Kapan Sebuah Film Selesai?

Kapan sebuah film dianggap selesai? Beberapa orang nganggapnya pas film itu selesai diedit, beberapa orang lagi nganggapnya pas film premiere. Bahkan—ini yang konyol—beberapa orang ngira film selesai ketika beres syuting! OMG, ini yang menjawab pertanyaan kenapa saya sering ngalamin: pas syuting banyak orang datang, eh di post-production mendadak semua crew hilang, nggak pernah nengokin base camp lagi, dan baru muncul-muncul ntar pas premiere.

Saya selalu bilang ”Sebuah film baru dianggap selesai ketika di posternya nempel daun!” Daun itu maksudnya logo award festival itu lho. Logo tersebut layak dipasang karena tiga kondisi, yaitu saat film tadi jadi: Official Selection, Nomination, atau Winner.

Kenapa saya berpendapat begitu? Karena di titik itulah… kita tahu seberapa “harga” film yang kita buat. Artinya gini, okelah kita bikin film—yang kata kita—bagus, okelah ketika premiere banyak orang yang datang nonton dan tepuk tangan, tapi itu bukan parameter yang jelas. Karena para crew tentu harus berpendapat bahwa film itu bagus, kalau crew nya aja berpendapat ini film jelek ya nggak akan bener kerjanya. Terus siapa sih yang datang pas premiere? Crew lagi, temen-temen, pacar, selingkuhan, mantan, calon mantan, saudara, guru, dan—mungkin beberapa—tamu undangan. Artinya itu orang-orang yang sudah deket sama kita, yang kita suguhi tontonan gratis, ya pasti lah mereka akan tepuk tangan, terus salam-salaman sama kita dan bilang: “Bagus nih”. Terus premiere paling diputar dimana? Di “kandang” sendiri kan? Ya ampun, cemen banget filmnya kalau di kandang sendiri saja nggak dapat apresiasi 😀

Tapi dalam sebuah lomba atau festival, disana film kita bener-bener diuji oleh pakar. Diapresiasi oleh temen-temen sendiri sih—apalagi di kandang sendiri— belum bisa dibanggain, tapi diapresiasi oleh seorang pakar di luar kandang itu yang bisa dibanggain, dan disanalah kita bisa tahu seberapa tinggi harga film yang sudah kita buat berbulan-bulan itu.

Itu juga sekalian memotivasi, jadi kita akan terus berusaha bikin film yang minimal bisa tembus jadi Official Selection sebuah festival, sebab kalau nggak begitu berarti sama saja kita kemana-mana bawa film yang “Belum Selesai”.

Sedangkan kita sama-sama tahu, “Sebuah karya yang belum selesai, sama sekali nggak layak dibanggain.”

#EdanGueGalakBanget
😀 😀 😀

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

"The Maiden Heist", Film Komedi Para Senior
Film ini genrenya komedi ringan, disutradarai sama Peter Hewitt, rilis tahun 2009. Dari pertama lihat covernya, saya sudah yakin kalau filmnya jaminan mutu meski nggak tahu juga mutunya setinggi apa, ...
Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)
Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Vid...
Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Mbak Laura, Kapan Main Ke Rumah?
Beneran, beberapa waktu lalu di Kaskus sempat muncul beberapa thread ketika orang ini nikah. Tapi gue nggak buka thread-thread tersebut, males aja ngelitin gosip artis. Tapi efeknya ternyata, gue jadi...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...
Goodbye Dragon Inn
Bulan Desember ini saya memang sudah rencana untuk menonton film-film dengan ritme yang lambat. Tidak ada alasan khusus. Euh... ada sih... yaitu untuk lebih menghayati kesendirian, kesepian, dan kerin...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.