Mudiko Ergo Sum

Sebenarnya, apakah “m u d i k” itu? Apa? Mudiko ergo sum, “saya mudik maka saya ada”, begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, yang mudik ke kampung halaman di kaki gunung dengan tas pinggang penuh uang, siap dibagi-bagikan pada sanak famili sampai habis tak bersisa tapi rasa bangga membuncah di dada? Anda scriptwriter sebuah variety-show-tayang-seminggu-sekali-dengan-rating-dan-share-lumayan, yang pulang ke dusun gersang kering kerontang, membagi-bagikan kartu nama lengkap-dengan-profesi-nomor HP-dan-alamat-email ke para tetangga yang tidak pernah menonton acara Anda karena bahkan antena paling tinggi pun tetap gagal menangkap siaran televisi swasta? Anda mantan kembang desa yang mengadu nasib di belantara ibukota bermodal kepolosan dan ijazah SMEA, yang mudik ke desa tertinggal dengan lipstick tebal, kuku kaki di-kutex, dan rambut model mutakhir warna pirang? Anda aktivis mahasiswa, rajin turun ke jalan dan lantang meneriakkan anti kemapanan, yang pulang bersimpuh ke kaki ibunda yang makin renta, yang tak suka anaknya berambut gondrong dan tak kunjung diwisuda?

Sepenggal tulisan dari blog lama itu sering membuat saya berpikir tentang eksistensi (beneran, kalo lagi waras saya mikirnya rumit, dan Ramadhan adalah bulan dimana saya merasa harus berlaku waras). Begini gerakan mikir di otak saya, yang merasa ribet silahkan diskip aja ke paragraf berikutnya:

Sartre berdalil bahwa “eksistensi mendahului esensi,” yaitu segala hal baru dapat dimaknai ketika ia “eksis” atau “ada” terlebih dahulu. Masalahnya, kita ini kan manusia. Manusia itu kan dikasih kemampuan memilih, tapi dalam kehidupan sehari-hari justru kita nemu banyak batasan, salah satu batas tersebut adalah dasar eksistensi ke mana orang-orang “dilemparkan”, Artinya: kita memang dilemparin ke sebuah dunia yang sudah disetting secara sosial lebih dulu sebelum kita ada. Jadi kekebasan kita belum-belum sudah dibatasi oleh kehidupan sosial, dan ketika kita membiarkan diri kita menjadi budak masyarakat, di sinilah kita mengalami sebuah kejatuhan (fallness).

Jadi kita adalah makhluk yang ingin eksis, dan kita diberi kebebasan untuk meng-eksiskan diri kita, tapi masalahnya dalam hidup sehari-hari ada perilaku sosial atau tradisi yang bikin kita mau nggak mau harus ngikut supaya dianggap manusia normal, sama seperti orang kebanyakan.

Untuk fenomena Lebaran, salah satu bentuk perilaku sosial itu adalah “Mudik”, trend ini mungkin belum jadi stiker di kaca belakang angkot aja: “Mau Eksis? Mudik Dong!”, tapi memang Mudik jadi kosakata umum selama seminggu sebelum Lebaran, semua orang membicarakan itu, kalau ada yang nggak membicarakan itu pasti akan ditanya dengan serius “Lu nggak mudik? Kenapa? Masih dianggap anak kan?”

Padahal Lebaran ini banyak juga orang yang tidak bisa mudik, mereka—baik sengaja atau tidak—tidak mengalami fallness,tapi juga dan untuk sementara mereka harus rela dianggap tidak eksis dulu deh, tidak kekinian, tidak mengikuti trend. Salah satu buktinya, coba saja kalau orang ditanya “Mudik nggak?”, dan jawabannya “Mudik.”, maka paling pertanyaan berikutnya adalah”Mudik kemana?”. Masalah selesai!

Tapi kalau jawabannya “Tidak mudik.” maka pertanyaan berikutnya biasanya “Kenapa?”. Pertanyaan kenapa, seolah si non-mudik harus menjelaskan alasan dari perbuatannya, tapi tentu saja harus dijelaskan, karena perbuatan tidak mudik di saat semua orang melakukan mudik adalah sebuah anomali, keanehan, ciri hidup melawan arus, membuktikan diri bahwa mereka yang non-mudik siap untuk sementara tidak eksis dulu karena tidak melakukan seperti yang masyarakat sedang lakukan.

Kesimpulannya: selamat mudik bagi yang mudik, mudiklah untuk sungkem pada orang tua, untuk silaturahmi ke saudara, dan agar kita semua tampak eksis serta kekinian. Lalu tentu saja selamat tidak mudik bagi yang tidak mudik, nikmatilah alienasi itu untuk sementara waktu

Hehe…

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

That's Right, Mr Formichetti!
Hal yang paling saya pelajari dari sosial media adalah: Saya diajari menipu diri. Ini seriusan, sejak awal tahun 2015 intensitas saya menulis status di sosial media menurun drastis, bisa seminggu sek...
Tips Agar Lelaki Mengantri Cintamu
Kemarin sore di tempat kerja ada obrolan-nggak-terlalu-penting antar saya dengan temen kantor, perempuan. Dia cerita bahwa ada temen kampusnya—perempuan juga—yang punya kebiasaan kalo lagi single akan...
Filsafat Itu Seperti Pornografi
Seorang teman menulis status Facebooknya, statusnya tidak penting. Tapi dibawahnya ada 70-an komentar, yang salah satunya cukup mengganggu saya karena isinya: "Makanya jangan belajar filsafat, ka...
Sahabat Museum, Menghangatkan Museum
Bila kita mendengar kata “museum”, biasanya pikiran kita langsung terasosiasi pada sebuah bangunan besar, luas, bernuansa temaram, dingin, dan sepi. Gambaran ini tidak terlalu mengherankan karena pada...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...
Mari Mengobrol Seperti Domino
Berapa lama waktu yang pernah kita habiskan untuk mengobrol dengan seorang kawan? Ingat, hanya seorang, bukan mengobrol dalam grup. Satu jam? Dua jam? Empat jam? Ketika masih kuliah, saya pernah meng...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Mudiko Ergo Sum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *