Alien di Cast Away on the Moon

thHmm, subuh ini perasaan gue lagi rada-rada romantis gara-gara sambil sahur nonton film Cast Away on the Moon (Hey-jun Lee, 2009). Film ini pernah kesebut waktu gue nulis soal Jung Rye Won—aktris ceweknya—tapi sekarang gue pengen ngomongin filmnya, karena menurut gue film Korea yang satu ini termasuk film yang lengkap. Premis ceritanya bagus, visualnya bisa bercerita tapi harus ada dialog, plotnya rapi, teknik pembuatannya terkonsep dengan baik, dan pesan yang disampaikannya “nonjok” banget. Ah, atau mungkin gue yang lagi sensitif? Tapi rasanya nggak juga, soalnya gue empat kali nonton film ini dalam kondisi emosi yang beda-beda, tapi perasaan ketonjoknya masih sama!

Banyak banget hal yang bisa dibahas kalau kita membedah Cast Away on the Moon secara serius. Mulai dari urusan budaya, kemanusiaan, kehidupan sosial, alienasi, dan banyak lagi teori yang pastinya bikin nama orang-orang pinter macam Freud, Foucault, bahkan sampai Einstein atau Marx bakal bertebaran

Tapi gue nggak mau ribet, ditambah gue memang nggak hapal teori-teori macam begitu—dan lagi malas googling pula—tapi ada satu hal penting yang gue garis bawahi di film ini, yaitu tentang sebuah kata yang disebut HARAPAN (ditulis pake huruf kapital, biar mantep!)

Kata harapan inilah yang jadi benang merah antara dua tokoh cewek dan cowok di film ini. Beneran—mungkin gue yang kurang teliti—tapi sampai sekarang gue nggak tahu nama karakter mereka, tapi ternyata itu nggak penting. Karakter-karakter di sini cukup dikenal dengan jenis kelaminnya saja, namun kita sudah cukup simpati sama apa yang mereka hadapi dan—karena kebetulan—mereka semua orang-orang “setengah gila” maka apa yang mereka pikirkan dan lakukan malah jadi lucu buat kita. Kelucuan yang miris. Kelucuan yang bikin kita malah mikir “Manusia bisa sampai segitunya ya?”

Gimana nggak disebut “setengah gila” kalau tokoh cowoknya adalah orang yang bisa bertahan hidup lebih dari setahun di sebuah pulau dengan kehidupan serba primitif, padahal jarak dia dengan kota besar itu cuma 2 km! Sementara itu tokoh ceweknya adalah orang yang selama tiga tahun nggak pernah keluar rumah, bahkan dia keluar kamar itu cuma satu kali sehari yaitu pas jadwal pergi ke kamar mandi tiap jam 12 siang. Di kamarnya numpuk sampah selama tiga tahun, dan dia nggak pernah ngomong sama orang, bahkan untuk komunikasi sama ortunya saja dia pake SMS!

Terus bagian mana dari film ini yang bikin gue “ketonjok” sampe bisa merenung-renung sok serius? Begini, meskipun nggak ada di dalam cerita, tapi gue yakin si cowok dan si cewek itu sebenarnya pernah jadi bagian dari kehidupan kota tersebut, tapi ternyata apa yang mereka cari itu nggak ada di sana, malah sebenarnya mereka dikecewakan berat banget sama kota itu (mungkin bisa oleh orang-425922-kim_s_island_11orangnya, mungkin bisa juga oleh situasi yang mereka hadapi). Jadi akibatnya, mereka menarik diri, lalu bikin dunia sendiri, dan ternyata mereka malah enjoy disana. Tapi mereka digambarkan jadi terlalu enjoy sampai “lupa” bahwa ada dunia di luar mereka. Atau kalau digambarkan, mereka menganggap orang-orang di luar mereka adalah alien (FYI, si cewek beneran nganggap tokoh cowok adalah alien!), padahal sebaliknya orang-orang di luar itulah yang menganggap mereka berdua yang alien!

Terus kenapa? Hei… aren’t we all? Tidakkah kita semua begitu? Berapa banyak dari kita yang dikecewakan sama lingkungan yang kita akrabi sehari-hari? Terus nggak nyadari, kita bikin dunia sendiri. Berusaha kelihatan bahagia dan ceria di media-media sosial, seperti tokoh cewek di film ini yang kerjaannya tiap hari maen Facebook, dengan bikin profil dan aktifitas palsu, lalu dia merasa hidupnya ada di sana, padahal itu kan jelas-jelas cuma dunia maya.

Ah, tapi masa sih kehidupan semua orang sampai segitunya? Ya, gue bersyukur saja kalau diantara kita masih ada yang merasa baik-baik saja. Tapi—waspada aja—bisa jadi itu semua karena kita belum nemu aja momentumnya, belum nemu titik balik kekecewaan yang bikin kita narik diri. Aih, kok gue terdengar sedang pesimis! Atau mungkin cuma gue aja yang pernah merasa begitu kali ya? Haha… kok gue jadi nulis seriusan gini sih?! (jadi inget mantan #18 yang pernah bilang, kalau gue lagi serius kelihatan jelek, WEW!)

Terus apa hubungan kondisi kehidupan tokoh-tokoh itu dengan kata HARAPAN? Well, nonton aja deh biar ngerti. Cuma gue kasih garis besarnya disini: Meski mereka ada di dunia lain, tapi ketika mereka “bertemu”, gue melihat munculnya harapan untuk kembali ke dunia nyata yang mereka tinggali sebelumnya. Gue membaca, bahwa mereka merasa kuat kalau menjalaninya berdua. Tapi untuk itu ada satu hal yang harus mereka hadapi, yaitu diri mereka sendiri. (ah, damn! Nulis seriusan lagi!)

SPOILER ALERT!

Ada satu konflik yang gue suka di Cast Away in the Moon: Dalam skala besar, misalnya nih, ceritanya kita sedang kerja keras plus susah payah nabung untuk beli rumah, eh mendadak banget pada satu hari ada orang datang ngasih sepuluh apartemen berperabotan lengkap dengan gratis. Apakah kita akan nerima pemberian orang itu? Gue nggak tahu sih, jawaban tiap orang bisa beda-beda. Tapi dalam skala kecil—level sebungkus mie instan—si tokoh cowok menolak, dia lebih suka berjuang sendiri sampai mendapatkan mimpinya daripada dikasih gratisan. Karena dalam perjuangan itu ada harapan yang jadi alasan kita terus bertahan hidup. Begitu katanya, heu heu… keren!

tumblr_mdi5tfCZU51qc3nl6o1_500

Share This:

Related posts:

Nonton Downfall: Merinding Dini Hari
Saya yakin  sudah banyak yang menonton film ini. Ya, soalnya ini film lama, rilis tahun 2004 di Jerman (kalau rilis di USA tahun 2005) dengan disutradarai oleh Oliver Hirschbiegel. Film ini masuk kate...
Superhero Indonesia Go Internasional
Sepanjang tahun 2010-2011, bioskop kita banyak diserbu sama film-film superhero!  misalnya saja Kickass (Matthew Vaughn, 2010), Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), Jonah Hex (Jimmy Hayward, 2010), The Gre...
Starship Troopers dan Kisah Film Pertama
Beberapa malam yang lalu, seperti biasa dengan jadwal tidur yang aneh... (merem jam 19.00 dan bangun jam 23.00, lalu tidur-tidur lagi jam jam 19.00 besok ... kalong juga nggak gini-gini amat sih!) say...
[Rumah Putih #2] Singkong di Paha Lasmini
Lasmini tersenyum. Dia terus berjalan, seolah tak menyadari puluhan pasang mata yang mengawasinya dari semak dan rerimbun tegalan. Di ujung jalan, langkahnya berhenti, dan sambil membusungkan dada, ...
Rumah Putih #5: Ketika Peranan Menjadi Diri
Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? “Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku pera...
H-95: Apakah Kita Menulis Untuk Difilmkan?
Di tulisan sebelumnya saya membahas tentang para penulis baru yang berkiblat pada senior. Mungkin tulisan yang sekarang ini ada hubungannya, mungkin juga tidak, tapi kan tujuan saya menulis 100 hari i...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.