Soal Musik dan Bayaran

Kemarin saya nonton film Bean (Mel Smith, 1997) di TV. Kalau ada yang pernah nonton film ini, tentu ingat scene ketika Mr Bean dan David Langley pulang jalan kaki sambil mabok. Disana mereka nyanyi (dengan berantakan) lagu Yesterday-nya The Beatles.

Iseng-iseng, saya lantas nanya ke temen yang kerjaannya sound designer… “Itu bayar nggak kalau nyanyiin lagu orang di film, sementara lagunya cuma muncul sepotong dan berantakan begitu?”

Dia jawab: “Ya harusnya bayar lah… secara itu kan lagu orang, dibawakan dalam sebuah media yang orang langsung ngeuh dan merefer The Beatles, pasti itu pake ijin dan kontrak khusus.”

Saya penasaran dan nanya lagi “Gimana kalau yang dinyanyikan itu lagu milik musisi lokal, malah musisi tingkat kelurahan, atau mungkin tetangga sebelah rumah dia yang—berani sumpah samber geledek—nggak ada orang yang kenal?”

Dia jawab: “Kalau lagu itu sempat diperdengarkan ke publik dengan cara apapun, apalagi direkam dan ada file/CD nya… ya tetap saja bayar, atau minimal pake ijin lah. Setidaknya kan itu adalah karya orang, ya mesti kita hormati dong.”

Well, jawaban dia persis dengan yang saya pikirkan selama ini. Mengawali kebiasaan menghormati karya orang adalah hal krusial kalau kita pengen karya kita dihormati, dan untuk urusan film itu nggak bisa ditawar-tawar lagi. Begitu kita pakai lagu orang di sebuah film yang komersil, berarti kita harus dapat ijin tertulis dari si pemilik lagu (ini definisinya banyak: bisa penyanyi, pencipta lagu, produsernya, dll). Kalau dia minta bayaran? Ya itu sudah resiko.

Nah, kalau di atas saya menulis kata “komersil”, mungkin akan muncul pertanyaan berikutnya: film yang komersil itu yang bagaimana? Untuk gampangnya kita buka KBBI saja ya, kata komersil atau komersial dalam KBBI offline 1,5 bisa memiliki tiga variasi kata, yaitu:

aaa

ko·mer·si·al a (1) berhubungan dng niaga atau perdagangan; (2) dimaksudkan untuk diperdagangkan; 3 bernilai niaga tinggi,

me·ngo·mer·si·al·kan v (1) menjadikan sesuatu sbg barang dagangan; (2) menggunakan sesuatu untuk berdagang (mencari keuntungan sendiri)

ko·mer·si·a·li·sa·si n perbuatan menjadikan sesuatu sbg barang dagangan:

aaa
Lihat deh… jadi jelas kan, komersil itu intinya sesuatu yang berhubungan dengan barang dagangan atau mencari keuntungan sendiri.

Perspektifnya, dalam bikin film ya jelas kalau itu film mau “didagangkan” (ada acara nonton pake tiket, bikin DVD untuk dijual, masuk ke DVD kompilasi yang akan diedarkan, dll), diikutkan festival (kalau menang dapat duit dan terkenal kan? Berarti itu masuk kategori ‘mencari keuntungan sendiri’), bahkan kalaupun film itu sekadar dipasang di YouTube saja (masang di sana berarti pamer, kalau bagus kita bakal di like orang dan bakal terkenal, berarti itu juga masuk ke ‘mencari keuntungan sendiri’) berarti semua yang ada di dalamnya harus pake legal, dalam artian pake ijin, dan kalau ternyata untuk mencapai status legal itu kita harus bayar ya memang sudah resikonya.

Sebenarnya ini bukan cuma soal lagu, tapi penggunaan klip juga. Pernah lihat kan film yang di dalamnya ada potongan berita, atau si aktornya pura-pura lagi nonton sinetron atau video klip gitu? Nah… itu juga harus pake ijin.

Jadi yang tidak termasuk komersil itu kalau kita bikin film untuk dinikmati sendiri (misalnya cuma untuk eksperimen gaya tertentu atau teknik tertentu yang buat disimpen di harddisk doang), atau bikin film insidentil (video opening sebuah acara yang cuma diputer sekali-kalinya itu saja, ucapan selamat ulang tahun, klip foto/video liburan keluarga, atau mungkin saja video nyatain cinta). Itupun ada baiknya kita pakai catatan courtesy di bawah klip, karena suka nggak suka kan kita tetap saja namanya pake lagu orang.

Gimana kalau kita malas minta-minta ijin karena merasa ribet atau makan waktu banyak? ya… berarti materi musik, lagu, atau klip ya harus kita buat sendiri. Kalau kita nggak bisa bikin ya harus minta tolong temen (itu gunanya banyak temen). Siapa tahu ada yang mau kerja gratisan, atau ada temen kita yang mau lagu bikinannya dipasang sekalian promosi buat dia.

Memang kedengarannya ribet, tapi ya memang mesti begitu caranya, karena urusan lagu ini bisa panjang buntutnya lho. Masih inget kan kasus piala Citra tahun 2006? Waktu itu FFI menyatakan film ‘Ekskul’ sebagai film terbaik dengan menyabet tiga Piala Citra. Hal itu menimbulkan protes dari seluruh sineas film yang pernah menerima penghargaan Piala Citra sebelumnya. Itu karena film ‘Ekskul’ dinilai tidak layak sebagai film terbaik, diantaranya karena adanya unsur plagiat dan melanggar hak cipta. Sebab katanya film itu menggunakan ilustrasi musik dari film-film asing yang terkenal, seperti Taegukgi, Gladiator, dan Munich.

Buntut dari protes itu, para sineas yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia beramai-ramai mengembalikan Piala Citra yang pernah mereka dapat.

Nah, bener kan… urusan musik aja bisa bikin berantakan macam gitu.

__________________________
Catatan
: Bean adalah sebuah film yang sampai sekarang saya masih susah nyari link downloadnya, nyari file gratisan, atau nemu DVD-nya. Karena nggak tahu ya, kalau orang me-refer film Mr Bean pasti nggak jauh dari Mr. Bean’s Holiday (Steve Bendelack, 2007). Padahal—setidaknya menurut saya—film bean versi Mel lebih bagus daripada yang garapan Steve. Ceritanya lebih ada, karakternya memang “Bean” banget, dan juga humornya lebih fresh. Sementara yang Holiday itu kebanyakan cuma “mengulang” joke di film versi televisi (antara lain scene meledakkan muntah di pesawat).

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

[Rumah Putih #1] Berharap Pada yang Bangkit dari Kubur
Cerita tentang mayit yang bangkit dari kubur, yang kini mendominasi sinetron “religius”, pernah juga merajai tema film Indonesia tahun 1980-an. Namun, bangkitnya mayit itu ternyata membawa “pesan” y...
Mbak Laura, Kapan Main Ke Rumah?
Beneran, beberapa waktu lalu di Kaskus sempat muncul beberapa thread ketika orang ini nikah. Tapi gue nggak buka thread-thread tersebut, males aja ngelitin gosip artis. Tapi efeknya ternyata, gue jadi...
Yu Aoi, Pembantu yang Cantik! LHO!
Nah, di postingan kemarin saya sempat merasa ngenes karena postingan yang sudah siap upload mendadak hilang tak berbekas! Kali ini setelah lewat beberapa hari dan rasa sudah nggak ngenes lagi, akhirny...
Charlene Choi, Kamu Cocok Buat...
Setelah nyaris sebulan blog saya vakum—meski sebenarnya banyak bahan yang bisa ditulis—karena saya kebingungan: mana duluan yang harus ditulis. Tapi ternyata semuanya berubah karena seorang cewek, leb...
Goodbye Dragon Inn
Bulan Desember ini saya memang sudah rencana untuk menonton film-film dengan ritme yang lambat. Tidak ada alasan khusus. Euh... ada sih... yaitu untuk lebih menghayati kesendirian, kesepian, dan kerin...
Tomorrow I Will Date With Yesterday's You
Sudah lama saya merasa tidak ingin menulis tentang film. Sejak memutuskan untuk pensiun dari dunia film dan konsen di dunia menulis, intensitas saya menonton film menurun drastis. Apalagi memang dulu ...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Soal Musik dan Bayaran

  • 15/10/2014 at 13:25
    Permalink

    wah bener nih kalo menurutku juga kena bayaran harusnya seputar lagu di film :))))

Leave a Reply

Your email address will not be published.