Django Unchained: Happy Ending versi Holywood

Salah satu sutradara—mungkin malah satu-satunya—yang saya suka adalah Quentin Tarantino. Walaupun saya kenal karya dia agak telat, yaitu dari Kill Bill I (2003). Kalau sutradara lain saya jarang memperhatikan, soalnya kalau ngeliat film biasanya saya fokus ke sinopsis dan aktor-aktris nya. Misalnya: saya tahunya kalau sutradara Jurrasic Park itu Steven Spielberg baru pas ngeliat credit title-nya, terus sampai sekarang saya masih suka kebalik-balik antara Peter Jackson dan George Lucas, hehe… beneran! 😀

Balik ke tema. Kenapa saya bisa suka Quentin lewat Kill Bill? Yah, karena di sana dia banyak pakai narasi dan chapter. Mungkin karena basic saya adalah penulis novel, maka jelas saya langsung tertarik dengan tipe film yang pakai dua hal itu; terutama karena ada mirip-miripnya sama gaya menulis novel—atau setidaknya, gaya saya nulis novel. Nah setelah itu baru saya berusaha nonton karya dia yang lain macam Pulp Fiction (1994), Reservoir Dogs (1992), dan Inglorious Basterds (2009). Maka makin sukalah saya sama gaya filmnya.

Satu tambahan lagi: ternyata cara penanganan karakter-karakter di film Quentin itu realis banget.

Jadi gini, dalam film Quentin nggak ada tuh yang namanya superhero. Semua tokoh—bahkan yang sangat superior sekalipun—bisa melakukan kesalahan yang konyol, atau mati dengan gampang banget. Well, bukankah itu realita kehidupan? Kita semua bisa mati kapan saja, dengan cara apa saja, nggak peduli kita sekuat apa pas hidup. Kita semua bisa bikin kebodohan yang nggak disangka, nggak peduli kita profesor atau anak TK.

Terus satu lagi, ending di film-film Quentin bisa dibilang hampir semuanya menggantung. Di Kill Bill I, ya ternyata Bill nya nggak ada (dan perlu sekuelnya buat ketemu si Bill). Di Inglorious Basterds… cerita selesai di kebodohan Kolonel Hans Landa (yang sangat super pinter sepanjang film), apalagi di Pulp Fiction yang endingnya masih sangat-sangat terbuka (dan pasti ngebingungin buat yang baru nonton pertama kali).

Tapi ternyata ketika nonton film terbarunya, Django Unchained (2012), saya lihat Quentin bisa juga bikin ending beneran lho! Soalnya film ini—mungkin—adalah film Quentin pertama dengan happy ending versi Hollywood: Si tokoh utama mengapai keinginannya, that’s it!

Terus saya agak surprise juga sih ngeliat tidak adanya chapter-chapter, dan karakter Django yang sangat hero, seperti: dia nggak mati-mati sampe akhir, pas tembak-tembakan juga dia nggak kena. Lalu seperti cerita seorang hero pada umumnya,Quentin juga menyusun plot si Django pake rumus standar: seorang yang terpuruk – ketemu guru penyelamat – latihan keras – jadi jagoan – ketangkep – disiksa – bebas – balas dendam ke si penyiksa – ngancurin markas besar penjahat – menang plus dapet cewek – pergi berdua ke arah cakrawala.

Well, apakah saya kecewa dengan perubahan gaya Quentin? Sebenarnya nggak sih, saya cuma mikir mungkin Quentin sedang eksperimen atau sedang iseng. Apalagi sebenarnya dia tetap mempertahankan keunikannya seperti: antitesis Holywood style, dead body POV, dan long scene dialogue. Terus yang pasti, karena plotnya tetap rapi maka saya bisa menikmati cerita dengan baik.

Secara garis besar sih nggak ada masalah dengan Djano Unchained, cuma saya berharap Quentin kembali ke gaya asli di film-film berikutnya. Terutama urusan chapter-chapter dan anti hero.[]

aaa

Share This:

Related posts:

Pengkhianatan Film Pada Novel, Kenapa Tidak?
Dalam sebuah diskusi film KCB, Hikmat Gumelar mengatakan bahwa film Ayat Ayat Cinta (AAC) lebih berhasil karena dia berani “mengkhianati” novelnya. Ini pernyataan yang menarik lantaran pernyataan ini ...
Nonton Downfall: Merinding Dini Hari
Saya yakin  sudah banyak yang menonton film ini. Ya, soalnya ini film lama, rilis tahun 2004 di Jerman (kalau rilis di USA tahun 2005) dengan disutradarai oleh Oliver Hirschbiegel. Film ini masuk kate...
2012: Indonesia Perlu New Wave Lagi
Sebenarnya, new wave adalah sebuah istilah ciptaan media sebagai sebutan pada sebuah kegiatan pembaharuan dunia perfilman di suatu negara. Ciri-cirinya sama yaitu pertama, selama beberapa tahun perfi...
Charlene Choi, Kamu Cocok Buat...
Setelah nyaris sebulan blog saya vakum—meski sebenarnya banyak bahan yang bisa ditulis—karena saya kebingungan: mana duluan yang harus ditulis. Tapi ternyata semuanya berubah karena seorang cewek, leb...
Film Fantasi dan Fiksi Ilmiah Indonesia: Adakah?
Pertanyaan di atas mungkin sulit dijawab. Di Indonesia, genre film fantasi dan fiksi ilmiah kalah populer dibandingkan drama percintaan dan tema horor-mistik. Mungkin lantaran biaya produksi film fant...
Goodbye Dragon Inn
Bulan Desember ini saya memang sudah rencana untuk menonton film-film dengan ritme yang lambat. Tidak ada alasan khusus. Euh... ada sih... yaitu untuk lebih menghayati kesendirian, kesepian, dan kerin...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Django Unchained: Happy Ending versi Holywood

  • 09/08/2013 at 11:34
    Permalink

    eh sama jay, gw juga pertama kenal dia lewat Kill Bill Vol. I, nih film unik gitu, film laga karena banyak kekerasan dan berdarah-darah tapi juga banyak dialognya dan harus mengernyitkan dahi untuk memahami alur ceritanya melalui dialog2, karena loncat2 gitu pake chapter2an kayak baca novel…untk Django Unchained, hahahaha…mungkin ga mau lepas dari karakter Django versi jadul nya ya yg memang jagoan hanya yg ini seorang negro..dan seperti biasanya, bertebaran bahasa2 kasar yg bikin repot tim sensor kalo nih film masuk Indonesia..

Leave a Reply

Your email address will not be published.