Novel: Antara Realisme, Film, dan Harmonika

…mainkan aja atuh dengan sederhana …

(Wildan Nugraha, penulis – pada sebuah chatting di pagi hari)

Ketika akan mengetik tulisan ini sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mengcopy paste saja berbagai teori sastra yang saya dapat dari Google agar saya kelihatan pintar.

Tapi saya malah takut kalau nanti orang bertanya macam-macam karena betul-betul menganggap saya pintar. Bisa gawat! Maka saya hanya bisa mengetik apa adanya, dan inilah saya: penulis dengan lima novel yang sejauh ini masih kurang dikenal, sepuluh antologi bersama yang kebanyakan untuk proyek amal, dua buku non fiksi yang ditulis karena mengejar setoran, dua album musik yang terisi suara harmonika saya, dan filmografi seratus dua puluh film dimana saya terlibat di dalamnya (sekali jadi aktor, seratus sembilan belas kali jadi crew!).

Saya menyukai tulisan Joostein Gaarder, Seno Gumira Ajidarma, Haruki Murakami, Ayu Utami, Banana Yoshimoto, Dewi Lestari, Putu Wijaya, dan Yanusa Nugroho. Juga menyukai film-film karya Quentin Tarantino, Sion Sono, serta semua film Warkop DKI… terutama pada scene-scene setelah salah satu dari mereka mengucapkan kalimat “Ayo kita ajak cewek-cewek kita ke pantai!”

Tapi buat saya, menulis tetaplah kata kerja, dan karena itulah maka kunci utama dari menulis adalah bekerja, menulis. Saya tidak menguasai teori sastra apapun, saya tidak paham perkembangan dunia sastra.

Saya banyak belajar dari novel—mungkin karena itulah saya jadi novelis—Meski saya mulai dari coba-coba membuat puisi dan cerpen, kini saya tidak lagi bisa menuliskannya, apalagi saya dengan sadar memilih novel karena merasa puisi atau cerpen tidak lagi memiliki cukup ruangan untuk saya berekspresi.

Saya lebih suka menekuni novel ketimbang buku-buku teori pemikiran. Saya mengetahui teori-teori budaya dan perilaku manusia dari apa yang tertulis dalam sebuah novel, saya mengetahui cara menyusun kalimat, meletakkan metafora, mengembangkan karakter dari novel-novel bagus, dan saya tahu kesalahan yang harus dihindari saat menulis, dari novel-novel jelek. Sangat sederhana kan?

Jadi mungkin saja karena cara belajar saya yang terlalu sederhana itulah, maka saya pun hanya percaya tiga hal dalam menulis novel:

 

Novel Adalah Realis

Kita sama-sama tahu bahwa realisme adalah sebuah teori pengetahuan yang mengakui dunia benda dengan realitas obyektif yang kita rasakan saat indera kita berinteraksi dengan mereka. Sedangkan dalam dunia sastra, realisme merupakan aliran kesusastraan yang melukiskan keadaan atau kenyataan secara sesungguhnya.

Nah, menurut pemahaman saya yang sederhana ini, sebuah novel surealis pun harus tetap terasa realis, karena pedoman saya: kalau tidak sesuai dengan realitas maka cerita akan terasa berjarak dengan pembaca, yang akhirnya pembaca tidak bisa mengikuti cerita, merasa tidak suka, dan akhirnya tidak mungkin jadi pengemar cerita kita. (Kalau tidak jadi penggemar cerita kita, mereka juga tidak akan mungkin jadi penggemar kita, plus tidak akan mau minta tanda tangan atau foto bareng…)

Indikator saya dalam menilai/membangun realisme juga sederhana: yaitu cara membuat dialog. Sebuah cerita boleh mengambil setting di Mars, dengan pekerjaan tokohnya yang sangat absurd (misalnya: membersihkan kotoran hidung Presiden dengan gaji sepuluh juta per-upil), dengan baju harian yang sangat aneh (misalnya baju Power Ranger digabung dengan topi Ku Klux Klan), tapi selama mereka berdialog adalah cara manusia berdialog sehari-hari, maka cerita akan terasa dekat dengan kita. Apalagi kalau ternyata penulisnya bisa membangun sebuah karakter yang menurut pembaca “ini gue banget!”, dijamin cerita akan makin dekat secara emosi.

Inilah yang tidak dilupakan oleh penulis Harry Potter, Lord of The Ring, Twilight, atau Eragon. Dan ini juga yang tidak dilupakan oleh saya… damn, cara berpikir saya memang terlalu sederhana!

 

Novel Adalah Film Tak Bergambar

Saya bersyukur memiliki profesi sebagai editor film (kadang juga terpeleset jadi sutradara video klip atau kameraman). Sebab pekerjaan itu menuntut kesendirian di pojok ruangan, tidak boleh diganggu, kadang harus menatapi monitor lima belas jam sehari. Saya merasakan bahwa mengedit film berarti menyusun cerita dari klip-klip yang sudah ada, mengikuti skenario, dan menambal bolong-bolong yang terjadi. Bukankah itu mirip dengan kondisi menulis novel? Dimana saya harus menjahit potongan-potongan fragmen dalam imajinasi saja, menambal bolong yang menyebabkan ketidaksinambungan cerita, hingga akhirnya terbentuk sebuah cerita utuh.

Ditambah lagi Stephen King pernah berkata pada saya (tentu saja secara tidak langsung) bahwa: Deskripsi bermula dari imajinasi penulis, tetapi harus berakhir di benak pembaca. Sejak itu saya sadar bahwa pada dasarnya novel adalah sebentuk film panjang yang visualisasinya ada di imajinasi pembaca, bukan di layar kaca.

Artinya dalam menuliskan sebuah cerita, seorang penulis mesti berjuang agar pembaca dapat memvisualkan adegan di atas kertas dengan mudah. Bila seandainya pembaca gagal memvisualisasikan cerita, berarti penulis itu masih merumitkan tulisannya (mungkin agar dianggap keren), atau penulisnya tidak menguasai tema yang ditulis hingga dalam penjelasannya pun malah membuat bingung.

Contoh terbaik—di novel Indonesia—bagi saya adalah Laskar Pelangi. Baiklah, filmnya memang bagus, mendapat penghargaan di mana-mana, dan mampu menjelma jadi film yang membekas di hati penontonnya. Tapi sebenarnya filmnya bisa begitu karena dari awal novelnya sudah sangat filmis, coba baca Laskar Pelangi dan temukan bahwa kita akan dengan mudah melakukan visualisasi pada berbagai adegan di sana.

Jadi bagi saya kuncinya sederhana: dengan memahami apa yang ditulis, seorang penulis bisa membuat pembaca bahagia membaca karyanya!

 

Novel Adalah Partitur Musik

Saya bisa meniup harmonika, dan saya menyadari hubungan antara novel dan musik setiap kali saya berlatih memainkannya. Begini, sejak kecil saya sudah ingin berlatih musik, tapi anehnya saya merasa gagal mempelajari tiga alat musik yaitu: kecapi sunda, gitar, dan piano. Sebaliknya saya selalu merasa berhasil di seruling, saluang, dan harmonika.

Ketika berkonsultasi dengan seorang pianis jazz (yang juga guru piano saya, yang mengajari saya dengan susah payah dan saya tetap bego!), dia melihat bakat saya ternyata ada di alat musik dengan nada tunggal seperti misalnya alat musik tiup, yang dalam sekali akses (misalnya ditiup) hanya keluar satu nada. Sementara saya kepayahan memahami alat musik dengan nada jamak, misalnya piano yang bisa mengeluarkan sepuluh nada berbeda hanya dalam gerakan sekali memencet tuts.

Mungkin saja itu cara paling halus dari dia untuk mengatakan bahwa saya tidak berbakat, tapi sebenarnya saya menemukan sesuatu dari latihan-latihan itu. Harmonika, tidak seperti gitar atau piano yang bisa berdiri sendiri. Harmonika selalu memerlukan pelengkap (biasanya gitar) untuk bisa tampil di panggung, dan bukankah itu juga sifat dari novel? (Sebenarnya juga sifat fiksi secara umum)

Seno Gumira Ajidarma pernah menulis begini: Penulisan cerita panjang, secara konseptual lebih cocok dalam konteks pengalaman saya sebagai penggubahan komposisi musik. Dapat dibayangkan terdapat sebuah jalur bagaikan partitur tempat terdapatnya banyak lajur, dan pada setiap lajur ini mengalirlah nada-nada dari setiap instrumen yang bunyinya berbeda. Telah diketahui, meskipun warna bunyi setiap instrumen musik itu berbeda, pertimbangan sang penggubah atas peleburan semua bunyi dari setiap instrumen itulah yang menjadikannya sebagai kesatuan ‘pesan bunyi’—yang artinya bisa juga dengan sengaja berpesan untuk memecahkan kesatuan tersebut. Dalam ‘novel psikologis’ yang mempertimbangkan ‘kewajaran dominan’, maka setiap lajur itu akan berisi karakter-karakter, ataupun karakter, latar, dan banyak lagi aspek yang biasa terdapat dalam sebuah ‘novel’, ‘roman’, atau apapun namanya, yang dalam perjalanan di setiap lajurnya masing-masing, ketika saling terhubungkan membentuk naratif yang utuh sampai jalur berakhir.

Nah, setiap kali saya menulis novel, saya sering membayangkan sebuah orkestra di panggung, setiap karakter, setting, dan adegan dalam novel saya tempatkan dalam sebuah garis birama yang panjang, sehingga saya bisa membayangkan mana karakter yang jadi alat musik utama seperti piano (artinya kemunculannya harus sering), mana yang jadi pelengkap seperti harmonika, atau saxophone. Lalu mana yang berfungsi menentukan ketukan metronome seperti drum, kahoon, atau perkusi (ini agar cerita saya tetap terjaga emosinya).

Selain itu juga saya belajar dari Milan Kundera—seorang novelis Ceko, dia berkata bahwa setiap bagian sebuah komposisi musik membawakan ekspresi emosional. Kundera menyusun novel-novelnya seolah itu adalah sebuah komposisi musik, misalnya dalam novel Life is Elsewhere, bab lima memiliki 11 bagian dalam 81 halaman (moderato), bab enam terdiri dari 17 bagian dalam 17 halaman (adagio), dan bab empat memiliki 25 bagian hanya dalam 20 halaman (prestissimo). Menurutnya, bab dengan tempo lambat berfungsi untuk melambatkan waktu, untuk memastikan sebuah momen besar tunggal, sementara bab dengan tempo cepat akan memfokuskan seluruh kekuatan emosional cerita di sana.

Dengan memahami itu semua, saya mempelajari benar cara-cara menyusun cerita. Meski belum sempurna, tapi saya tetap belajar. Saya tahu kelima novel saya masih jauh dari sempurna, tapi saya melihat sebuah proses disana. Entah kapan saya akan mencapai tahapan novel yang sempurna, tapi saya akan tetap menunggu saat itu dengan terus menulis novel lagi, terus memahami dan fokus pada realisme, visualisasi adegan, dan konsep partitur musik pada setiap novel saya, dan tentu saja… bersenang-senang!

 

…selamat bekerja, dan jangan lupa bersenang-senang!

(Tama, The Raid- menit 21:44)

 

Share This:

Related posts:

Bintang Porno Di Cover Buku
Tadi sempat baca berita ringan di vivanews, katanya di Thailand ada sebuah buku paket matematika terbitan MuangThaiBook yang laku banget, usut punya usut ternyata diduga buku itu laku bukan karena isi...
Menulis Dengan Pintu Tertutup
Malam ini saya gembira, sebab novel yang sudah saya kerjakan (kami kerjakan, karena saya dapat banyak bantuan dari mbak Latree Manohara) sekitar lima tahun akhirnya selesai ditulis. Saya mulai pada bu...
Penerbit Perlu Naskah: Bitread
Ceritanya, di dekat rumah cafe baru… Warung Upnormal, eh nggak terlalu baru juga sih, pertama kali saya lihat tempat itu ada sebelum puasa. Mau mampir tapi belum sempat, terus pas bulan puasa malah ...
Akhir Dari Sebuah Perjalanan
Ketika sedang menuliskan kata pengantar untuk novel ini, pada saat yang bersamaan saya juga sedang meladeni seorang reporter yang ingin melakukan wawancara. Memang wawancara itu berlangsung menyenangk...
Dikutuk Untuk Selalu Optimis
Kemarin saya baru me-lock draft lima novel "Meja Bundar", naskah ini kami (saya dan mbak Latree) kerjakan selama lima tahun, dan draft lima adalah keputusan akhir yang harus diambil karena k...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Novel: Antara Realisme, Film, dan Harmonika

  • 08/11/2015 at 05:47
    Permalink

    wah setuju sekali, ada novel yang memang mudah dibayangkan, jadi di benak pembaca langsung jadi film saat membacanya ya..suka artikelna…

  • SiHendra
    10/11/2015 at 04:20
    Permalink

    ntar saya main ke semarangcoret 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.