Pesan Idul Adha yang Sebenarnya

Saya punya khatib favorit tiap kali Jumatan di masjid deket rumah, konyolnya sampai sekarang saya ga tahu namanya, hehe (ketahuan datengnya suka telat jadi ngelewatin pembacaan info-info masjid!)

Kenapa saya suka sama bapak yang satu itu? Apakah karena dia ganteng? Karena gaya dia di mimbar dia beda banget dari khatib lainnya, ceramah dia selalu selalu singkat, padat, tapi sekaligus jleb banget!

Beneran, ceramah dia itu paling lama 15 menit, dan sudah kebuktian—kecuali yang dari awal memang niatnya tidur—asal kita tahan dengerin dia 5 menit pertama aja, pasti kesananya akan kena efek jleb, dan ngantuk pun bisa jadi hilang!

Saya aware sama bapak ini waktu dalam suatu khutbah dia bisa menjelaskan bedanya sunni dan syiah dengan sangat ringkas, jelas, padat, efisien, dan pake bahasa gampang. Padahal dulu saya sering mikir kalau urusan beginian harusnya penjelasannya ribet dan penuh lika-liku. Ternyata nggak juga. Itu artinya bapak ini paham banget dengan topik yang dia bicarakan. Karena cuma orang yang paham akan suatu ilmu yang bisa menjelaskannya dengan bahasa mudah.

Nah, hari ini dia ngasih khutbah soal Idul Adha. Saya mau share disini apa yang dia omongin, tapi cukup inti-intinya saja tanpa ngomongin ayat atau hadist ya. Karena si bapak khatib itu juga nggak pernah ngumbar ayat banyak-banyak, paling satu ayat dan satu hadist, udah selesai.

Jadi kalau ngomongin Idul Adha, kita kudu lihat dulu kisah awalnya—kisah yang terus diulang kapanpun Idul Adha datang—ketika Nabi Ibrahim disuruh sama Tuhan buat nyembelih anaknya, Nabi Ismail. Oke, memang sih pada hari penyembelihan ternyata Nabi Ismail diganti sama domba—Tentunya sambil turun perintah untuk menyembelih domba tadi, sebab kalau Tuhan nggak ngasih revisi perintah, pasti orang yang levelnya Nabi Ibrahim bakal nyuekin si domba, dianggapnya domba itu cuma godaan—Tapi di balik itu kita mesti tandain keikhlasan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Tuhan.

Bahkan—ini pendapat pribadi—saya sih yakin banget, kalaupun seandainya perintah itu nggak direvisi, nggak ngaruh tuh buat Nabi Ibrahim. Level keikhlasan dan kepasrahannya akan akan tetap sama. Disuruh nyembelih anak ya hayu ajah, disuruh ganti sama domba ya boleh-boleh saja. Pokoknya terserah Tuhan deh. Gitu mungkin bahasa anak gaulnya.

Keikhlasan Nabi Ibrahim terbukti dari fakta bahwa nggak sekalipun beliau minta keringanan. Seolah beliau mau bilang “Berat banget sih, anak satu-satunya, boleh pengen sejak lama, ganteng dan shaleh juga… tapi ya sudah kalau Tuhan yang suruh sih nggak apa-apa.”

Nah ini yang harusnya jadi inti dari Idul Adha, bukan kurbannya, karena urusan kurban sebenarnya diserahkan kepada yang mampu saja ekonominya. Tapi masa sih ada ibadah yang cuma buat orang kaya saja? keenakan mereka dong? Jadi sebenarnya ada satu hal yang jadi inti dari Idul Adha, sebuah pesan penting yang nyaris kita lupakan, padahal hal ini bisa dikerjakan oleh seluruh umat manusia tanpa pertimbangan duit, yaitu:

Sudah seberapa mampu kita menjalankan perintah Tuhan tanpa banyak nawar?

Nabi Ibrahim sudah mencontohkan itu, keikhlasan beliau menjalankan sebuah perintah Tuhan yang nyaris mustahil harusnya jadi cermin buat kita. Seberapa percaya kita sama keberadaan Tuhan? Seberapa sanggup kita ngikutin perintah Tuhan tanpa banyak nanya dan minta-minta keringanan?

Yuk kita tanya diri masing-masing…

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Ketika Aku dan Dia Menjelma Diam
FADE IN Sore... maghrib... senja (aku tak mengerti lagi sebutannya). Tiga kali film Jermal ini diputar di ruangan ini, ruangan kayu... aku mendengarnya lewat udara. Ketika itu, ada dia, bernyanyi kac...
That's Right, Mr Formichetti!
Hal yang paling saya pelajari dari sosial media adalah: Saya diajari menipu diri. Ini seriusan, sejak awal tahun 2015 intensitas saya menulis status di sosial media menurun drastis, bisa seminggu sek...
Ini Curhatan Soal Fokus…
Apa yang bisa seorang penulis lakukan jika tiba-tiba nerima pesan dari seseorang yang bilang begini: “aku tunggu novel komedi brikutnya, haha… aku tunggu, aku beli kok kalau dah jd novel” Well...
Impaksi 02: Operasi di RSGM
Di postingan sebelumnya, saya cerita bahwa untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gara-gara impaksi gigi geraham bungsu. Operasi pertama saya lakukan tahun 2015, dan operasi kedua sekitar semingguan...
Nenek Bebek Berkata...
Only boring people get bored! Itu yang nenek bebek pernah katakan, menyebalkan sekali. Perasaan bosan membuat berat semuanya, padahal pekerjaan yang menumpuk (apalagi mengerjakan hobi) harusnya bisa m...
Perpisahan Perlahan atau Perpisahan yang Direncanakan?
Pagi ini, matahari batal terbit. Gerimis dan mendung kelabu mendera waktu sejak saat fajar harusnya ada. Saya merenung memandangi jendela yang berembun, tak tahu apa yang harus dikerjakan. Mendadak te...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.