Perjalanan Waktu di Artistik Grand Budapest

Pagi ini, menonton film The Grand Budapest Hotel (Wes Anderson, 2014) salah satu dari tiga film pemenang Oscar 2015 yang ingin saya tonton selain Birdman (Alejandro G Iñárritu, 2014) dan Whiplash (Damien Chazelle, 2014).

Sejak pertama kali sadar bahwa film ini menyabet tiga Oscar dalam departemen artistik (Best Makeup and Hair, Best Costume Design, Best Production Design, tambah satu Best Original Score, hasil kerja departemen musik) saya penasaran akan bentuk visual Grand Budapest. Saya pikir, artistik film ini harus sangat-sangat-sangat-sangat bagus

Kenapa? karena sangat jarang ada film bisa “menyapu” award departemen artistik sedemikian rupa. Jarang bukan berarti tidak ada kan? Kita tahu film The Lord of the Rings (2003), Titanic (1997), dan Ben Hur (1959) juga pernah juga melakukan sapu bersih. Tapi kasus itu kan jarang… bahkan Les Misérables (yang artistiknya mantep abis itu!) di Academy Award 2012 mendapat kategori Best Makeup and Hairstyling, sementara untuk kategori Best Costume Design cuma masuk nominasi dan harus merelakan diambil Anna Karenina, tapi sebaliknya si film Anna Karenina itu sendiri pun ternyata cuma masuk nominasi Best Production Design dan harus rela menyerahkan pialanya pada film Lincoln.

Artinya, ngeborong piala Departemen Artistik itu susah banget… tapi film ini bisa!

Nah sekarang, setelah menontonnya saya tahu kenapa film ini bisa memborong tiga piala, karena selain karena konsep visualnya sangat matang. Warna dan dekorasi di Grand Budhapest Hotel ternyata tidak hanya berfungsi sebagai penguatan karakter atau atmosfir cerita, tapi juga hadir sebagai “cerita” itu sendiri.

Lebih jauh lagi, ternyata film ini hadir bisa dengan tiga jenis Aspect Rasio: 1.33, 1.85, and 2.35:1… (Kalau yang teliti menontonnya pasti sadar bahwa ukuran layar film ini cenderung berubah-ubah). Nah, ketika saya teliti, ternyata perubahan itu memang disesuaikan dengan setting cerita.

Misalnya, ketika sedang menceritakan era 1930-an, maka gambar muncul dengan format 1.33 yang memang merupakan format tradisional televisi yang muncul tahun 1932. Lalu ketika setingnya tahun 1950 maka rasio gambar pun berubah menjadi 1.85 karena memang format gambar tersebut pertama kali digunakan oleh Universal Pictures tahun 1953. Nah, terakhir ketika setting waktunya “masa kini” maka rasio gambar pun berubah jadi 2.35:1, sebagaimana rasio gambar film yang kita kenal sekarang

well… saya baru sadar, ternyata sebuah gambar bisa bercerita “lebih dari cerita yang sebenarnya”

…jadi, selamat berpikir ulang tentang arti Cinema [] aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor
Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, ...
Superhero Indonesia Go Internasional
Sepanjang tahun 2010-2011, bioskop kita banyak diserbu sama film-film superhero!  misalnya saja Kickass (Matthew Vaughn, 2010), Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), Jonah Hex (Jimmy Hayward, 2010), The Gre...
Prekuel, Sekuel dan Spin Off
Di sebuah blog film  saya membaca tulisan begini: "...maka hadirlah “Terminator Salvation” yang bisa dibilang sebagai sekuel ke-4 ... menyusul “X-Men Origins: Wolverine,” “Star Trek” dan “Ange...
2012: Indonesia Perlu New Wave Lagi
Sebenarnya, new wave adalah sebuah istilah ciptaan media sebagai sebutan pada sebuah kegiatan pembaharuan dunia perfilman di suatu negara. Ciri-cirinya sama yaitu pertama, selama beberapa tahun perfi...
Olivia Lubis, si Anak Baik
Baiklah, setelah beberapa episode gue menampilkan aktris luar, sekarang waktunya kembali ke artis Indonesia. Dan yang jadi “korban” kali ini adalah Olivia Lubis Jensen. Menurut data di Wikipedia, dia...
Tomorrow I Will Date With Yesterday's You
Sudah lama saya merasa tidak ingin menulis tentang film. Sejak memutuskan untuk pensiun dari dunia film dan konsen di dunia menulis, intensitas saya menonton film menurun drastis. Apalagi memang dulu ...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *