Kenapa Saya Tidak Merokok?

creative-antismoking-ads-thumb640

Sejak dipimpin oleh pak Ridwan Kamil, kota Bandung punya tema harian yang berkaitan dengan budaya masyarakat atau tata aturan hidup masyarakat, misalnya hari Kamis dibudayakan memakai bahasa Inggris, atau hari Rabu itu jadwalnya pakai iket kepala khas Sunda. Sementara itu setiap hari Selasa adalah jadwal kampanye bebas rokok dengan hastag #SelasaTanpaRokok.

Buat saya, tema hari Selasa ini tidak ngaruh apa-apa. Soalnya karena saya dari lahir nggak merokok, maka jelas “temanya” adalah: setiap hari tanpa rokok. Tapi itu kan buat saya doang, buat teman-teman yang merokok mungkin tema Selasa ini ada pengaruhnya.

Nah, saya pun sering bertanya (nanya beneran, bukan ngejek) pada teman-teman yang merokok, “Apa sih enaknya?” dan mereka semua punya jawaban yang membenarkan perilaku itu. Ya sudah, itu urusan mereka (saya juga nggak protes), tapi anehnya… mereka tidak pernah bertanya balik: kenapa kamu tidak merokok.

Ya karena mereka tidak pernah bertanya, maka sekarang saya mau tulis alasan-alasan saya tidak merokok. Siapa tahu satu saat mereka nanya, jadi saya tinggal nyuruh mereka lihat blog ini (sekalian nambahin pengunjung, hehe…) dan ini alasan saya:
aaa

  1. Karena Tidak Merokok Itu Bagus. Bukan saya yang ngomong, tapi para perokok itu sendiri, eh beneran! Misalnya begini, satu saat saya lagi ngumpul sama temen, terus mereka nawarin rokok (biasa lah saling share diantara perokok). Tentu saya tolak sambil bilang, “Saya nggak ngerokok.”, itu anehnya 80% kemungkinan mereka akan merespon dengan “Oh nggak? Bagus, bagus!”. Lah, berarti mereka tahu dong nggak merokok itu bagus? (atau janganjangan mereka bilang bagus itu karena berarti jatah rokok mereka nggak saya ambil? Bisa jadi sih…)

  2. Karena Saya Suka Jadi Mayoritas. Menurut penelitian terakhir, jumlah perokok dunia sampai 1 miliar orang, banyak? Nggak juga sih apalagi kalau dibanding jumlah penduduk dunia secara keseluruhan. Sementara untuk Indonesia sendiri jumlahnya “cuma” 65 juta orang, atau kisaran 28% penduduk. Artinya dari 4 orang Indonesia, “cuma” terdapat seorang perokok. Hmm, berarti banyak yang nggak merokok dong? Ya sudah… saya ikut yang banyak aja, biar ada temen kalau ada apa-apa.

  3. Karena Nggak Mau Ribet Cari Ruangan Khusus. Menurut saya, merokok itu seperti kencing yang perlu toilet (kencing di bawah pohon nggak dihitung, apalagi potensi bahayanya gede, ntar bisa disunat jin!). Merokok juga—seharusnya—perlu ruangan khusus supaya asapnya nggak mengganggu non-perokok. Nah, saya nggak mau aja satu saat kebelet merokok dan mesti belingsatan cari smoking room. Mending kalau ketemu, kalau nggak ketemu? Masa mesti merokok di bawah pohon? Nggak takut ditiup genderuwo pohon?

  4. Saya Nggak Mau Gangguin Orang, Takut Didoain. Ini berkaitan dengan point nomor 3, dengan asumsi saya merokok di tempat umum. Pasti merokok itu ada asapnya kan? Rasanya tidak usah dijelasin lagi unsur apa saja yang terkandung di asap rokok, itu sih Googling saja. Nah, buat para perokok sih nggak kerasa ngaruh karena tubuh mereka sudah beradaptasi, tapi buat non perokok—berani dikutuk kawin sama Franda deh—itu asap bakal mengganggu banget, ada unsur penolakan karena badan non perokok nggak biasa dimasukin unsur-unsur aneh tadi. Penolakan badan bisa berupa batuk, sesak nafas, perasaan nggak nyaman, dll. Jadi saya tidak merokok karena tidak mau disebut “mengganggu orang” atau “membuat orang tidak nyaman”, apalagi itu tadi, asumsinya dalam pergaulan sehari-hari saya punya kans 3:1 ketemu non perokok daripada sebaliknya. (lihat nomor 2). Iya sih, orang-orang itu mungkin nggak akan ngomong, tapi bisa ribet urusan kalau mereka merasa teraniaya oleh saya dan berdoa yang jelek! eh buset… doa orang teraniaya itu langsung dikabul lho!

  5. Saya Suka Keripik Kentang. Apa hubungannya? Simple sih… karena di Indonesia harga keripik kentang itu lumayan mahal, beda sama keripik singkong. Jadinya saya selalu “menghabiskan” uang saya untuk beli keripik kentang. Rasanya lebih menyenangkan, sesuai dengan . Lah bilang aja nggak punya duit kan? Eh siapa bilang… cek deh di minimarket, harga sebungkus kripik kentang sama satu pak rokok, mahal mana?

  6. Saya Nggak Pake Parfum. Ini lagi, hubungannya apa? Jadi dari kecil saya nggak terbiasa pakai parfum, dengan begitu maka saya harus tahu diri jangan sampai punya masalah bau badan. Nah, penelitian jelas mengatakan bahwa badan perokok akan berbau seperti rokok itu sendiri. Tadi kan sudah dibahas bahwa badan orang non-perokok sebenarnya cenderung menolak rokok, termasuk juga aroma rokok itu sendiri. Jadi kebayang dong kalau saya merokok, badan bau rokok, mana ada cewek yang mau deket sama saya? Saya kan nggak ganteng (cuma baik dan romantis aja, ehm)

  7. Cewek Tidak Suka Perokok. Karena di point sebelumnya ngebahas cewek, maka saya harus bilang gini: Jumlah perempuan perokok di Indonesia cuma sekitar 7,5% dari total penduduk perempuan, maka menurut asumsi saya, kebanyakan (saya bilang kebanyakan) cewek kalau boleh milih pasti lebih suka punya suami yang nggak merokok. Kalau ada cewek yang tidak bermasalah dengan rokok, berarti cuma dua kemungkinan: dia masuk ke yang 7,5% tadi, atau dia sudah cinta mati. Nah karena dengan kualitas muka nggak ganteng begini saya akan susah bikin cewek cinta mati, maka jelas saya lebih gampang dapat cewek kalau nggak ngerokok. (Cuekin aja point ini, asumsinya terlalu aneh!)

  8. Euh, Sebenarnya, saya lebih suka dirokok… 😀

 

Lupain! Lupain point yang terakhir itu![]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Tips Agar Lelaki Mengantri Cintamu
Kemarin sore di tempat kerja ada obrolan-nggak-terlalu-penting antar saya dengan temen kantor, perempuan. Dia cerita bahwa ada temen kampusnya—perempuan juga—yang punya kebiasaan kalo lagi single akan...
Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Tuhan Memaafkan Semuanya, Termasuk Steve Harvey
Peristiwa salah baca di ajang sekelas Miss Universe 2015 kemarin itu memang cukup bikin heboh, dan dunia seolah kompak menyalahkan Steve Harvey yang didapuk jadi MC acara tersebut. Buat yang ngga...
Impaksi 01: Apa Sih Impaksi?
Kemarin, untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gusi gara-gara impaksi. Operasi yang pertama sudah agak lama, sekitar Juni 2015. Waktu itu setelah rontgen baru ketahuan kalau gigi saya yang impaksi ...
Apakah GNB Masih Diperlukan?
Gerakan Non Blok (GNB) atau yang dalam bahasa politik internasional disebut sebagai NAM (The Non-Aligned Movement) adalah sebuah gerakan yang tidak menganggap dirinya beraliansi dengan atau terhadap b...
Jangan Tarik Saya Dulu
Ada saatnya kita ingin membuka lembaran baru, dan terkadang itu mengharuskan kita melepaskan tumpukan sampah masa lalu. Saya mulai paham soal itu sejak sebulan yang lalu. Tepatnya sejak saya menginjak...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

7 thoughts on “Kenapa Saya Tidak Merokok?

  • 09/09/2014 at 10:36
    Permalink

    Kamu enggak merokok karena kamu keren. That’s it :)
    I never like the ideas of smoking

  • 09/09/2014 at 11:57
    Permalink

    sayangnya kebanyakan perokok nggak peduli poin 3 dan 4.
    merokok bisa di mana saja. yang ga suka asap rokok dilarang protes 😐

  • 09/09/2014 at 13:07
    Permalink

    jadi kapan mau minta tanda tangan saya? hihi

  • 09/09/2014 at 13:11
    Permalink

    Memang masih perlu edukasi sih buat para perokok

  • 09/09/2014 at 14:46
    Permalink

    karena saya tidak punya korek.

    eh kenapa disebut korek ya? korek itu kan kokoreh..
    *nuju ngoceh

  • 10/09/2014 at 06:40
    Permalink

    karena saya tidak punya rokok :p

  • 11/09/2014 at 10:45
    Permalink

    Yg paling saya setuju itu poin No.8, #eh

Leave a Reply

Your email address will not be published.