Minah, Menyentil Saat Tak Dipahami

ciricara.com-tki_malaysiaMenonton film seharusnya menjadi kegiatan yang penuh dengan keterlibatan emosional, apalagi jika cerita film itu mengangkat kasus yang sebenarnya lekat dengan kehidupan kita. Keterlibatan emosional ini penting karena dalam beberapa jenis film, pendalaman rasa dari orang yang menonton menjamin pesan-pesan film itu akan sampai padanya. Sebab seperti yang kita tahu, beberapa karya seni memiliki inner message, sebuah pesan tersembunyi yang hanya ditangkap oleh orang yang jeli dan memiliki keterlibatan emosional dengan karya tersebut, sampai dengan level tertentu. Pada karya seperti ini, keterlibatan penikmat—dan tentu saja pemahamannya—akan melengkapi keberadaan karya itu hingga menjadi utuh secara seni.

Disinilah kita memerlukan apa yang disebut realisme. Sebuah teori yang  pertama kali disuarakan oleh kritikus film Prancis, André Bazin, dimana dia berpendapat bahwa kekuatan terbesar sinema justru terletak pada kemampuannya menghadirkan kembali realitas sebagaimana aslinya. Sementara memahami realita tentu saja bergantung pada kualitas pendidikan, bacaan, tontonan, dan aspek-aspek lain dalam kehidupan si penonton.

Bila dicermati, film Minah Tetap Dipancung (Dedi Kobutz, 2013) termasuk ke dalam film dengan jenis seperti itu. Ada realisme yang mengusung sebuah pesan tersembunyi. Pesan yang lebih berat dari “sekadar” cerita tentang seorang TKW yang dihukum mati. Dalam hal ini, pembuatnya tentu ingin agar penonton menangkap pesan itu agar film tersebut menjadi lengkap. Pembuatnya ingin penonton mencoba terlibat secara emosional dan memahami setiap jenis perasaan yang timbul saat menontonnya.

Pertanyaanya: bagaimana mungkin kita bisa terlibat secara emosional jika kita tidak mengerti urgensi tema film tersebut? Bagaimana membangkitkan emosional penonton jika kasus seperti yang dialami Minah tidak terlalu kita pedulikan. Karena jujur saja, pada sebagian besar penonton kasus macam ini selalu terasa jauh namun sebenarnya dekat. Ibaratnya, kita tidak akan bisa sadar akan adanya pemancungan TKW, sebelum situasinya menimpa kita atau kerabat kita sendiri.


Minah: Bukan Individu

Ada sebuah sisi yang unik dari film ini.Dari berbagai kemungkinan inner message  yang muncul, ternyata yang terbesar justru hadir ketika kita sebagai penonton tidak bisa merasakan keterlibatan emosional seperti yang disebutkan di atas tadi. Maksudnya, para penonton yang tidak bisa masuk ke dalam emosi cerita akan otomatis tergabung dalam kelompok tertentu.

Kelompok-kelompok tersebut muncul karena sebenarnya karakter-karakter dalam film ini hadir sebagai perwakilan dari sebuah kelompok, bukan individu yang memiliki konflik pribadi. Salah satu contoh terbaik penggambaran karakter seperti ini ada dalam film The Breakfast Club (John Hughes, 1985).

Artinya, membaca seorang Minah saja menempatkan kita dalam sudut pandang yang lebih luas. Memandang sosok Minah membuat kita menarik garis himpunan pada sekelompok orang yang bernasib sama dengannya. Minah tidak membawa konflik pribadi yang unik. Minah adalah pembawa pesan sebuah kelompok tertentu yang sebenarnya bisa saja rutin bergesekan dalam ritme kehidupan kita semua.

Resikonya, sebagai penikmat dari film jenis seperti ini—yang memiliki inner message dan melibatkan penonton untuk melengkapi karya—maka para penonton pun harus dipandang sebagai perwakilan kelompok, bukan lagi individu. Pengelompokan ini tergantung pada reaksi-reaksinya terhadap kisah seorang Minah.

Lantas, inner message macam apa yang dirasakan oleh kelompok penonton yang tidak bisa merasakan keterlibatan emosional dengan cerita Minah?


Pertanyaan Besar Dari Minah

Bila dicermati, karakter-karakter itu semua bersatu dan bergerak meyajikan inner message yang menyuntik penonton secara diam-diam. Apa suntikan terbesar dari cerita ini? Tidak lain semacam tuntutan nasionalisme yang—meski bersifat arkais—namun masih bisa dipaksakan relevan di masa kini, apalagi faktanya Indonesia belum bisa menemukan bentuk baru dari rasa nasionalisme itu kecuali lewat satu hal: Apapun yang melawan negara adalah anti-nasionalis.

Sebab kita sebagai penonton sebenarnya diharapkan untuk bertanya: apakah peristiwa ini mengganggu saya? Karena saya merupakan warga negara Indonesia—yang juga sama Indonesianya dengan kelompok manusia yang diwakili Minah—artinya masalah Minah harusnya jadi masalah saya juga, penderitaan keluarga Minah harusnya jadi rasa yang dipeluk oleh saya juga.

Perspektifnya: ketika harga diri Indonesia digambarkan sedang disepelekan—dengan pemancungan salah seorang warga negaranya—sejauh mana rasa nasionalisme saya sebagai penonton akan terusik?

Itulah inner message yang bisa kita tangkap dalam film Minah Tetap Dipancung, sebuah sentilan yang bertujuan mengusik kestabilan, membuat kita bertanya-tanya: Sebebal apakah hati kita menyaksikan cerita tentang penderitaan sesama orang Indonesia? Apakah kita memang benar-benar tidak bisa bereaksi apa-apa? Apakah kita merasa jauh dari hal-hal semacam itu? Sebab jangan-jangan kita pun sebenarnya bisa bereaksi, hanya saja kita belum menemukan momentum yang tepat untuknya.

Semua kembali pada penonton, sekuat apakah sentilan Minah pada kita, justru saat kita tidak memahaminya?

 

 

Bandung, September 2013

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=98fvKwOBezs]

Share This:

Related posts:

Superhero Indonesia Go Internasional
Sepanjang tahun 2010-2011, bioskop kita banyak diserbu sama film-film superhero!  misalnya saja Kickass (Matthew Vaughn, 2010), Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), Jonah Hex (Jimmy Hayward, 2010), The Gre...
Prekuel, Sekuel dan Spin Off
Di sebuah blog film  saya membaca tulisan begini: "...maka hadirlah “Terminator Salvation” yang bisa dibilang sebagai sekuel ke-4 ... menyusul “X-Men Origins: Wolverine,” “Star Trek” dan “Ange...
Rumah Putih #4: Ketika Rok Prisia Tersingkap
Dapatkah seorang aktris menafikan kehadiran orang lain ketika dia dituntut untuk merasa sendiri? Prisia Nasution akan menjawab, “Tidak.” Bermain dalam Gala Sinema SCTV “Cinta tak Pernah Salah”, Pris...
Soal Musik dan Bayaran
Kemarin saya nonton film Bean (Mel Smith, 1997) di TV. Kalau ada yang pernah nonton film ini, tentu ingat scene ketika Mr Bean dan David Langley pulang jalan kaki sambil mabok. Disana mereka nyanyi (d...
Mencari Hilal: Film (yang) Indonesia
Saya menonton film Mencari Hilal di Bandung, ketika itu saya dapat undangan premiere nya di XXI Empire. Dan seperti biasa, ketika akan menonton film Indonesia dimanapun juga maka saya akan mengosongka...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.