Setelah Enam Tahun

Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya.

Lho, selesai ditulis tahun 2012 tapi baru dikirim 2014? kok bisa? Ya, selama ini saya merasa novel itu belum sempurna, maka dalam dua tahun terakhir saya endapkan terus, revisi sedikit-sedikit, sampai akhirnya kemarin baru muncul keberanian untuk mengirimkannya.

Lalu, ini petikan beberapa paragraf dari kata pengantarnya:

=================

Saya menulis kata pengantar ini di kamar yang sempit, diiringi suara seorang kawan yang sedang menyanyikan bait-bait puisi Kupu-Kupu Kaca. Winamp tentu saja, saya tidak tega mengundang dia ke kamar hanya untuk bernyanyi. (Lagipula rumahnya jauh), dan sebenarnya kondisi saya sedang cukup parah: saya merasa diri tidak bisa lagi menulis.

Pernah bayangkan seorang penulis yang merasa dirinya tidak bisa menulis lagi? Bayangkan kalau sempat. Sebabnya sederhana, setelah draft-draft novel ini saya anggap rampung, saya mulai jarang membaca buku. Hari demi hari saya gunakan untuk banyak-banyak menonton film, dalam sehari paling sedikit saya menonton dua film, kadang malah sampai empat. Itu berlangsung hampir dua tahun, dari tahun 2012-2014.

Karena saya tidak menjalankan sebuah laku penting seorang penulis itulah, maka menulis kata pengantar ini terus terang jadi bagian yang paling berat buat saya, lebih berat dari menulis novelnya sendiri. Mendadak rangkaian kata-kata macet, irama tidak keluar, dan diksi-diksi menghilang. Terus terang saya kaget, tapi di sela kekagetan itu terselip pula rasa syukur, setidaknya dengan kekagetan ini maka saya bisa mulai menandai garis batas.

Garis batas apa? Tentu saja garis batas karir saya sebagai novelis.

Karena saya percaya semua orang harus tahu batas dalam berkarya, ketika sampai di puncak tertingginya seorang seniman harus berhenti, begitu juga seorang novelis. Ada titik dimana diksinya sudah mencapai puncak, dia tidak bisa lagi menarik garis lebih jauh lagi dari itu. Menurut saya, bodohlah orang yang tidak paham garis batasnya ada di mana. Padahal kita (termasuk saya juga) seringkali hidup dengan berusaha menarik garis batas itu lebih jauh dari titik yang seharusnya. Kadang itu bagus, tapi pada titik tertentu itu sama saja menipu diri.
Maka apakah novel ini merupakan garis batas saya?

Saya sendiri lebih suka menjawab tidak tahu, yang saya tahu adalah pada saatnya entah kapan, saya harus berhenti merangkai kata. Entah di novel saya yang mana. Jadi setelah novel ini terbit pun, saya akan terus berusaha menulis, menarik garis batas itu lagi, dan berharap saya sedang tidak menipu diri. Sampai akhirnya… tentu saja saya yang akan merasakan dan menentukan saat saya harus berhenti.

Begitulah, selamat membaca, selamat menentukan batas masing-masing!

================

Saya baca ulang, kok rasanya getir sekali ya? []

foto: Yudistira Bayu A – Menembus Garis Batas

aaa
aaa

Share This:

Related posts:

Ketika Aku dan Dia Menjelma Diam
FADE IN Sore... maghrib... senja (aku tak mengerti lagi sebutannya). Tiga kali film Jermal ini diputar di ruangan ini, ruangan kayu... aku mendengarnya lewat udara. Ketika itu, ada dia, bernyanyi kac...
Selamat Datang Cacar Air!
Hehe, sudah dua hari ini saya kena cacar air. Eh beneran, banyak teman yang heran kenapa saya baru ngerasin cacar di umur segini (ga akan bilang umur berapa!) tapi memang yang orang tahu penyakit caca...
Siapa Saya?
Kalau ditarik ke belakang, selama 5-7 tahun ini sebagian teman-teman mengenal saya sebagai filmmaker, sebagian lagi mengenal saya sebagai penulis (tapi juga jadi tidak relevan lagi karena novel terakh...
Impaksi 02: Operasi di RSGM
Di postingan sebelumnya, saya cerita bahwa untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gara-gara impaksi gigi geraham bungsu. Operasi pertama saya lakukan tahun 2015, dan operasi kedua sekitar semingguan...
Pemaksaan Perspektif
Betapa sering kita memaksakan perspektif kepada orang lain? Seolah kita bisa memetakan detail yang mereka hadapi dan memberi komentar seolah kita adalah orang yang paling mengerti situasi. Hingga pada...
Sakit Kepala Diberi Obat Tetes Mata: Colok Saja!
Beberapa waktu yang lalu saya memasang status Facebook. Inti dari status itu adalah saya ingin bertanya mana jenis investasi yang lebih menguntungkan, apakah Emas? Dinar? Atau Bitcoin? Hmm, mungkin m...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.