Charlene Choi, Kamu Cocok Buat…

Setelah nyaris sebulan blog saya vakum—meski sebenarnya banyak bahan yang bisa ditulis—karena saya kebingungan: mana duluan yang harus ditulis. Tapi ternyata semuanya berubah karena seorang cewek, lebay? Biarin! Ceweknya cakep sih 😀

Jadi dari sekian deret film yang saya tonton dalam sebulan ini, ada satu yang menarik perhatian yaitu film Kungfu Dunk (Chu Yin-Ping, 2008). Oke, janji deh ceritanya nanti dibahas, sekarang mending kita fokus sama satu orang aktris cakep yang mampu menggerakkan hati saya lagi untuk mengisi lagi blog tercinta ini. #halah

Nama asilnya Charlene Choi, Di film Kungfu Dunk dia main jadi tokoh Lily, seorang—sebenarnya nggak jelas juga sih—mungkin manajer tim basket universitas, tapi kok kerjaannya nggak seperti manager? Biarin lah, seperti kata Seno Gumira Ajidarma “bukankah selalu tersedia maaf bagi seorang wanita cantik, bahkan sebelum dia membuat kesalahan apapun?” pokoknya yang saya inget, dia itu adik dari si kapten tim basket universitas apalah itu, pokoknya tim basket si tokoh utama. Nah, sejak pertama kali Charlene muncul… saya sudah berdebar-debar terus muncrat karena tokoh Lily itu beneran imut banget, visualnya adalah cewek berkacamata, rambut ekor kuda, tampang tak berdosa, enaknya diajak bercinta bercanda, hei… KALIMAT BERIMA!

Dari namanya, terasa agak-agak bule gitu… wajar sih soalnya dia lahir di Kanada, tepatnya tanggal 22 November 1982. Berarti waktu Kungfu Dunk dibuat umurnya sekitar 26-27 tahun. Wah, kok kelihatan unyu banget ya di sana? Hehe…

Nah ternyata saya melakukan kesalahan yang sama ketika pertama kali lihat Yu Aoi. Kalau yang baca postingan itu (emang ada yang baca!? PLAKK!) saya menyangka Yu Aoi itu artis biasa-biasa aja. Kali ini saya juga sempat menyangka Charlene adalah artis yang, okelah… filmnya sudah banyak… tapi… ya sekadar itu 😀 , tapi ternyata itu salah untuk kedua kalinya—kalau sampai nanti ketiga kalinya salah nebak prestasi artis cakep, saya mesti menampar diri sepuluh kali sambil bilang “Bodoh! Bodoh! Bodoh!”—karena kalau dilihat di wiki, penghargaan buat Charlene ini sudah ngejibun berjajar.

Wajar sih karena dia secara seimbang berkarier di bidang nyanyi dan akting. Di keduanya dia dapat banyak penghargaan (lihat aja sendiri itu daftar penghargaannya di link wiki ya, dan ternyata dia juga pernah jadi salah satu pengisi suara di film Chicken Little (Mark Dindal, 2005)… damn, that’s one of my fav “chicken” movie!

Oh iya… ada salah satu momen yang bikin saya salut adalah ketika Choi mengeluarkan album solo pertamanya di tahun 2009, yang berjudul Two Without One, dalam waktu kurang dari seminggu album itu sudah terjual 10.000 kopi (Gold) di Hongkong dan 30.000 kopi (Platinum) dalam waktu kurang dari sebulan. Itu adalah salah satu penjualan album yang menurut saya cukup hebat, dan tentu saja itu membuktikan kualitas artisnya di atas rata-rata.

Cocok banget buat ngisi blog iseng ini, cocok banget jadi postingan yang memecahkan kebuntuan saya ngisi blog… dan cocok juga jadi… euh… jangan diterusin, ntar ada yang protes lagi… 😀

 aaa

aaaa

Share This:

Related posts:

Pengkhianatan Film Pada Novel, Kenapa Tidak?
Dalam sebuah diskusi film KCB, Hikmat Gumelar mengatakan bahwa film Ayat Ayat Cinta (AAC) lebih berhasil karena dia berani “mengkhianati” novelnya. Ini pernyataan yang menarik lantaran pernyataan ini ...
Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor
Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, ...
Madeline Carroll, The White Queen
Awalnya, saya suka banget nonton film Flipped (Rob Reiner, 2010). Pertama jelas karena ceritanya yang bagus, menurut saya film ini adalah salah satu bentuk adaptasi novel yang berhasil. Kedua karena a...
Hasil Jarahan: Swing Girls
Kebiasaan saya menjarah komputer teman demi untuk mengumpulkan film kadang membuat saya beberapa kali nemu film-film bagus (Atau mungkin tepatnya bukan film bagus sih, tapi film yang memang sedang say...
Django Unchained: Happy Ending versi Holywood
Salah satu sutradara—mungkin malah satu-satunya—yang saya suka adalah Quentin Tarantino. Walaupun saya kenal karya dia agak telat, yaitu dari Kill Bill I (2003). Kalau sutradara lain saya jarang mempe...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.