Berdiri di Atas Film?

1476549_10202833258176643_1161250027_nTerus terang gue kadang terlalu mendzalimi film Indonesia. Antara lain dengan jarang banget bikin ulasan film-film karya bangsa sendiri. Padahal banyak sih yang sudah gue tonton, tapi ya itulah kadang males bikin reviewnya. Terakhir gue masih nonton Radio Galau FM (Iqbal Rais, 2012), dan The Photograph (Nan Achnas, 2007), terus sampai sekarang masih penasaran ke film Laura & Marsha (Dinna Jasanti, 2013). Waktu itu gue sudah nunggu-nunggu—sampe tumben banget gue mantengin twitter XXI cuma buat nunggu info—juga sudah ngebongkar celengan buat persiapan beli tiket, tapi tampaknya film itu nggak diputer di XXI manapun di Bandung (atau gue ketiduran ya jadi lewat gitu aja infonya?)

Sebenarnya buat film Indonesia, fokus gue paling banyak ke film yang bagus tapi nggak banyak orang yang tahu macam Jermal, atau film yang bisa jadi penanda sejarah perfilman (apapun maksudnya lah) baik klasik atau modern macam The Raid dan Tjut Nyak Dien

Di luar itu… yah, ada sih film lain yang juga menarik versi gue… tapi jujur aja kalau AADC, Brownies atau Jomblo gue review sekarang itu namanya sudah super-duper-OOT-sekali, kan? Atau kelewatan juga sih kalau gue taruh review soal Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi, dua film itu sih sudah banyak banget yang nge-review, baik dalam bentuk tulisan seriusa atau sekadar status di media sosial.

Ini semua berlangsung sampai kemarin, dan semua berubah ketika negara api menyerang akhirnya gue baca kalimat Alexis Tioseco, kritikus film Filipina “The more films I saw, specifically local independent films, the more I wanted to see. The deeper I got, the more responsibility I felt, the stronger the need to do something, to share that which I found beautiful.”

Gue ketonjok! (sakit… sakiiiitt). Eh, ketonjoknya belum abis, Angga Rulianto (kritikus juga) sudah nyambung dengan pertanyaan “Berapa banyak dari kita yang sangat mengagumi film-film asing, tapi malah melenakan film lokal, atau yang lebih parah malah memukul rata bahwa film-film Indonesia itu bermutu rendahan? Berapa banyak dari kita yang tak perlu berpikir berulang kali ketika memutuskan untuk menonton lagi Avatar hingga tiga kali, padahal di waktu sebelumnya Kala, Pintu Terlarang, Hari Untuk Amanda, dan Rumah Dara tertatih-tatih mencari penonton? Berapa banyak dari kita yang lebih rela membeli tiket untuk menonton Iron Man 2 ketimbang Alangkah Lucunya (Negeri Ini) atau Menebus Impian?”

Kali ini gue ketusuk (jlebb… MATI!). well, memang sih gue nggak sampai tahap memukul rata film lokal dengan bilang semua itu jelek, gue masih bisa respek sama film Indonesia—bahkan yang sekonyol Bean Kesurupan Depe sekalipun—karena gue ngerti bahwa Indonesia memang baru seperti ini industri nya.

Gue juga nggak pernah membenturkan film Indonesia secara judul dengan film Eropa/Amerika karena gue tahu itu nggak fair. Bayangkan bukankah kerasa betapa ga pentingnya tulisan yang isinya cuma perbandingan film Conjuring vs Suster Keramas … Jauuhhh!  Iya kan? Sistemnya produksinya beda, sistem pemasaran dan sasaran konsumennya beda, bahkan harga kameranya juga mungkin beda.

Makanya kalo lagi ngereivew film, yang selalu gue benturkan itu soal teknis, misalnya cara casting pemain, gerakan kamera, kualitas akting, tata cahaya, kematangan skenario, plagiarisme, dll yang di seluruh dunia sama saja hukumnya (iya lah… gerak kamera pan left mau di Indonesia, Zimbabwe atau Timbuktu juga ya begitu-begitu terus).

Lalu, yang pasti selama mengkritik, gue berusaha untuk tidak berdiri di atas film karena begitu kita menempatkan diri di atas film, maka kita hanya masuk ke bioskop untuk mencari kesalahan film itu. Menyebalkan banget lah, padahal harusnya kita sebagai penonton berusaha untuk masuk ke dalam film, menikmati, dan nyari-nyari isinya… bukan kesalahannya.

Begitulah, jadi mungkin dalam beberapa review kedepan gue akan coba ngebahas Indonesia yang bagus meski belum banyak orang yang tahu, atau film jelek yang bisa jadi contoh kejelekannya. Beberapa yang masuk list gue adalah Bukan Cinta Biasa, The Photograph, Radit Jani dan Punk in Love. Tambahannya nanti pasti nemu sendiri di tengah jalan 😀

Biarin deh bahasannya termasuk ke kategori film-tema super-duper-OOT juga lah. Siapa tahu masuk ke collector edition!

Share This:

Related posts:

Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor
Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, ...
Superhero Indonesia Go Internasional
Sepanjang tahun 2010-2011, bioskop kita banyak diserbu sama film-film superhero!  misalnya saja Kickass (Matthew Vaughn, 2010), Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), Jonah Hex (Jimmy Hayward, 2010), The Gre...
Agni, the Loveable...
Sudah lama nggak ngupdate cewek of the week, alasan pertama karena migrasi server, alasan kedua karena lupa terus! Aduh ini otak memang sudah mendekati pikun. Padahal harusnya ini saya update seming...
Buried, Film Panjang dengan Satu Aktor!
Wew, satu kata buat film ini: Briliant! Serius, tadinya saya merasa agak pesimis ketika ada teman yang menyarankan  nonton. Itu karena saya berpikir: apa mungkin ada film yang enak ditonton 90 menit, ...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian,...
Charlene Choi, Kamu Cocok Buat...
Setelah nyaris sebulan blog saya vakum—meski sebenarnya banyak bahan yang bisa ditulis—karena saya kebingungan: mana duluan yang harus ditulis. Tapi ternyata semuanya berubah karena seorang cewek, leb...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.