Perpaduan Budaya di Good Morning Vietnam

MSDGOMO EC011Baru tadi malam gue nuntasin film ini. Iya, nontonnya dibagi dua karena sekarang-sekarang nggak tahu kenapa sulit banget namatin sebuah film dalam sekali duduk. Kalau gue mau bilang sibuk ntar takut disangkanya sombong lagi, hehe… padahal memang masalahnya kali di manajemen waktu nih *eh kok malah curhat!

Awalnya tertarik sama Good Morning Vietnam karena mantan pacar gue bilang, dulu pas kuliah dosennya nyuruh nonton ini.Gue mikir: aneh juga… dia kan kuliahnya bidang penyiaran, kok disuruh nonton film? Eh, ternyata pas cek-cek di imdb memang wajar karena film ini bercerita tentang kehidupan seorang penyiar radio. Apalagi yang mainnya Robin Williams! Jaminan keren nih!

Maka, gue curicari film ini dan nonton sampai tamat. Hasilnya? Ada beberapa hal yang terjadi, antara lain:

(1) Setelah lama sulit mencari aktor luar kulit putih favorit selain Jhonny Depp dan Jim Carrey, sekarang gue dengan mantap menjejalkan Robin Williams masuk ke list. Memang sih gue sudah lama ngikutin film dia macam Dead Poet Society, Patch Adams, atau One Hour Foto, tapi gue belum masukin dia ke list justru karena film-film dia yang menurut gue just have fun macam seri-seri Night at the Museum, Mrs Doubtfire, Jumanji, atau Flubber.

Lah, memangnya kenapa kalau dia main di film have fun? Memang nggak salah sih, tapi mungkin memang karena gue ga suka aja sama film-film have fun dia.  Atau memang dengan muka dia yang serius macam itu, aromanya agak kurang nyetel sama film komedi/remaja. Gue lebih enjoy dia merankan tokoh dewasa dengan konflik serius. Beda sama Jim Carrey yang dari awal menempatkan dirinya di jalur komedi.

Tapi setelah lihat ini, gue nyadar… memang dari awal harusnya gue masukin Robin ke dalam list aktor favorit gue, tidak tergantung dari film apapun yang dia mainkan. Soalnya gue lihat akting dia memang selalu total, terlepas dari peran apapun yang dia mainkan. Di film ini saja gue terpana ngeliat cara dia menggabungkanberbagai skill akting seperti improvisasi, gestur wajah, bahkansampai ada stand up komedi, segala! Bahkan gue curiga adegan-adegan dia siaran itu sebenarnya murni improvisasi, karena jelas susah banget memainkan script dengan gaya seperti itu. Ini sih antara penulis skenarionya yang jago banget, atau memang tadi… improvisasi Robin Williams

Good-Morning-Vietnam-05

(2)Ngebahas aktor, ga akan seimbang tanpa ngebahas aktris. Nah, di film ini ada salah satu aktris Thailand tahun 80-an, namanya Chintara Sukapatana, dan dia sudah sukses membuat gue terpana (Sukapatana – terpana… hei, kalimat berima! Hehe… ga penting!).

Euh… tapi beneran lho, secara muka dia cantik murni, mirip sama penampilan Nurul Arifin di film Nagabonar (MT Risyaf, 1987).  Sampai-sampai gue mikir, apa memang aktris-aktris Asia Tenggara di pertengahan tahun 80-an tampilannya murni kaya begini semua? Wew… jadi pengen balik ke jaman itu! (terus mau ngapain? Ga jelas juga!)

Salah satu hal yang gue tandain menyangkut keberadaan dia di film ini adalah akting dia yang meyakinkan sebagai: orang Asia Tenggara dengan bahasa Inggris yang sangat terbata-bata (setting ceritanya kan tahun 50-an jadi wajar kalo penggambaran level bahasa Inggris rata-rata orang Asia Tenggara ya baru sejauh itu).

Maksud gue gini, Chintara yang—gue yakin—pinter bahasa Inggris, ternyata bisa memainkan peran sebagai seorang perempuan kampung yang tipikalnya ketika ngomong sama bule itu orang Asia banget, yaitu:ragu-ragu, sering menutup pembicaraan dengan bahasa tubuh atau tertawa, dan tentu saja logat Vietnam yang kental banget (padahal dia orang Thailand lho!) Akting cute begitu, ditambah wajahnya manisnya… asli bikin gue makin hornyenjoy menikmati film ini 😀

5032044745_6229ff10b2_z

(3)Hal berikutnya yang bikin Good Morning Vietnam ada di list film yang gue suka adalah karena film ini merupakan salahsatu film yang isinya “hanya bercerita” artinya penonton nggak dipaksa mengikuti konflik yang harus selesai.

Mungkin stratanya mirip sama Before Sunset atau Before Sunrise. Pokoknya penonton hanya diminta mengikuti kegiatan si tokoh utama sampai selesai. Memang benar sih, bahkan di film ini konfik yang muncul nggak sepenuhnya selesai karena Robin Williams dikisahkan balik lagi ke Amerika tanpa susah payah menyelesaikan masalah. Tergantung selera sih, tapi gue pikir ini salah satu cara bercerita yang menyenangkan untuk diikuti. Soalnya, nggak semuya masalah dalam hidup kita harus dibereskan kok, ada yang harus dibiarkan beres dengan sendirinya.

Ah, mungkin gue aja yang males beresin ini sih 😀

Tapi, ini film yang menurut gue layak tonton. Mungkin nyarinya bakal rada sulit, tapi sebanding lah sama kenikmatan menontonnya.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=3mJoHqmtFcQ]

Share This:

Related posts:

Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay
Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalny...
Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian,...
Rumah Putih #4: Ketika Rok Prisia Tersingkap
Dapatkah seorang aktris menafikan kehadiran orang lain ketika dia dituntut untuk merasa sendiri? Prisia Nasution akan menjawab, “Tidak.” Bermain dalam Gala Sinema SCTV “Cinta tak Pernah Salah”, Pris...
Rumah Putih #5: Ketika Peranan Menjadi Diri
Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? “Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku pera...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Perpaduan Budaya di Good Morning Vietnam

  • 23/10/2013 at 11:18
    Permalink

    pernah beberapa kali mendengar ucapan kang Toto de Boled “good morning vietcong” atau semisalnya dengan kalimat vietcong bukan vietnam…apakah gara2 film ini ? bisa jadi ya…

  • 25/10/2013 at 07:53
    Permalink

    bisa jadi… ini kan film wajib tonton buat penyiar radio, tp kl ditonton sama MC atau reporter jg masuk sih

Leave a Reply

Your email address will not be published.