Foto Anak Berdarah Lagi?

Baru sepuluh menit yang lalu saya melihat gambar anak kecil dengan usus terburai. Maka saya memantapkan hati meski tahu saya beresiko dihujat, tapi saya harus menulis ini:

Stop spreading photos of bloody dead children. What’s wrong with you people?!

Kalau “cuma” mau membangkitkan rasa kemanusiaan yang berkaitan dengan tragedi Palestina ya bukan begitu caranya.

Itu karena ada batas-batas tertentu dimana orang bisa menerima gambar yang berisi darah serta kematian, dan sayangnya batasan tiap orang tidak sama. Di televisi saja, pembaca beritanya selalu minta maaf dulu jika ingin menayangkan sesuatu yang termasuk “disturbing picture“, di kaskus atau twitter ada opsi untuk… menyembunyikan gambar mengerikan. Intinya, mereka mempersilahkan pemirsa untuk “mempersiapkan diri dan mental” dulu untuk menerima gambar yang tidak nyaman di mata. Atau kalaupun tidak sempat meminta maaf, biasanya gambar tersebut di-blur.

Sayangnya itu tidak bisa dilakukan di Facebook, apa yang kita klik atau komentari otomatis akan tampil di beranda, dan biasanya tidak ada peringatan dulu. Efeknya jadi terbalik, bila di TV orang akan “diperingatkan” dulu baru gambarnya tampil, di sosial media gambarnya tampil dulu baru bisa kita hapus/ unsubscribe/ unfollow/ report to facebok, dll… ya kagok gambarnya terlanjur kelihatan dong, artinya: pemirsa terlanjur tidak nyaman.

Iya sih saya tahu, teman-teman benci Israel, cinta Palestina, sayang sesama Muslim, dll… sehingga dalam posting apapun jelas menunjukkan keberpihakan.

Nah, karena keharusan berpihak inilah maka teman-teman secara tidak sadar sudah melakukan kegiatan jurnalistik dengan menggunakan tipe WAR JOURNALISM, yang memang mengekspolitasi “Visible Effect of Violence”. Sehingga tidak heran jurnalisme tipe ini memungkinkan hadirnya gambar korban yang meninggal, cedera, jumlah materi yang hancur baik yang berwujud rumah, mobil, masjid, gereja atau bahkan desa. Ya karena memang tujuan War Journalism itu untuk membuat khalayak larut ke dalam kejadian dan langsung memilih salah satu pihak. Intinya, war journalism adalah tipe jurnalisme yang benar-benar hitam-putih dengan konsep “us and them” (kelompok kita dan mereka).

Masalahnya: War Journalism yang tampil ke publik biasanya dilakukan oleh wartawan terlatih yang beritanya pun sudah melewati meja redaktur dan editor, bukan main posting sembarangan begitu saja

Solusinya apa? nah, dalam menunjukkan keberpihakan sebenarnya kita bisa menggunakan tipe PEACE JOURNALISM. Tipe ini lebih menunjukkan “Invisible Effect of Violence” dimana pendekatannya adalah problem kemanusiaan yang memunculkan kerugian, penderitaan kemanusiaan, trauma psikologis, hilangnya masa depan, rusaknya struktur sosial, moral, dan budaya. Atau dengan kata lain, peace journalism lebih banyak menampung suara pencinta perdamaian, atau jeritan korban pertikaian politik, memberikan kesempatan bicara pada mereka yang tidak bersuara, agar teriakan segera diwujudkannya sehingga perdamaian dapat terlaksana. (Tuh saya kasih contoh satu foto)

Maka dari itu diperlukan kesadaran dari tiap orang untuk tahu diri bahwa tidak semua orang kuat melihat gambar berdarah-darah, bukankah gambar “perempuan menangis di depan sebuah sekolah yang hancur” juga sebenarnya sudah cukup membangkitkan simpati?

==============

NB: Saya mengetik kata “Gaza” di Google image, dan mendapati pada 22 gambar paling atas, hanya 4 gambar yang berisi foto mayat, sisanya adalah “situasi”. Maka jelas, pers dunia pun tahu jurnalistik tipe apa yang tetap bisa bercerita namun tetap “nyaman” di mata pembaca. Bukan War Journalism, teman-teman… bukan sama sekali…

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Jangan Kasihan Ke Norman Kamaru
Sekarang lagi rame nih berita soal Norman Kamaru jualan bubur Manado. Awalnya saya baca itu di jabarsatu, lalu saya googling dan ternyata cukup banyak tuh portal media online yang mengangkat cerita se...
Siapa Sih Pemerintah?
Ini cerita waktu saya masih sekitaran kelas 2 SD (serius, saya pernah muda!)… jadi dulu itu tiap kali mau ke sekolah, saya selalu nyegat angkot. Buat yang hidup sejaman dan sekelurahan sama saya, pas...
Awas, Saya Anak Jenderal!
Siapapun yang membaca buku Sketsa-Sketsa Umar Kayam: Mangan Ora Mangan Kumpul pasti kenal tokoh Mister Rigen (seorang pembantu rumah tangga asli Pracimantoro yang punya anak bernama Beni Prakosa), ser...
PR Besar di Depan 411 dan 212
Dalam episode pertama season pertama serial The Newsroom, ada scene dimana tokoh Will McAvoy ditanya oleh seorang mahasiswi—yang belakangan diketahui bernama Jennifer Johnson—begini, “Can you say why ...
Telolet yang Menyebalkan
Fenomena Telolet yang marak akhir-akhir ini (mendunia lho, sampai ada penyanyi internasional yang katanya mau bikin lagunya) menurut saya sangat menyebalkan, terutama karena fenomena ini menyebabkan b...
Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati
Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1] Ah, semoga ada yang benar-benar melihat b...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Foto Anak Berdarah Lagi?

  • 08/08/2014 at 20:41
    Permalink

    iya bener banget, harusnya dalam mencari dukungan caranya gak menampilkan gambar2 anak yg sedang berdarah kesannya kan jadi sadis -__-

Leave a Reply

Your email address will not be published.