Goodbye Dragon Inn

Bulan Desember ini saya memang sudah rencana untuk menonton film-film dengan ritme yang lambat. Tidak ada alasan khusus. Euh… ada sih… yaitu untuk lebih menghayati kesendirian, kesepian, dan kerinduan yang lagi berputar-putar di kepala (tsaaaaahhh!!). Yah, soalnya nggak tahu kenapa… film dengan ritme lambat biasanya penuh dengan tokoh utama yang “lonely” dan bahkan hidupnya sedikit putus asa. Saya merasa enjoy (atau terwakili) aja sih ngeliat perjuangan karakter-karakter tadi melalui semua perasaan-perasaan kesepiannya.

Jadi karena itulah sampai tanggal 20-an ini saya sudah nonton: Lost in Translation (Sofia Coppola, 2003), Round Midnight (Bertrand Tavernier, 1986), The Conversation (Francis Ford Coppola, 1974), Her (Spike Jonze, 2013), dan Mr Nobody (Jaco Van Dormael, 2009).

Itu belum semua, di harddisk masih nyisa Paris Texas (Wim Wenders, 1984) dan Satantango (Béla Tarr, 1994) yang belum ditonton. (Emh, khusus untuk Satantango rasanya perlu persiapan khusus nih karena durasi filmnya saja 450 menit… yap, nggak salah baca kok… Beneran durasinya 7,5 jam!)

Tapi dari semuanya, ada satu yang paling menarik perhatian. Yaitu Goodbye Dragon Inn (Tsai Ming-liang, 2004). Ini mungkin satu-satunya film Asia yang masuk list nonton bulan Desember, tapi justru yang penyajian dan temanya paling unik.

Bayangkan, seting satu tempat di sebuah gedung bioskop tua (TUA means everything, right?), durasi 82 menit, dengan total dialog hanya sekitar 10-12 kalimat… dan seolah masih kurang, dialog pertama baru diletakkan oleh sutradaranya di menit ke 40!

Sepanjang alur cerita kita disuguhi tokoh-tokoh yang jelas sedang kesepian, atau setidaknya: menikmati kesepian. Ditambah dengan nuansa kesedihan yang kental, perasaan teralienasi, muram dan sepi. Ada perempuan penjaga tiket yang pincang berkeliling mencari projectionist, seorang turis Jepang gay, seorang kakek yang nonton bersama cucunya yang masih balita, ada aktor tua yang menonton filmnya sendiri di layar sambil matanya berkaca-kaca. Mereka semua menonton di hari terakhir pertunjukan terakhir, karena besok bioskop itu akan ditutup.

Goodbye Dragon Inn, bukan hanya bercerita tentang kesepian tokoh-tokohnya, tapi kesepian gedung bioskop itu sendiri sebagai sebuah benda. Jadi jika dalam Janji Joni (Joko Anwar, 2005) dan Cinema Paradiso (Giuseppe Tornatore, 1988) posisi bioskop sedang “dirayakan”, maka dalam Goodbye Dragon Inn muncul tema sebaliknya: KEMATIAN SINEMA.

…terakhir, saat menonton film ini, saya jadi berpikir jangan-jangan memang benar kata François Truffaut, sutradara Prancis: “Movie lovers are sick people.”

well… aren’t we all?

===============================
Goodbye Dragon Inn memenangkan Best Supporting Actress dan Special Jury Award di Asia-Pacific Film Festival 2003, Best Feature di Chicago International Film Festival 2003, Best Editing dan Best Taiwanese Film of the Year di Golden Horse Film Festival 2003, Special Jury Award di Hawaii International Film Festival 2003, Award of the City of Nantes dan Young Audience Award di Nantes Three Continents Festival 2003, FIPRESCI Prize di Venice Film Festival 2003, dan Golden Tulip di Istanbul International Film Festival 2004.

WEW!

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

School of Rock vs Garasi (Aspek-Aspek Film Beginian!)
Mungkin kata "beginian" di judul rasanya malah abstrak ya? tapi maksud saya adalah film yang, "beginian"... hehe, ummm... Duh gimana ngejelasinnya ya? Pokoknya kata "beginian&...
Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)
Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Vid...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian,...
Film Fantasi dan Fiksi Ilmiah Indonesia: Adakah?
Pertanyaan di atas mungkin sulit dijawab. Di Indonesia, genre film fantasi dan fiksi ilmiah kalah populer dibandingkan drama percintaan dan tema horor-mistik. Mungkin lantaran biaya produksi film fant...
Soal Musik dan Bayaran
Kemarin saya nonton film Bean (Mel Smith, 1997) di TV. Kalau ada yang pernah nonton film ini, tentu ingat scene ketika Mr Bean dan David Langley pulang jalan kaki sambil mabok. Disana mereka nyanyi (d...
Chef: Hidup Kita di Tangan Kita
Saya baru selesai nonton film Chef (Jon Favreau, 2014), inti ceritanya soal seorang juru masak profesional di sebuah restoran ternama yang mengalami konflik hebat dengan seorang kritikus makanan—dan t...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.