That’s Right, Mr Formichetti!

Hal yang paling saya pelajari dari sosial media adalah: Saya diajari menipu diri.

Ini seriusan, sejak awal tahun 2015 intensitas saya menulis status di sosial media menurun drastis, bisa seminggu sekali juga sudah untung. Kenapa? Karena tidak ada yang bisa dilakukan di sana kecuali menunjukkan hal-hal positif saja… sudah tidak ada ruang untuk berekspresi negatif, misalnya menyatakan ketidaksukaan pada pada satu tokoh, buku, film, selebriti, atau apalah… Okelah beberapa orang berpikir bahwa kita harus menyebarkan hal-hal yang baik saja karena kelak tulisan kita akan meninggalkan jejak… tapi kalau begitu sih saya pikir, silahkan saja baca kitab suci, karena pastinya cuma itu satu-satunya benda yang isinya tulisan tentang hal-hal baik.

Akhirnya saya merasa tidak bebas lagi, menulis sedikit miring lantas pasti selalu muncul komentar negatif yang mengarah pada pribadi, dan biasanya saat saya membaca komentar-komentar negatif yang masuk, saya jadi sedikit terganggu. Opsinya cuma tiga: hapus postingan, unfriend, atau dibiarkan saja dengan asumsi yang suka sama postingan kita lebih banyak dari yang tidak suka.

Tapi lantas saya berpikir: apakah di sosial media saya hanya harus menulis sesuatu yang bagus-bagus saja? Terus kalau saya mau mengkritik atau menyampaikan sisi negatif gimana? Lebih jauh lagi saya berpikir, kenapa sih kita harus menulis sesuatu yang sesuai keinginan orang lain di beranda kita sendiri? Kenapa mereka begitu ingin kita “mengikuti” pakem mereka saat menyampaikan pendapat sehingga mencela kita yang menulis sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka?

Sekarang saya yakin, di jaman sekarang sangat sulit menulis sesuatu di media sosial tanpa otomatis dimasukkan ke dalam kelompok tertentu, atau dilabeli sebagai karakter tertentu. Ini jelas banget persis seperti yang dibilang sama Nicola Formichetti:

“The dark side of social media is that, within seconds, anything can be blown out of proportion and taken out of context. And it’s very difficult not to get swept up in it all.”

Begitulah… menyebalkan, tapi ya, begitulah…

aa

aa

Share This:

Related posts:

Mudiko Ergo Sum
Sebenarnya, apakah "m u d i k" itu? Apa? Mudiko ergo sum, "saya mudik maka saya ada", begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, ya...
Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Sahabat Museum, Menghangatkan Museum
Bila kita mendengar kata “museum”, biasanya pikiran kita langsung terasosiasi pada sebuah bangunan besar, luas, bernuansa temaram, dingin, dan sepi. Gambaran ini tidak terlalu mengherankan karena pada...
Pelajaran Dari Kaki Seribu
Di rumah kontrakan saya sering sekali muncul kaki seribu—masih diperdebatkan, karena ada teman saya yang bersikeras bilang kalau itu namanya ulat gonggo, apapun… I’m a simple man: hewan itu melata dan...
Pemaksaan Perspektif
Betapa sering kita memaksakan perspektif kepada orang lain? Seolah kita bisa memetakan detail yang mereka hadapi dan memberi komentar seolah kita adalah orang yang paling mengerti situasi. Hingga pada...
Mari Mengobrol Seperti Domino
Berapa lama waktu yang pernah kita habiskan untuk mengobrol dengan seorang kawan? Ingat, hanya seorang, bukan mengobrol dalam grup. Satu jam? Dua jam? Empat jam? Ketika masih kuliah, saya pernah meng...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.