Bekerja Untuk Saxophone

Beberapa orang mengenal saya sebagai novelis, beberapa mengenal saya sebagai editor film, kadang sering disebut juga sutradara film, dan beberapa orang yang lain mengenal saya sebagai peniup harmonika.

Ya, benar sekali, saya mengenal harmonika sejak SD kelas 2, dan sejak saat itu saya sudah berlatih meniupnya. Harmonika yang saya mainkan adalah jenis tremolo 40 hole, karena entah kenapa mulut dan tenggorokan saya tidak pernah akur ketika meniup harmonika diatonic, serta saya terlalu malas untuk menghapalkan scale sebagai dasar bermain harmonika cromatic

Meskipun begitu, hanya sedikit orang yang tahu bahwa saya sebenarnya sangat terobsesi untuk memainkan saxophone. Buat saya, saxophone itu… sexy, dan saya cukup menyesal tidak mengenal benda itu dari kecil.

Andaikan saat SD saya sudah tahu benda bernama saxophone, mungkin saya masih bisa bisa minta ke ibu. Apalagi di kisaran tahun 90-an mungkin harganya masih murah. Tapi masa SD terlalu banyak saya habiskan bermain alat musik tradisional macam kecapi atau seruling, sementara harmonika merupakan sebentuk pelarian saya akan jenuhnya saya di alat musik tradisional (saya masih SD lho!).

Sekarang, saya mendapati saxophone yang sexy itu ada di kisaran 5-7 juta untuk yang paling murah. Dengan profesi saya sekarang, mengumpulkan uang sebanyak itu sebenarnya agak sulit. Apalagi jujur saja, andaikan saya menghabiskan uang 5 juta untuk saxophone, saya tidak yakin akan bisa “balik modal” dengan cepat. Antara lain: karena saya bukan musisi dan bukan orang yang mendapat uang dari musik. Saya hanya ingin memiliki, belajar, serta memainkan saxophone

Nah, kebetulan… saya punya kebiasaan “buruk”, kadang saya memperbolehkan orang meng-hire saya untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu dengan bayaran berbentuk barang. Second atau bekas dia pakai pun tak apa, asal casingnya masih mulus dan barang itu masih bisa berfungsi dengan baik

Kontrak seperti ini biasanya terjadi ketika: (1) saya memerlukan sebuah barang namun tidak yakin akan bisa mendapatnya dalam waktu cepat, (2) atau saya melihat bahwa orang yang meng-hire saya tidak punya banyak uang, sementara saya ingin tetap dibayar dengan wajar, maka biasanya saya akan meminta barang yang harganya kurang lebih sama dengan tarif pekerjaan itu.

Dengan kebiasaan seperti itu, saya sudah pernah mendapat: eksternal HDD, satu set novel trilogi, Blackberry, bahkan sampai sebuah Baby Gym (ya betul, Baby Gym!). Namun sayang, sampai sekarang saya belum pernah mendapat tawaran kerja yang bersedia membayar saya dengan sebuah saxophone, padahal saya menantikan itu. Tidak usah saxophone baru, bekas pakai pun, bahkan bekas pakai mulut dia pun tak masalah, yang penting saxophone.

Hmm, saya sih berharap antara saxophone alto atau tenor… tapi ya… Kalau ada yang ngasih garatisan juga nggak akan nolak 😀

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

That's Right, Mr Formichetti!
Hal yang paling saya pelajari dari sosial media adalah: Saya diajari menipu diri. Ini seriusan, sejak awal tahun 2015 intensitas saya menulis status di sosial media menurun drastis, bisa seminggu sek...
Kapan Tanda Tangan Pertama Kita?
Hari ini saya mau ngomongin soal tanda tangan. Halaahh… ada apa toh soal tanda tangan? Soalnya akhir-akhir ini berita-berita dan para pelaku sosmed lagi rame ngomongin soal tanda tangan, nggak tahu de...
Setelah Enam Tahun
Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya. Lho, selesai ditulis tah...
Pelajaran Dari Kaki Seribu
Di rumah kontrakan saya sering sekali muncul kaki seribu—masih diperdebatkan, karena ada teman saya yang bersikeras bilang kalau itu namanya ulat gonggo, apapun… I’m a simple man: hewan itu melata dan...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...
Perpisahan Perlahan atau Perpisahan yang Direncanakan?
Pagi ini, matahari batal terbit. Gerimis dan mendung kelabu mendera waktu sejak saat fajar harusnya ada. Saya merenung memandangi jendela yang berembun, tak tahu apa yang harus dikerjakan. Mendadak te...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.