Kembali Ime’ Membuat Gue Berpikir Tentang Arti Kemajuan

Charlie ChaplinTadi malem, seperti biasa, sekelompok anak-anak agak tua *yah gitu lah* ngumpul bareng, makan bareng, cerita gitu deh. Sharing. Ada beberapa orang yang mendengar ceritanya, membuat gue iri banget. Jujur, I was so jealous. Karirnya menapak, dikejar-kejar perusahaan lain, everything just went so ‘easy’ for them. Istilahnya, mereka cuman ngerjain apa yang mereka kerja’in aja, terus tiba-tiba, mereka ditarik kesini dan kesana.

Gue tiba-tiba merefleksi pada diri gue sendiri. Berdiri di posisi yang mana sih gue sebenarnya?

Gue adalah orang yang mungkin punya pengharapan sangat besar akan hidup gue. Gue berharap gue bisa kesini dan kesana, melakukan ini dan itu, istilahnya, gue punya mimpi yang sangat jauh di mato, tapi untuk kesananya, kok gue merasa nggak ada satu pun anak tangga yang kelihatan yah?

Walaupun begitu, gue cuman ngerja’in apa yang memang sudah sepatutnya untuk gue kerjain. As a perfectionist person, gue selalu berusaha untuk give my best. Semuanya gue pikirin. Gue buat ‘to do list’, priority, buat setiap aspek kehidupan gue supaya gue nggak lupa.

Gue pribadi merasa statis. Diam aja disini. Walaupun memang agenda gue amat sangat penuh dengan segala aktifitas gue, my ‘to do list’ mulai gue tick satu-satu, but gue masih merasa stuck aja, not going anywhere.

Temen gue tadi pagi bilang gini, “Mungkin elo gak nyadar aja kalo’ elo dah maju,” membuat gue termenung. Is it? Apakah memang gue sudah maju? Takarannya apa?

Gue selalu diajarin bahwa kita itu nggak pernah mundur, tapi akan selalu maju. Nggak akan pernah turun, tapi selalu naik. Jadi, istilah hidup itu seperti roda adalah totally wrong. Hidup itu adalah perjalanan. Bahkan perjalanan menuju puncak gunung pun, ada kalanya kita harus menjalani jalanan menurun *gak percaya? sana pergi ke puncak 😀

Tapi indeed… apa sih takarannya kalau kita jadi maju?

NB: tulisan ini ada di blog lama gue, hasil curhatan seorang perempuan bernama Ime’. Mungkin nggak ada hubungannya sama film, tapi gue kira cukup penting buat masuk sini karena pesannya cukup dalam,terutama buat gue sendiri.Sorry buat yang baca… gue ga ada niat bikin web ini jadi ajang curhatan pribadi kok, hehe…

Share This:

Related posts:

Ketika Aku dan Dia Menjelma Diam
FADE IN Sore... maghrib... senja (aku tak mengerti lagi sebutannya). Tiga kali film Jermal ini diputar di ruangan ini, ruangan kayu... aku mendengarnya lewat udara. Ketika itu, ada dia, bernyanyi kac...
Pesan Idul Adha yang Sebenarnya
Saya punya khatib favorit tiap kali Jumatan di masjid deket rumah, konyolnya sampai sekarang saya ga tahu namanya, hehe (ketahuan datengnya suka telat jadi ngelewatin pembacaan info-info masjid!) Ken...
Paket Video Wedding: No Way!
Dari dulu, PH tempat saya kerja mengerjakan hampir semua jenis film: video klip, iklan, animasi, film panjang, film pendek, liputan acara, dan banyak lagi. Tapi ada satu job yang sering banget kita ...
Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Berkarya di Balik Jeruji
Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ...
Pemaksaan Perspektif
Betapa sering kita memaksakan perspektif kepada orang lain? Seolah kita bisa memetakan detail yang mereka hadapi dan memberi komentar seolah kita adalah orang yang paling mengerti situasi. Hingga pada...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.