Pengalaman Baru: Ngisi Materi OPS

Kemaren kan saya posting tulisan soal kena cacar air, nah sebenarnya pas banget lagi demam-demamnya (tapi si cacar belum keluar, tepat banget sehari sebelum bintil pertama muncul di muka) saya dapat undangan ngisi sebuah Orientasi Program Studi yang diadakan oleh Educare, Divisi Pendidikan dari Perkumpulan Islam Paramartha (sorry kalo salah, ini hasil baca di piagam aja).

Heu, untungnya acara itu diadakan di Bandung. Nggak kebayang deh kalo ke luar kota bakal kaya apa nasib badan. Lalu bukannya saya jahat ke panitia dan peserta, tapi memang saya ga kasih tahu ke mereka kalo saya sakit cacar karena saya sendiri ga tahu ini gejala cacar. Yang ada di pikiran saya sih demamnya gara-gara flu dan masuk angin biasa, kebetulan memang beberapa hari sebelumnya sempat hujan-hujanan. (Jadi maafin ya kalau ada panitia atau peserta yang balik dari Bandung ketularan cacar, sumpah saya juga ga tahu sakit apa waktu itu. Kalau tahu sih mungkin saya tolak aja. Takut nularin orang)

Menurut press release resmi dari panitia, acara Orientasi Program Studi ini bertujuan untuk memberikan wawasan keilmuan tentang jurusan-jurusan baik di SMA maupun Perguruan Tinggi. Diharapkan dengan memiliki wawasan yang cukup, putra-putri kita dapat memilih jurusan yang tepat, sesuai dengan minat dan bakat mereka. Selain itu kegiatan OPS ini juga dapat menjadi salah satu sarana penggalian dan eksplorasi anak terhadap minatnya.(teknis banget yak?)

Lalu… terus terang saya sependapat dengan mbak Tari—salah satu panitia, yang bawain saya snack dan makan siang (cieee), dan yang sudah mempromosikan status single seorang kenalan (hihi, next time maybe)—dimana dia bilang “I wish dulu sebelum sy pilih jurusan sy dapat penjelasan seperti ini”… bener banget mbak, sebagai bagian dari generasi yang muncul di era 80-an (saya 80 akhir, mbak Tari 80 awal, ehm…) kita merasakan betapa terstrukturnya sistem pendidikan Indonesia. Pokoknya UMPTN harga mati! Dulu mana kepikiran ada orang swasta bikin acara beginian? Ada sih pasti… tapi jarang.

Meski saya tidak pernah benar-benar menganggap saya tersesat jurusan (kuliah informatika tapi bikin film dan nulis novel itu tersesatnya sebelah mana coba?), tapi panduan-panduan seperti ini tentu akan ada gunanya, minimal saat remaja kita bisa meraba bakat kita dimana, sekolahnya harus kemana, jalurnya mesti ambil apa? Dan seterusnya…

Saya sendiri hadir di acara itu sebagai pembimbing dari anak-anak yang tertarik di dunia sinematografi, peserta kelas saya enam orang, tiga anak SMP, tiga anak SMA. Menyenangkan sih ketemu anak-anak muda begini, jadi berasa ikutan muda, sekalian saya jadi tahu sejauh apa sih pengetahuan remaja sekarang soal film? Hasilnya setelah ngobrol-ngobrol: yaaa… mungkin karena pergaulan juga—dan beberapa dari mereka pernah ngerasain bikin film—jadinya obrolan kita cukup nyambung. Kebanyakan dari mereka sudah tahu perkara teknis sederhana, memang sebenarnya mereka tuh tinggal diarahkan saja ke jalur yang benar, ditunjukin harus sekolah di sini atau di sana.

Soal ini nanti saya akan bahas di tulisan lain, saya cuma berharap acara begini bisa rutin diadakan lah… karena tentu saja banyak gunanya, minimal mengurangi kemungkinan generasi muda yang tersesat jurusan… dan harapan pribadi lainnya: semoga saja kemaren saya ga salah kasih jalan ke enam anak itu, hehe… []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Kala Subuh: Teringat Sahabat Lama.
Masih sama, seperti beratus-ratus subuh sebelumnya, membuka laptop, menekuni lagi tulisan yang tidak kumengerti... Teringat: "It's a big thing for me!" kalimat itu meluncur berulang-ulang ...
Ini Curhatan Soal Fokus…
Apa yang bisa seorang penulis lakukan jika tiba-tiba nerima pesan dari seseorang yang bilang begini: “aku tunggu novel komedi brikutnya, haha… aku tunggu, aku beli kok kalau dah jd novel” Well...
Filsafat Itu Seperti Pornografi
Seorang teman menulis status Facebooknya, statusnya tidak penting. Tapi dibawahnya ada 70-an komentar, yang salah satunya cukup mengganggu saya karena isinya: "Makanya jangan belajar filsafat, ka...
Jangan Tarik Saya Dulu
Ada saatnya kita ingin membuka lembaran baru, dan terkadang itu mengharuskan kita melepaskan tumpukan sampah masa lalu. Saya mulai paham soal itu sejak sebulan yang lalu. Tepatnya sejak saya menginjak...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...
Jangan Percaya "Kata Para Ahli"
Beberapa hari yang lalu, saya mengalami sebuah “insiden” kecil di grup whatsapp yang saya ikuti. Penyebabnya sederhana, ada rekan yang men-share sebuah berita tentang pentingnya shalat tepat waktu. In...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.