Pustun

Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya berdebar beberapa tingkat lebih tinggi, dan aliran darahnya pun ikut menjadi cepat.

Gadis itu sangat heran. Karena sepanjang hidupnya yang sudah tigapuluhtiga tahun, dia tidak pernah punya keinginan apapun yang reaksinya seperti begini, kecuali keinginan sederhana: menemukan pasangan yang ideal baik dari segi harta atau agama.

Setiap hari keinginan itu menerpa pikirannya, membuatnya gelisah. Dia tidak menyangka akan timbul keinginan lain yang reaksi gelisahnya hampir sama, bahkan sebenarnya lebih parah. Apalagi sebenarnya karena dia sendiri tidak tahu apa itu pustun. Pokoknya gadis itu hanya merasa ingin secepatnya jadi pustun. Soal pustun itu apa, bagaimana, siapa, berapa, dimana, atau kapan, dia sendiri belum tahu. Semuanya masih gelap. Hanya kata itu, pustun, pustun, dan pustun mengganggu pikirannya.

Karena kegelisahannya itu dia tidak segera bangun. Padahal biasanya dia adalah gadis yang rajin dan cekatan, namun kini dia tak ingin mengerjakan apa-apa. Bahkan dia tidak ingat kalau pagi ini dia ada wawancara kerja, nanti siang teman-teman SMA nya mengadakan reuni di sebuah warung tenda, dan nanti sore ada acara pesta ulang tahun sepupunya. Tidak, dia tidak ingat peristiwa apapun, hanya pustun itu yang berlari-lari dalam memorinya.

Lama dia berbaring—mungkin juga terlalu lama—karena dia mendengar suara ibunya mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil “Gadis, ayo bangun, ini sudah siang!” Gadis itu bergerak lambat menyingkap selimutnya, membuka pintu, tapi ibunya sudah tidak ada. Dia agak menyesal juga sudah berlambat-lambat, karena tadinya dia ingin menarik ibunya ke kamar dan langsung bicara empat mata. Kini dia tahu bahwa ayah ibunya sudah menunggu di meja makan. Masalahnya, bila ayahnya ada maka dia harus mengatur strategi bicara yang baik, nanti dia pasti tidak boleh bisik-bisik curhat pada ibunya karena ayah pasti marah. Karena menurut ayahnya, segala yang dibicarakan di dalam rumah harus diketahui selengkap-lengkapnya, tidak boleh setengah-setengah, tidak boleh hanya diketahui sebagian keluarga.

Tak berapa lama. gadis itu sudah duduk di ruang makan. Acara makan dimulai. Berulang-ulang dia melirik ke arah orang tuanya. Mereka tampak sedang santai membicarakan rencana menengok tetangga sebelah yang lahiran. Gadis itu merasa suasana hati orang tuanya sedang baik, meski begitu dia tetap was-was karena persoalan pustun ini rasanya akan jadi soal yang sedikit sensitif—entah kenapa dia berpikiran begitu. Padahal mengerti pun tidak. Pada suatu jeda yang dirasa baik, gadis itu bicara langsung ke titik tujuan, dia memang tidak pernah basa-basi

“Ayah, Ibu, aku ingin jadi pustun!”

Dia langsung menundukkan kepala, rasanya ada yang salah, rasanya suaranya tadi lebih keras dari yang direncanakan. Cukup lama tidak ada tanggapan—bahkan sebenarnya ruang makan jadi sepi—gadis itu mengangkat kepala dan menatap kedua orang tuanya yang ternyata menahan suapan dalam gemetar. Getaran yang berbeda makna, ibunya menahan tangis, ayahnya murka (kenapa?).

“Heh, siapa yang ajarin kamu ngomong begitu!” gelegar ayahnya

Gadis itu—biasanya dia penurut—kali ini entah darimana memiliki keberanian untuk menatap balik mata ayahnya, dia tak sanggup menatap ibunya yang sudah berlinang air mata.

“Tarik omongan kamu! Memang kamu tahu pustun itu apa?”

Gadis itu menggeleng “Tidak tahu, tapi masa aku tidak boleh jadi pustun cuma karena tidak tahu artinya?”

“Tolol!” Ayahnya tidak pernah memaki, ini pertama kalinya “Tarik omongan kamu, ayah nggak suka! Memang ayah ibu kurang ngasih apa sama kamu?! Uang? Perhatian? Kasih sayang?”

Gadis itu mengerutkan kening, mengapa persoalan jadi rumit? Mengapa aku dimaki, apakah karena aku tidak tahu arti pustun? Tapi kenapa tidak dikasih penjelasan? Malah dibilang tolol! Apa hubungan pustun dengan segala pemberian orangtua? Dan… apa sih pustun?

“Sana kamu, masuk kamar!”

Gadis itu masih memandang ayahnya dengan muka sengit, dia tidak rela dibilang tolol tanpa diberi penjelasan apa-apa, tapi akhirnya dia untuk beranjak ke kamar. Dia tahu ibunya mulai terisak, dan gadis itu sebenarnya ingin berbalik memeluk ibunya karena dia sama sekali tidak mau membuat ibunya menangis. Tapi dia tahu bahwa menuju kamar adalah pilihan terbaik, setidaknya saat ini.

Dia menutup pintu kamar dan berbaring, kata-kata pustun itu makin berdentam-dentam, seolah mendesak keluar. Kali ini bahkan gadis itu sampai merasakan sakit kepala hebat. Awalnya sebelah, lalu merambat jadi ke seluruh kepala. Dia tahu sakit ini tidak akan reda sebelum dia jadi pustun. Atau setidaknya ada seseorang yang memperbolehkan dia jadi pustun, siapapun itu.

Gadis itu tidak mengerti kenapa, dia hanya tahu begitu saja. Sakit kepalanya makin lama makin hebat, kepalanya serasa mau pecah, matanya begitu berat untuk dibuka, telinganya berdenyut sangat keras, nafasnya pendek-pendek, dan yang bisa dia lakukan hanya berteriak-teriak kesakitan diselingi kata-kata pustun. “Pustun… pustun… pustun…”

Teriakan itu membuat orang tuanya segera menghambur masuk kamar, ibunya memekik kaget dan ayahnya segera menelepon ambulan. Dalam sekejap gadis itu sudah dibawa ke rumah sakit, dan langsung dibawa masuk ke dalam ruangan seorang dokter. Dokter itu sudah tua, dan tampak bijaksana. Dia adalah doker yang pengetahuannya luas, maka dia langsung maphum pada apa yang terjadi dengan pasiennya itu. Pertama dia menyuruh orangtua si gadis keluar, lalu setelah memberikan beberapa instruksi dia pun menyuruh perawatnya keluar. Kini tinggal dia berdua dengan si gadis.

Perlahan sang dokter mendudukkan gadis itu di tempat tidur. “Gimana, kepalanya masih sakit?”

Gadis itu mengangguk “Pustun… dokter…” begitu katanya lirih

Dokter itu tersenyum “Iya, iya saya tahu… kamu mau jadi pustun kan?”

Gadis itu mengangguk lagi “Pustun… dokter…”

“Iya, iya… tapi terus kamu nggak tahu arti kata pustun, dan keinginan itu mendadak saja keluar menyentak-nyentak, iya kan?

Gadis itu mengangguk “Pustun… dokter…”

“Kamu pasti merasa bahwa jadi pustun itu akan menyenangkan, akan banyak uang, hidup bahagia, didampingi pasangan yang ideal baik dari segi harta atau agama, iya kan?”

Gadis itu mengangguk kuat, tapi tanpa kata pustun keluar dari mulut lagi. Mata gadis itu pun kini mulai bisa membuka, kepalanya masih berdenyut meski tidak sehebat tadi. Namun mulutnya masih terasa kaku, seolah dikuasai oleh tenaga lain.

“Kamu pasti di rumah sering nonton berita-berita politik ya?” Gadis itu mengangguk. “Sering baca-baca berita politik di internet atau koran?” Gadis itu mengangguk lagi. “Sering ikut demo-demo atau diskusi politik?” Gadis itu mengangguk untuk kesekian kalinya.

Mendadak dokter itu menangkap tangan si gadis, mengikatnya ke tempat tidur, lalu mengambil perban dan menutup kedua mata gadis itu. Ternyata tidak cukup sampai di sana, dokter itupun memplester telinga si gadis. Gadis itu tidak bisa berteriak, mulutnya masih terlalu lemah untuk digerakkan. Tapi masih terdengar jerit lirih dari bibirnya “Pustun… pustun… pustun…” Detik berikutnya, dokter itu menutup mulut si gadis dengan masker kain, jeritan lirih si gadis menghilang, badannya meronta-ronta sejenak lalu diam. Dokter tua itu tersenyum, lalu sambil mengusap keringatnya dia memanggil orangtua gadis itu masuk. Kontan saja ayah si gadis marah melihat anaknya diperlakukan begitu, hampir saja dia hendak memukul si dokter jika tidak ditahan oleh istrinya.

“Itu anak saya diapakan?!”

Dokter itu mengeraskan suaranya “Saya harus mengambil kedua mata anak bapak, lalu menutup jalur pendengarannya, dan terakhir memutus pita suaranya. Tentu maksudnya agar anak bapak tidak bisa melihat, mendengar, dan bicara lagi. Bapak dan ibu saya panggil masuk ke sini untuk menandatangani surat ijin operasi.”

“Lho, memang anak saya kenapa pak?!”

“Itu satu-satunya jalan menyembuhkan dia, sekarang!” dokter itu masih mengeraskan suaranya.

Ruangan itu hening sejenak, wajah ayah dan ibu si gadis tampak tidak percaya. Namun detik berikutnya dokter itu merangkul keduanya dan membawa ke pojok ruangan, jauh dari tempat tidur si gadis. Lalu dokter itu berbisik sambil merendahkan badannya “Sssttt, Ibu dan Bapak tenang, jangan panik. Ini cuma politik! Bapak bilang saja setuju dengan keras, itu pun sudah cukup.”

“Dokter ini maksudnya gimana sih?”

“Jadi begini pak, anak bapak itu ternyata terlalu banyak dijejali soal-soal politik, sementara jiwanya belum kuat. Yang kita saksikan dari pagi memang seolah dia ingin jadi pustun, padahal sebenarnya bukan dia yang mau. Tapi mulut, mata, dan telinganya yang bekerjasama menjejalkan itu ke alam bawah sadarnya, lalu berlanjut ke otaknya. Otaknya pun sudah tertipu, menyangka ini adalah keinginan murni si gadis. Karena terjadi ketidakseimbangan begitu maka reaksinya adalah sakit kepala, meracau, sedikit demam, sesak nafas, dan semua gejala yang sudah kita lihat tadi. Jadi ini betulan politik badan pak, kelihatannya yang salah adalah otaknya, padahal ini kerjaan mulut, mata dan telinga. Maka dari itu saya bilang mau cabut semuanya, biar mata, mulut, dan telinganya pada takut!”

“Terus apa hubungannya pustun dan politik pak dokter?”

“Karena pustun adalah istilah yang paling tenar saat ini di dunia politik kita. Pustun adalah suatu istilah yang sangat berbau politik. Di dalam sebuah pustun ada unsur-unsur pelengkap perpolitikan yaitu korupsi, kolusi, dan nepotisme. Lagipula, bapak ibu pasti setuju kalau saya bilang bahwa pustun cocok dengan ciri-ciri anak bapak yaitu: perempuan muda yang cantik. Secara naluri maka alam bawah sadarnya akan langsung mengarah ke sana. Menjadi pustun. Bapak ibu paham kan?”

“Kok bisa begitu dokter?”

Dokter itu tersenyum “Sebenarnya ini masalah sederhana, malah mungkin terlalu sederhana dan kelihatan tidak bersambungan. Ini semua terjadi karena anak bapak dan ibu terlalu lama single, dia terlalu pemilih soal laki-laki. Setiap harinya dia terus menunggu laki-laki sempurna datang, laki-laki mantap baik dari segi harta atau agama. Dia terlalu larut dalam itu, jadinya seperti ini.”

“Ah, dokter ngaco! Mana mungkin jadinya seperti ini?”

“Lho, saya bisa buktikan kalau analisa saya benar. Sekarang bapak… mari kita berdiri di samping tempat tidur dan bapak ucapkan ijin operasi yang tadi saya minta. Keras-keras pak, biar anak bapak bisa mendengar.”

Dengan heran ayah si gadis mengikuti saran dokter tersebut, dia berdiri di samping tempat tidur dan berkata keras “Yah sudahlah pak dokter, lakukan saja apa yang pak dokter mau. Biarin anak saya nggak bisa melihat, mendengar, dan bicara pun asal dia sembuh.”

Ajaib! Mendadak sekali ketiga pasang mata di ruangan itu melihat tubuh si gadis memancarkan aura ketenangan. Nafasnya jadi teratur. Dokter itu tersenyum, perlahan sekali dia membuka semua plester, tutup mata dan masker. Lalu membantu gadis itu duduk. Perlahan mata si gadis membuka. Dokter itu lalu bertanya

“Masih sakit kepalanya?” Gadis itu menggeleng. Dokter itu tersenyum

“Masih ada keinginan jadi pustun?” Gadis itu menggeleng lagi

“Bagus! Sekarang kamu sudah boleh pulang, saya tidak akan kasih obat apa-apa, kamu sudah sembuh kok.”

Kedua orangtua si gadis mengucapkan terimakasih yang dalam, lalu mereka bertiga diantar oleh dokter tadi ke pintu. Sebelum orang tua si gadis melangkah ke luar, dokter tadi berbisik “Perhatikan keinginannya pak, saya tidak bilang ini akan kambuh lagi, tapi kalau ada apa-apa langsung telepon saya saja.” Dokter itu mengulurkan kartu nama sambil tetap tersenyum, lalu mereka pun berpisah.

*****

Keesokan paginya, gadis itu terbangun, kali ini dia ingin menjadi sapi. []

aaa

Bandung, Desember 2013

aaa
aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Bekerja Untuk Saxophone
Beberapa orang mengenal saya sebagai novelis, beberapa mengenal saya sebagai editor film, kadang sering disebut juga sutradara film, dan beberapa orang yang lain mengenal saya sebagai peniup harmonika...
Mari Merayakan, Mari Menjeda
Kali ini saya ingin menulis tentang perayaan. Karena tadi malam, sekitar satu jam lewat dari tengah malam, di sebuah warung tenda, saya mendapati diri sedang menghadapi segelas besar jeruk panas, roti...
Gagal Deskriptif Karena Sombong
Maaf ya, ini bukan ri'ya atau pamer, tapi saya cuma ingin berbagi cerita soal masalah menulis yang saya temui hari ini... siapa tahu bisa jadi bahan masukan buat teman-teman yang lagi belajar menulis ...
Modal Penting Mencari Kerja
Pada suatu hari di grup alumni STM, ada satu orang teman yang mempost seperti ini: Temans… barangkali punya info lowker di bdg atau lg membutuhkan tenaga kerja di bdg lulusan SMA, pria, jujur, ulet…  ...
H-96: Kesalahan Dalam Menjiplak Senior
Saya masih bicara tentang urusan senior. Tapi kali ini saya ingin bicara tentang sebuah masalah standar yang terjadi pada seorang penulis baru, dan ini—tentu saja—juga terjadi di anggota-anggota Forum...
H-81: Mencermati Kelahiran Para Penyair
Pada bulan Agustus 2007, sepuluh tahun yang lalu, saya pernah menulis ini, dan saya agak terkejut melihat dalam persentese tertentu tulisan ini ternyata masih cukup relevan dengan Forum Lingkar Pena. ...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.