yang membandingkan film ini dengan Le Grande Voyage (Ismaël Ferroukhi, 2004), saya sudah menontonnya dan merasa kalau perbandingan ini kurang tepat. Memang benar secara plot, perjalanan Reda dan ayahnya bisa disamakan dengan perjalanan Mahmud – Heli. Tapi ada satu point yang berbeda, yatu soal perubahan.

Dalam Le Grande Voyage, terlihat di sepanjang perjalanan Reda dan Ayahnya mengalami pergolakan batin dan benturan konflik, yang mendorong terjadinya perubahan karakter. Artinya, pencarian karakter-karakternya berakhir pada perubahan diri sendiri. Tapi pada Mencari Hilal, ada usaha dari pak Mahmud dan Heli untuk melakukan perubahan situasi pada tempat dimana mereka berada. Kita bisa lihat dalam Le Grande Voyage, ayah Reda tidak berusaha mengubah apapun di Slovenia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania, atau dimanapun dia berada. Justru sebaliknya dalam Mencari Hilal… Pak Mahmud berani mengkritik banyak hal, misalnya soal tradisi sesajen di sebuah kampung, dia juga berani (dengan bantuan anaknya) untuk terlibat dalam penyelesaian konflik agama, bahkan dia juga berani mengkritik seniornya di pesantren yang jadi calon Bupati.

Dengan kata lain, arah cerita dalam Le Grande Voyage adalah bagaimana para tokohnya mengubah kondisi “di dalam diri” menjadi lebih baik, sementara arah cerita dalam Mencari Hilal adalah bagaimana para tokohnya mengubah kondisi “di luar diri” menjadi lebih baik.

Saya tidak bisa bilang konsep kedua lebih bagus dari konsep pertama, atau sebaliknya. Nggak kok, semuanya sama-sama bagus dan boleh. Ini saya cuma menulis perbedaannya kalau dibandingkan dengan Le Grande Voyage. Intinya, meski secara plot bisa dibilang mirip, tapi Mencari Hilal menonjolkan perubahan di luar diri tokoh-tokohnya.

sepuluh-film-indonesia-pilihan-2015_mencari-hilal

(2) Road Movie. Indonesia kekurangan Road Movie. Buat yang belum tahu, Road Movie adalah film yang tokohnya “harus” melakukan perjalanan dari titik A menuju titik B, dan otomatis plot cerita selalu berubah-ubah sesuai setting tempatnya. Ada beberapa film Indonesia yang berjenis ini, antara lain Banyu Biru (Tedi Soeriaatmadja, 2005), 3 Hari Untuk Selamanya (Riri Riza, 2007), atau Punk In Love (Ody C. Harahap, 2009).

Dalam bentuk plotnya, Road movie tidak terbatas pada film yang menunjukkan perjalanan si tokoh dengan mobil saja, sebab yang penting adalah perjalanannya itu sendiri, artinya di sini sudah tidak penting kendaraan apa yang digunakan si tokoh. Film jenis ini biasa digambarkan dengan kalimat: This isn’t about the destination, this is about the journey. Perjalanannya lah yang penting, bukan tujuannya. Lebih jelasnya tentang Road Movie bisa baca post saya yang ini

Nah, salah satu kelebihan road movie adalah… film jenis ini bisa menonjolkan keindahan alam dan budaya di beberapa tempat secara langsung dengan tidak menimbulkan kesan bahwa itu semua hanya tempelan, sebab mau tidak mau ketika kita memotret sebuah perjalanan lewat kamera, budaya daerah itu akan ikut terekam juga.

Film Mencari Hilal setidaknya sudah menambah perbendaharaan judul film Road Movie karya anak bangsa, dan itu bagus sekali!

mencari-hilal_2706_20150726_111600

(3) Film Idul Fitri. Selain Road Movie, Indonesia juga sebenarnya kekurangan film-film bertema Idul Fitri atau bulan Ramadhan. Sedikit mengejutkan bagi sebuah negara yang para penduduknya “katanya” mayoritas memeluk agama Islam. Dari sekian sedikit itu, kita bisa lah mengingat beberapa judul macamRindu Kami PadaMu (Garin Nugroho, 2004), Untuk Rena (Riri Riza, 2005), Mudik (Muchyar Syamas, 2011), atau Seputih Cinta Melati (Ari Sihasale, 2014). Tapi yaaa… masih sedikit lah kalau mengingat ini negara Indonesia, gitu lho!

Pengamat film Ekky Imanjaya pernah berkomentar: Walau banyak film Islami, tapi entah kenapa nyaris tak satupun yang mencoba menangkap momen-momen ritual iniMemang ada film yang secara selintasan ada nuansa Ramadhan … tapi adegannya hanya kurang dari 25 persen dari keseluruhan film dan bukan merupakan jiwa dari cerita

Nah, harapan saya, semoga film mencari Hilal bisa mengisi kekosongan film bertema Ramadhan di Indonesia, sekaligus memicu sineas-sineas lain untuk mengarap tema sejenis.

IMG_20150711_211719-e1437237822725

(4) Indonesia. Nah, yang terakhir… film ini Indonesia banget! Artinya, saya merasa bahwa unsur-unsur konflik di film ini adalah konflik yang sering terjadi di dalm kehidupan bangsa Indonesia. Konflik di film ini bukan lagi sekadar tempelan “biar filmnya rame”, tapi merupakan bagian integral dari cerita, dimana kalau settingnya diubah menjadi negara lain atau (mungkin) agama lain maka konteks ceritanya akan hilang.

Dengan kata lain, kalau kita mau melihat kasus-kasus yang mewakili kehidupan masyarakat Indonesia (terutama kalangan menengah kebawah), salah satu yang bisa kita tonton adalah film ini.

Baiklah, itu dulu empat catatan dari saya. Semoga kedepannya akan bermunculan film-film lain yang bermutu dan bisa memuaskan penonton Indonesia. Amin! []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Prekuel, Sekuel dan Spin Off
Di sebuah blog film  saya membaca tulisan begini: "...maka hadirlah “Terminator Salvation” yang bisa dibilang sebagai sekuel ke-4 ... menyusul “X-Men Origins: Wolverine,” “Star Trek” dan “Ange...
Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)
Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Vid...
Room Mate dan Budaya Kita
Setelah menonton film Room Mate karya sutradara Iran, Mehrdad Farid, saya membuka-buka internet dan menemukan beberapa tulisan yang membahas film ini juga. Tapi mungkin karena film ini tergolong baru ...
Agni, the Loveable...
Sudah lama nggak ngupdate cewek of the week, alasan pertama karena migrasi server, alasan kedua karena lupa terus! Aduh ini otak memang sudah mendekati pikun. Padahal harusnya ini saya update seming...
[Rumah Putih #2] Singkong di Paha Lasmini
Lasmini tersenyum. Dia terus berjalan, seolah tak menyadari puluhan pasang mata yang mengawasinya dari semak dan rerimbun tegalan. Di ujung jalan, langkahnya berhenti, dan sambil membusungkan dada, ...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian,...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

3 thoughts on “Mencari Hilal: Film (yang) Indonesia

  • 22/07/2015 at 14:31
    Permalink

    Oh, jadi road movie, ya? Kok jadi kepikiran untuk bikin road novel, ya 😛

  • 22/07/2015 at 14:33
    Permalink

    Review yg memberi wawasan. Bisa belajar neh ..

  • 22/07/2015 at 22:56
    Permalink

    Jadi, Mencari Hilal teh…?

Leave a Reply

Your email address will not be published.