Tolikara dan Speaker yang Membesar

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita penyerangan jamaah salat Idul Fitri dan pembakaran masjid serta kios-kios di Tolikara, Papua.

Ketika itu terjadi, serentak semua orang bicara. Pakar, non pakar, tua, muda, lelaki, perempuan, semua mengutarakan pendapat dengan caranya masing-masing. Itu tidak masalah, di negara Demokrasi seperti Indonesia semua orang memang sudah seharusnya bebas bicara.

Di Indonesia nggak perlulah sampai terjadi macam Lech Walesa, mantan Presiden Polandia yang ketika masih jadi aktivis buruh sampai bilang rela kerja dengan bayaran semangkuk sup per hari asal diberi kebebasan bicara tentang politik negaranya. Nggak perlulah, karena di sini (harusnya) semua orang bebas bicara.

Dari semua ocehan itu, yang juga banyak dibahas adalah pernyataan wakil Presiden Jusuf Kalla soal Speaker. Lucunya, pak Wapres mengeluarkan dua pernyataan yang berbeda hanya dalam waktu dua hari. Tanggal 17 Juni 2015 CNN Indonesia mengeluarkan headline: Kerusuhan Antaragama di Tolikara Disebabkan Speaker, tapi tanggal 19 Juni di Republika ada headline: Penyerangan Umat Muslim di Tolikara Bukan karena Speaker

Mana yang benar? Ah, sudahlah… pak JK juga pasti punya segala macam penjelasan akan pernyataan-pernyataannya. Tapi, untuk saya pribadi ada hal yang menggelitik ketika membaca kedua pernyataan di atas, yaitu kemungkinan munculnya pergeseran objektivitas persoalan.

Karena sudah bukan rahasia lagi, sejumlah kasus di tengah kita yang bersumber dari perbedaan pendapat atau konflik kepentingan kelompok seringkali bergeser jadi subjektif dan menjadi bagian dari privasi atau harga diri individu. Akhirnya substansi masalahnya pun bergeser. Misalnya: dari urusan “penggusuran tanah” menjadi soal “harga diri”, dari urusan “pemuda senggolan di panggung dangdut” jadi urusan “martabat kampung”, apa nggak mungkin tuh dari urusan “speaker” menjadi urusan “penghinaan agama”? Mungkin banget kan?

Lah gimana nggak mungkin,kasus Tolikara ini urusan agama lho… kalau kata KH Zaenudin MZ sih, “orang yang hidupnya paling nggak taat beragama juga kalau pas agama di KTP-nya dihina, biasanya dia duluan yang ngangkat golok.”

Kembali ke soal speaker, dari pernyataan pak JK saya bisa melihat secara implisit pak JK seolah menyatakan bahwa potensi kerawanan di Tolikara lebih luas dari sekadar urusan speaker. Bahkan tentu saja meskipun semua pihak berusaha menghindar sedemikian rupa, ini endingnya akan nyerempet juga urusan SARA. Kenapa? Karena dengan negara seperti Indoensia yang Bhinneka Tunggal Ika, salah satu potensi konflik yang terbesar justru adalah urusan SARA. Masalahnya, sering terjadi dan kita lihat, pola antisipasi sebagian besar dari kita untuk mengatasi konflik SARA di sebuah daerah seringkali justru investatif pada kemungkinan itu.

Pola penyelesaian yang investatif inilah yang justru membuat terjadinya pergeseran substansi seperti yang saya tulis di atas tadi. Karena ketika sebuah masalah sudah bergeser substasinya, maka orientasi para pelaku konflik bukan lagi bagaimana “Menyelesaikan Masalah Itu” tapi “Rasa Tidak Mau Kalah”. Dan kalau soalnya sudah menajdi KALAH-MENANG maka peluang yang tersedia paling lebar adalah: tampilnya kekuatan. Siapa yang KUAT maka dia MENANG.

Ini sebenarnya yang bikin saya negeri, karena kita semua bisa membayangkan seperti apa arti KALAH-MENANG di tangan kelompok yang siap mati “bunuh diri” demi kepercayaan religius. Seperti apa arti KALAH-MENANG di tangan kelompok yang di tangannya tergengam peralatan militer. Seperti apa arti KALAH-MENANG di tangan kelompok yang tidak terkoordinir dengan baik dan pakai metode brute-force –attack.

Kalau sudah sampai di tahap itu, ini jelas bukan urusan speaker lagi. Bahkan sebenarnya bukan urusan KALAH-MENANG sebuah kelompok, karena di tahap itu, yang KALAH adalah demokrasi, kemanusiaan, kedewasaan, peradaban, dan nilai-nilai nasionalisme bangsa yang kita sudah pelajari sejak Sekolah Dasar.

Lantas sekarang (selain kita semua juga harus nahan diri kalau komentar di sosmed) bagaimana caranya supaya urusan “Speaker” ini tidak jadi “Speaker yang Membesar”?

Satu hal yang saya catat: Tuhan Allah pasti dengan gampang bisa menyelesaikan perkara “rutin” macam begini, kita tinggal minta pada-Nya. Apalagi Dia juga sudah nyuruh-nyuruh “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu”. Terus kan kita tinggal berdoa, iya kan?

Mungkin juga sih…

Tapi kan Tuhan Allah juga sudah mendelegasikan dan mempercayakan pengelolaan tugas-tugas rutin tadi pada manusia. Tuhan Allah sudah bikin itu berbagai macam organisasi dan institusi yang mengurus konflik-konflik seperti ini. Tuhan Allah sudah bikin jabatan-jabatan dan mengangkat orang untuk memegang jabatan itu. Ayo kita sama-sama “gebrak” itu berbagai lembaga dan pejabat, ingatkan mereka untuk tidak mengeser substasi masalah menjadi persoalan pribadi, suruh mereka duduk bareng membicarakan formula-formula untuk menyelesaikannya.

Pasti bisa, karena dari jaman nenek moyang kita masih melaut, bangsa Indonesia… iya, kita semua terkenal sebagai bangsa yang gampang diajak musyawarah, lunak hatinya, luas dadanya, tinggi kesediaannya berkorban demi kesejahteraan bersama.

Lagipula… masa kita tega minta Tuhan turun langsung ngurusin Speaker? Nggak sopan banget! []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Gigi Raffi Kelihatan di TV
Selain teguran KPI terhadap acara kawinan Raffi Ahmad, kemarin katanya Menkominfo sudah “menyatakan prihatin” pada stasiun TV yang menayangkan kelahiran anak Raffi dan Nagita. KPI pun tampaknya sudah ...
Siapa Sih Pemerintah?
Ini cerita waktu saya masih sekitaran kelas 2 SD (serius, saya pernah muda!)… jadi dulu itu tiap kali mau ke sekolah, saya selalu nyegat angkot. Buat yang hidup sejaman dan sekelurahan sama saya, pas...
Di Satu Negeri, Ada Pemimpin yang Suka Selfie
Konon katanya… Julius Cesar, Kaisar Romawi yang terkenal itu punya resep jitu untuk menentramkan rakyatnya, yaitu resep “Roti dan Permainan”. Begini formulanya: Berilah rakyat cukup makanan dan mereka...
Indonesia Sedang Hamil
Setiap kali mengedit film--terutama tipe film non-fiksi--saya selalu merasa diri tambah pintar beberapa strip. Karena biasanya film-film jenis ini melibatkan pakar di bidang tertentu, yang secara prib...
Telolet yang Menyebalkan
Fenomena Telolet yang marak akhir-akhir ini (mendunia lho, sampai ada penyanyi internasional yang katanya mau bikin lagunya) menurut saya sangat menyebalkan, terutama karena fenomena ini menyebabkan b...
Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati
Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1] Ah, semoga ada yang benar-benar melihat b...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Tolikara dan Speaker yang Membesar

  • 20/07/2015 at 21:11
    Permalink

    Saya nggak bisa banyak komentar. Yang jelas akan lebih produktif kita bergerak untuk #SaveMuslimTolikara #SaveMuslimPapua daripada terus menghujat dan berwacana.

Leave a Reply

Your email address will not be published.