Dikira Bikin Film Itu Gampang ya?

Behind-the-scenes-titanic-8653859-260-400Ada satu hal yang sering jadi masalah buat gue ketika nerima proyek bikin film—baik cuma ngedit atau bikin dari awal—yaitu ketika client nggak terlalu ngerti soal proses pembuatan film. Sebenarnya gue nggak minta orang yang ekspert lah, tapi minimal ngerti bahwa bikin film itu perlu proses yang nggak bisa dibolak-balik atau dilewat-lewat. Masalahnya. orang-orang yang nggak ngerti seperti ini selalu menganggap bikin film itu gampang: ada kamera- arahkan pada sesuatu-tekan tombol record-jadi film.

Beneran, setiap kali ada buku panduan apapun di toko buku yang bilang bikin film itu gampang, gue langsung berpikir bahwa yang nulis buku tersebut sudah melakukan kebohongan publik dan layak dihukum gantung. Karena apa? tentu saja karena menurut gue bikin film itu sebenarnya cukup rumit. Artinya, memang sih semua terserah sudut pandang kita. Tapi gue agak khawatir juga ketika muncul istilah bahwa sesuatu itu “gampang-gampang” saja. Terutama di buku-buku how-to yang ngejajar di Gramedia tuh.

Nah, mungkin juga karena hidup orang itu sudah diisi dengan semangat “gampang-gampang” saja, maka nggak heran kalau akhirnya dalam beberapa kesempatan gue sering banget nerima proyek-proyek absurd, misalnya:

(1)

Skenario Dibikin Belakangan Sesuai Dengan Stok Gambar. WTF! Itu proses yang sangat terbalik! Harusnya stok gambar diambil mengikuti skenario. Jadi si skenarionya sendiri itu beneran harus ada dulu, biarin cuma tulis tangan acakadut cacing kepanasan rumber-rumbe juga, yang penting ada! Fungsinya sebagai panduan ketika tim ke lapangan ngambil gambar. Biar nggak buang-buang waktu, buang memori, buang batre, buang saja semuanya biar ramai!

TRUE STORY: pada suatu hari sekelompok orang ngasih stok gambar sebanyak 30 clip dan bilang “Tolong ini diedit supaya jadi film dokumenter 30 menit!” pas gue nanya skenarionya mereka malah bengong. “Jadi ini film diambil tanpa skenario? Cuma sebatas ide di otak tapi nggak ditulis?”dan mereka mengangguk, sebuah anggukan yang buat gue lebih mengerikan daripada Sadako keluar dari layar TV (lebay?! Gue juga tahu, bodo amat!).

(2)

Nggak Dikasih Waktu Pra Produksi. Seperti yang gue bilang tadi, konsep bikin film di otak orang-orang ini sesederhana:   ada kamera- arahkan pada sesuatu-tekan tombol record-jadi film! Padahal, film bokep yang adegannya sederhana saja (cuma bugil dan kuda-kudaan) itu pake skenario lho, pake meeting, pake cek lokasi, artistik, make up, dll. Biasanya yang ada di pikiran orang tentang bikin film ya syuting… hanya syuting. Padahal untuk menuju ke sana itu ada prosesnya panjang banget. Dalam waktu kepepet aja perlu persiapan minimal 1-2 minggu.

TRUE STORY: gue pernah diminta ngedit sebuah video klip dengan stok gambar dari YouTube (bukan gue yang mau, tapi client yang nyuruh nyari di YouTube). Ternyata setelah preview, diputuskan akan ada syuting tambahan pake model. Yang bikin ribet, awalnya karena masih H-7 gue serahkan urusan syuting ke client karena katanya mereka sudah punya tim dan jaringan ke lokasi-lokasi yang diperlukan. Ternyata pada H-1 mendadak mereka nyuruh gue jadi sutradaranya, dan parahnya… sampai  hari itu ternyata ijin tempat aja belum mereka urus. Gue sih nggak mau sampai di lokasi syuting, udah bawa peralatan dll, ternyata kita diusir sama yang punya tempat. Buat gue, mending syuting terlambat daripada tepat waktu tapi banyak error.

(3)

Nggak Apa-Apa Jelek, Asal Film Jadi Dulu. Asli, gue salut sama orang-orang macam begini. Karena punya banyak energi dan waktu untuk dibuang-buang. Padahal andai mereka tahu bikin film jelek dan film bagus itu capeknya sama. Kalau capeknya sama ya udah sekalian aja bikin yang bagus. Terus, film adalah salah satu karya seni yang nggak mengenal undo (Ctrl + Z). Artinya kalau akting si artis jelek, terus direkam, ya udah… nggak bisa dibalikin lagi, itulah stok gambar yang kita dapat. Kalau mau dapat yang bagus berarti rekam ulang. Berarti buang energi, waktu, dan nyusun kepusingan baru.

TRUE STORY: Pernah ada satu proyek film yang orang-orangnya ngomong gini ke gue “Nggak apa-apa mas, buat artisnya si C aja, take dubbing di kantor aja pake suara si A dan si B nih.” Padahal begitu gue tanya balik “Sudah pernah akting? Dubbing?” mereka geleng kepala sambil nyengir.Dikiranya akting itu gampang ya? Padahal kalau kita nggak biasa, berpose di depan kamera itu bawaannya stress  lho! Pas gue cek ruangan kantornya juga noise semua, duh…padahal film itu mau diputer skala nasional. Alasan standar: budget. Nah, soal ini sih gue ngerti bahwa nggak semua orang punya duit. Maka itu setiap kali mau bikin film gue berpikir untuk meminimalisir biaya, tapi bukan berarti kita harus mengorbankan kualitas film demi keringanan biaya kan? Film boleh murah, tapi jangan murahan! Heu heu…

*****

Tiga dulu deh cerita client-client absurd gue. Masih banyak sih tapi nggak usah ditulis semua deh, kadang bikin darah tinggi juga. 😀 Intinya sih gue nyadar bahwa semua client gue itusemua orang pinter, bahkan banyak yang secara gelar kuliah lebih tinggi dari gue. Hanya masalahnya, mereka tuh memang nggak ngerti bahwa sebuah film itu bikinnya susah, ada prosesnya, ada duit mesti keluar, ada emosi, ada stress, ada kurang tidur.

Bikin film nggak segampang kita mijit tombol record di kamera… beneran lho…

Share This:

Related posts:

"The Maiden Heist", Film Komedi Para Senior
Film ini genrenya komedi ringan, disutradarai sama Peter Hewitt, rilis tahun 2009. Dari pertama lihat covernya, saya sudah yakin kalau filmnya jaminan mutu meski nggak tahu juga mutunya setinggi apa, ...
[Rumah Putih #1] Berharap Pada yang Bangkit dari Kubur
Cerita tentang mayit yang bangkit dari kubur, yang kini mendominasi sinetron “religius”, pernah juga merajai tema film Indonesia tahun 1980-an. Namun, bangkitnya mayit itu ternyata membawa “pesan” y...
Buried, Film Panjang dengan Satu Aktor!
Wew, satu kata buat film ini: Briliant! Serius, tadinya saya merasa agak pesimis ketika ada teman yang menyarankan  nonton. Itu karena saya berpikir: apa mungkin ada film yang enak ditonton 90 menit, ...
Jung Ryeo Won, The Moon Lover
Ah, kacau banget gue... lama ga ngupdate ini karena banyak alasan teknis yang ga penting (semacam, ngejar alien yang celana dalemnya ketinggalan di kamar mandi gue, terus gue ngupil dan telunjuk gue n...
Yu Aoi, Pembantu yang Cantik! LHO!
Nah, di postingan kemarin saya sempat merasa ngenes karena postingan yang sudah siap upload mendadak hilang tak berbekas! Kali ini setelah lewat beberapa hari dan rasa sudah nggak ngenes lagi, akhirny...
Kapan Sebuah Film Selesai?
Kapan sebuah film dianggap selesai? Beberapa orang nganggapnya pas film itu selesai diedit, beberapa orang lagi nganggapnya pas film premiere. Bahkan—ini yang konyol—beberapa orang ngira film selesai ...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Dikira Bikin Film Itu Gampang ya?

  • 22/05/2013 at 08:24
    Permalink

    saya hanya bisa ngasih dua jempol dengan mulut ternganga, karena apa yang ditulis ini 100% bener!

    saya pernah tuh yang nomor 3 -_-

  • 23/05/2013 at 02:45
    Permalink

    kadang agak nyebelin ya? hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.