[Curhat] Ngasih Skenario Itu Ada Etikanya!

ScriptAwalnya sih, gue harus memandu semacam tim anak-anak SMA yang mau bikin film. Sebenarnya kalau urusan sampai tahap produksi (syuting) sih mereka sudah pengalaman—dengan 50% tim yang sekarang ini mereka pernah dapat film terbaik se-Jawa Barat gitu lah—tapi ternyata untuk tahap developing mereka masih pada bingung.

Lah, kok tim yang di developing masih bingung tapi bisa dapet juara? Ya… itulah yang bikin gue super bingung! Tapi sudahlah, gue juga merasa film mereka yang juara kemarin itu masih jelek kok. Gue curiga sih kalau piala terbaik Jawa Barat itu karena “kebetulan” film peserta lain masih lebih jelek dari mereka. (Ada yang marah? Sini ngomong sama gue!)

Seperti yang kita tahu, proses developing adalah proses pertama dalam sebuah pembuatan film. Secara sederhana, proses di tahap ini adalah bikin skenario dengan triangle system (Produser-Sutradara-Penulis Skenario). Di developing, kalau bisa jangan banyak orang yang terlibat, soalnya nanti malah ribut sendiri nentuin alur cerita. Secara logika juga jelas, makin banyak kepala, makin banyak ide dan masukan, makin banyak potensi berantem.

Oke, balik ke curhat. Jadi dari awal gue sudah kaget karena mendadak disodori skenario 52 halaman untuk diperiksa. Gue pikir, gila aja ngabisin waktu baca tulisan setebal ini sementara ini masih belum draft yang fix juga! Nah, jadi nggak salah juga dong kalau gue nagih sinopsisnya. Eh, ternyata mereka belum buat!

Reaksi pertama: gue bengong! Kok bisa bikin skenario tanpa sinopsis dulu? Kalau bikin novel gue ngerti lah, kadang sinopsis bisa dibikin terakhir. Tapi jelas penulisan novel dan skenario tahapannya beda banget. Akhirnya—dengan harap-harap cemas—gue nagih treatment, atau minimal premis. Tapi ternyata sama saja, mereka belum siapin itu!

OMG! Ini masalah filmmaker pemula, kadang mereka nggak peduli sama tahapan di developing karena yang ada di otak mereka itu cuma syuting, syuting, dan syuting. Padahal karena bikin film adalah kerja tim, maka perlu berbagai sarana untuk menyampaikan pemikiran si sutradara kepada tim tersebut. Karena itu ada yang namanya premis, sinopsis, treatment, ataupun storyboard. Semua komponen itu sudah jelas ada gunanya! Tolol aja kalau nggak dipake. Nggak usah dipake semua sih, kalau malas sih minimal 1-2 juga cukup deh… yang penting nggak langsung nulis dalam bentuk skenario.

Lah, memangnya kenapa kalau ngasih berbentuk skenario?

Logikanya begini deh, untuk menyampaikan gambaran, ide, dan pemikiran sutadara ke seluruh crew, produser, penyandang dana, atau malah ke PH profesional perlu dilakukan dengan cara sesingkat mungkin. Kadang orang yang kita hadapi itu banyak urusan, atau malah nggak punya skill memahami skenario yang tebal (ada lho orang yang tahan nonton film berjam-jam, tapi ga suka baca tulisan banyak!).

Lagipula, rasanya agak kurang punya etika aja kalau kita berhadapan sama orang yang akan kita ajak kerjasama (duit atau tenaga)  terus kita sodori skenario 80 halaman! Asumsikan saja bahwa orang sibuk, nggak sempat baca begituan. Terus kalau memang urusannya bisa dipersingkat, kenapa dibikin ribet?

Kalau sudah tahu premisnya, kita tinggal bilang begini, “Mau bikin film komedi, ceritanya tentang seorang superhero yang celana dalamnya ketinggalan di rumah seorang janda, akhirnya satu kampung nyari superhero itu buat dikawin paksa sama si janda”

Memang sih itu bukan premis yang bagus, tapi… look, that’s really simple dude! Daripada nyuruh si bapak berduit baca skenario sampai matanya berair!

Etika man, etika!

Share This:

Related posts:

Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor
Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, ...
Prekuel, Sekuel dan Spin Off
Di sebuah blog film  saya membaca tulisan begini: "...maka hadirlah “Terminator Salvation” yang bisa dibilang sebagai sekuel ke-4 ... menyusul “X-Men Origins: Wolverine,” “Star Trek” dan “Ange...
Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay
Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalny...
Basic Instinct Itu Menyehatkan Mata
Karena saya lagi nulis novel yang ada unsur psikopatnya, maka saya merasa wajib nyari banyak literatur soal kehidupan seorang psikopat. Kalau dari baca buku sudah, e-book novel soal pembunuhan numpuk ...
Rumah Putih #5: Ketika Peranan Menjadi Diri
Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? “Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku pera...
Mbak Laura, Kapan Main Ke Rumah?
Beneran, beberapa waktu lalu di Kaskus sempat muncul beberapa thread ketika orang ini nikah. Tapi gue nggak buka thread-thread tersebut, males aja ngelitin gosip artis. Tapi efeknya ternyata, gue jadi...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “[Curhat] Ngasih Skenario Itu Ada Etikanya!

  • 27/08/2013 at 16:06
    Permalink

    eh kalau mau ikut liebster and sunshine award boleh loh 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.