Jangan Kasihan Ke Norman Kamaru

Sekarang lagi rame nih berita soal Norman Kamaru jualan bubur Manado. Awalnya saya baca itu di jabarsatu, lalu saya googling dan ternyata cukup banyak tuh portal media online yang mengangkat cerita serupa (dan tentu saja copy paste, sampai saya ga tahu deh mana berita yang aslinya).

Sebenarnya, dari awal dia masuk dunia entertaiment saya sudah menebak bahwa karirnya nggak bakalan lama, antara lain karena dia nggak punya modal untuk bertahan disana. Apa? Akting? Nyanyi? Ganteng? Untuk tiga hal itu saja kita bisa sebut orang-orang yang—meski mungkin masuk acara nggak bermutu—tapi punya kemampuan di atas dia.

Terus soal joget? Caisar masih lebih unggul dari Norman karena dia bisa menyebar virus goyang “dengan-nama-tertentu”, jadi dia punya ciri khas yang dia jual tiap malam sampe gempor di YKS. Nah, kalau Norman bisa nyebar virus “Goyang Norman”, atau “Goyang Brimob” mungkin beda ceritanya.

Satu lagi yang saya catat, dalam sebuah wawancara Norman jelas mengatakan bahwa dia menyesal keluar dari kepolisian. Di point itu dia benar, karena begitu dia keluar dari kepolisian berarti dia justru melepas satu unsur penting dalam ketenarannya. Maksud saya begini: selama ini Norman dikenal sebagai Polisi Joget. Perhatikan, dua kata itu tampak unik kan? Tapi ketika dia melepas atribut Polisi, yang tersisa cuma kata Joget, dan untuk urusan joget jelas buuuaaaanyak banget yang bisa ngalahin dia. Baik dari segi keunikan, apalagi ketenaran. Dari titik itu saja karir Norman sebenarnya sudah habis.

Lalu sekarang kita lihat kenyataan dia jualan bubur, apakah lantas kita harus kasihan padanya? Saya kira tidak, orang yang menyatakan “kasihan” pada Norman itu secara tidak sadar menganggap bahwa Norman mengalami sesuatu yang saya bilang sebagai: penurunan-roda-nasib, seolah ada anggapan bahwa jadi artis itu lebih mantap daripada jualan bubur.

Padahal menurut saya tidak, justru sekarang Norman sedang mengalami fase paling “jelas” dalam kehidupannya, yaitu menjadi pemilik bisnis. Iya kan? Ketimbang jadi entertainer yang nggak jelas mau nawarin apa ke publik (nyanyi nggak, joged nggak, akting nggak), mending jadi enterpreuneur yang jelas barang dagangannya (Bubur Manado, titik!).

Memang kesannya ini kecil, bahkan pas diwawancara Norman juga tidak mengangkat bisnisnya sampai gimana gitu, dia cuma bilang “Lumayan lah hasilnya buat menyambung hidup.” Tapi saya yakin lah, asal dia kuat, asal istrinya sabar, masa sih nggak ada jalan?

Sekali lagi saya tekankan, ini justru fase yang paling jelas dalam hidup Norman (setelah Brimob tentunya), saya malah suka dia tidak memilih untuk jadi karyawan, tapi membangun kerajaan bisnisnya sendiri.

Well, sekarang dia jualan bubur, kita tunggu ceritanya sampai dia naik haji! []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Foto Anak Berdarah Lagi?
Baru sepuluh menit yang lalu saya melihat gambar anak kecil dengan usus terburai. Maka saya memantapkan hati meski tahu saya beresiko dihujat, tapi saya harus menulis ini: "Stop spreading photos...
Preman Pensiun dan HP
Pertama kali saya tahu ada serial Preman Pensiun itu langsung dari mas Didi Petet. Waktu itu dia lagi ngisi acara Master Class dimana saya jadi panitianya. Dia nyebut judul itu sambil bilang “nonton y...
Tolikara dan Speaker yang Membesar
Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita penyerangan jamaah salat Idul Fitri dan pembakaran masjid serta kios-kios di Tolikara, Papua. Ketika itu terjadi, serentak semua orang bicara. Pakar, non...
Di Satu Negeri, Ada Pemimpin yang Suka Selfie
Konon katanya… Julius Cesar, Kaisar Romawi yang terkenal itu punya resep jitu untuk menentramkan rakyatnya, yaitu resep “Roti dan Permainan”. Begini formulanya: Berilah rakyat cukup makanan dan mereka...
Dimas Kanjeng dan Kepo Maksimal
Entah bagaimana ceritanya, kemarin malam saya “kepeleset” menonton rekaman ILC di Youtube yang episode membahas Padepokan Dimas Kanjeng. Kepelset artinya, saya tidak sengaja mengakses rekaman itu, soa...
Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati
Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1] Ah, semoga ada yang benar-benar melihat b...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

9 thoughts on “Jangan Kasihan Ke Norman Kamaru

  • 10/09/2014 at 08:53
    Permalink

    Usahanya untuk mau wirausaha sendiri justru patut dihargai. Saya malah salut. Saya suka bubuk ayam juga soalnya he he he

  • 10/09/2014 at 09:26
    Permalink

    bubur manado sama bubur ayam bedanya apa sih mbak?

  • 10/09/2014 at 17:34
    Permalink

    Sopo ngerti bubur’e enak dan jadi terkenal…. malah luwih akeh duite dan luwih mberkahi.. hoo to man? Norman..?

  • 11/09/2014 at 07:38
    Permalink

    subhanallah…. ada artis komen disini, hatur nuhun pisan mas Agus 😀

  • 11/09/2014 at 07:38
    Permalink

    itu dari tabungan dia ngartis mbak

  • 11/09/2014 at 08:16
    Permalink

    Justru menurutku norman sudah menjadi bos,,krn dia sudah mempunyai usaha dan tak ada aturan yg mengikatnya,,,semoga semuanya barokah,,,

  • 11/09/2014 at 09:04
    Permalink

    Betul mbak, dia sudah jadi boss… iya aamiin semoga semuanya lancar

Leave a Reply

Your email address will not be published.