Hasil Jarahan: Swing Girls

Kebiasaan saya menjarah komputer teman demi untuk mengumpulkan film kadang membuat saya beberapa kali nemu film-film bagus (Atau mungkin tepatnya bukan film bagus sih, tapi film yang memang sedang saya perlukan, atau minimal cocok sama selera. Soalnya film bagus bukan jaminan disukai semua orang kan?). Yah, dalam peristiwa penjarahan, sering juga sih saya nemu film sampah—atau bokep—eh, beneran… saya pernah nemu film bokep 3gp di folder Elephant nya Gus Van Sant! Hehe, langsung saja saya pindahin ke folder khusus hapus permanen, menuh-menuhin harddisk aja.

Nah, kemarin itu kebetulan saya dapat film bagus dari kegiatan menjarah. Judulnya Swing Girls (Shinobu Yaguchi, 2004), sebuah film komedi remaja Jepang yang plotnya ringan banget. Pemeran ceweknya juga cakep-cakep dan mengingatkan pada film JAV, ceritanya tentang perjuangan sekelompok remaja SMA yang mau bikin band jazz.

Jujur aja, awalnya saya sempat memandang remeh, saya pikir “Ah paling film kacangan, cinta anak muda gitu”. Tapi ternyata seperempat film jalan, pandangan saya berubah!

Apa yang bikin saya suka sama film ini? Pertama, jelas karena skenarionya ternyata nggak melupakan ketelitian proses, yang endingnya menuju perwujudan mimpi tokoh-tokohnya (dalam kasus film  Swing Girls, tentu maksudnya mereka bermimpi bikin grup band yang bagus).

Soalnya gini, dalam contoh sebuah film yang nggak bener—saya ga bilang film Indonesia ya, ini bisa film manapun juga—ceritanya kadang melompati sebagian besar proses, tahu-tahu si tokoh utama juara satu, atau tiba-tiba jadian sama pujaan hatinya hanya dari proses yang kadang buat penonton malah bingung. Ada sih prosesnya, tapi nggak jelas sebab akibatnya. Eh, ini saya nggak ngomongin sinetron Indosiar, yang sama sekali ga pernah ngasih kejelasan darimana muncul burung elang raksasa, dan piaraan siapa! Maksud saya dengan kalimat” film yang nggak bener” itu yang stratanya dua tingkat di atas film Indosiar lah…

Dalam Swing Girls, ada proses yang bikin penonton enjoy ngikutinnya. Proses dari mereka nggak punya alat musik sampe bisa maen di sebuah festival itu nggak gampang, misalnya: mereka nyari kerja sampingan dulu, dikejar-kejar babi hutan, dilempar dan diusir pas maen, tokoh utama saja mesti sampe ngejual komputer dan nyuri Play Station punya adiknya buat beli saxophone bekas. Terus mending kalau semua barang yang mereka beli pada bagus, ini sih pada butut dan beneran perlu direparasi sampe dilas-gerinda segala, bahkan sampai mereka nemu tikus di dalam perangkat drum! Gila, itu sudah berapa ratus tahun drum nggak dipake? Jadi ceritanya nggak segampang: mau bikin band – minta duit ke ortu – beli alat musik – latihan – pinter – maen di festival.

Ya, memang FTV Indonesia juga kadang ada yang bagus proses ceritanya, tapi menurut saya FTV itu juga masih kurang dramatis. Padahal dramatisasi penting banget buat cerita jadi menarik, dan dramatisasi yang paling gampang adalah dengan membenturkan dua kenyataan yang berlawanan. Dalam film ini, salah satu scene dramatisasi yang bagus adalah ketika mereka memperbaiki alat musik di bengkel mobil! Adegannya: drum disambung pake baut mobil, terompet dilas, saxophone digerinda. Wew… bayangin betapa tidak nyambungnya kata “saxophone” dan “gerinda”, tapi itu mereka lakukan, dan tentu saja scenenya jadi menarik.

Lalu hal kedua yang bikin film ini bagus adalah performance mereka yang bagus di ending.

Jadi begini, film yang mengandung unsur musikitu ada tiga jenis. Pertama jenis film musikal, misalnya Petualangan Sherina (Riri Riza, 2000) atau Dream Girls (Bill Condon, 2006). Biasanya tokoh-tokohnya dikit-dikit nyanyi, sebagian film India dan sinetron ajaib Indosiar masuk kategori ini. Jenis kedua adalah film yang background ceritanya tentang dunia musik, tapi masalah yang dibahasnya bukan itu, misalnya Garasi (Agung Sentausa,2006) atau Once (John Carney, 2007). Dalam jenis kedua, tokoh-tokohnya memang sih berjuang untuk mencapai satu posisi tertentu di dunia musik, tapi biasanya konfliknya itu berkisar urusan cinta, persahabatan, atau keluarga yang berusaha mereka pecahkan sambil terus main musik.

Nah lalu jenis ketiga adalah film yang tujuan si tokoh utamanya adalah musik itu sendiri. Dalam film jenis ini si tokoh utama beneran berjuang sampai akhirnya dia punya prestasi yang diakui di bidang musik. Swing Girls masuk ke film jenis ketiga, di kelompok ini ada juga The School of Rock (Richard Linklater, 2003).

Repotnya dalam film jenis ketiga ini—saya pernah nulis artikel seriusan tentang realisme dalam film—penonton harus dibuat percaya bahwa tokoh utama memang beneran menempati posisi satu dalam urusan musik karena lagu yang bagus atau performance yang bagussehingga penonton bakal bilang “Oh ya wajar mereka juara satu, performance nya bagus gitu kok!”. Soalnya, sekali saja penonton dibuat ga percaya—“Idih, kok bisa jadi band papan atas? Lagunya jelek gitu!”—mereka akan merasa film itu nggak nyata dan cerita bisa dibilang gagal.

Ini beneran lho, dalam The School of Rock, saya menemukan lagu dan final performance yang bagus banget, sementara dalam Swing Girls saya menemukan performance yang sempurna dan seksi. Sebenarnya The School of Rock setingkat lebih sulit sih karena sampai menciptakan lagu baru—yang harus bagus—dibanding Swing Girls yang “hanya” tampil di panggung, tapi setidaknya dalam kedua film itu, final performance mereka bagus banget dan memaksa penonton percaya bahwa kedua band ini layak jadi juara satu.

Oh iya, satu lagi yang bikin saya suka Swing Girls. Di sini ga ada cerita cinta, asli beneran cuma perjuangan dan persahabatan. Mantap banget, sebab kadang saya ngerasa cerita cinta bisa mengganggu kenikmatan nonton film, kecuali… kalau filmnya memang bercerita tentang kenikmatan bercinta… EH! UPS… 😀

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor
Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, ...
Prekuel, Sekuel dan Spin Off
Di sebuah blog film  saya membaca tulisan begini: "...maka hadirlah “Terminator Salvation” yang bisa dibilang sebagai sekuel ke-4 ... menyusul “X-Men Origins: Wolverine,” “Star Trek” dan “Ange...
Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)
Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Vid...
Hiper-realitas Layar Kaca Indonesia
Dua orang anak perempuan berlari dikejar kepiting raksasa. Mereka berteriak minta tolong sambil terus berlari. Ternyata dari depan muncul ibu mereka disertai orang kampung yang membawa senjata. Dengan...
Charlene Choi, Kamu Cocok Buat...
Setelah nyaris sebulan blog saya vakum—meski sebenarnya banyak bahan yang bisa ditulis—karena saya kebingungan: mana duluan yang harus ditulis. Tapi ternyata semuanya berubah karena seorang cewek, leb...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Hasil Jarahan: Swing Girls

  • 25/07/2013 at 13:20
    Permalink

    wkwkwkkwkwkw..film kenikmatan bercinta itu masuk kategori film how to ya kang ?

Leave a Reply

Your email address will not be published.