Finding Bliss Untuk “Mawar”

finding_bliss_poster01Pada suatu hari, ketika lagi sibuk-sibuknya main game di tempat kerja, temen gue di kubikel sebelah—sebut saja namanya Mawar, meski dia cowok!—bertanya dengan polos “Dra, ente punya film JAV teu, kita tukeran?”. Wow, nggak bisa ntar aja gitu nanya-nya? we still in f***ing office, dude!. Mana dia ngomongnya keras pula!

Waktu itu gue jawab “Nggak”, karena memang gue nggak punya simpanan jenis-jenis porn movie sekaligus jaga reputasi. Tapi iseng gue bilang begini ”Nggak ada, kalau film orang bule mau?” (gue nggak bohong, itu di harddisk gue ada 173 GB film Hollywood, mayoritas orang bule isinya kan?). Tapi dasarnya memang otak dia lagi ke arah porn movie, maka dia jawab “Nggak suka yang bule-bule. Sukanya yang Jepang. Soalnya yang Jepang mah lebih seksi jeritannya.” Euh, baiklah… silahkan mencari…

Tapi maksudnya  gini… dari obrolan singkat tadi gue keingetan satu film yang pernah ditonton sekitar tahun 2009 atas rekomendasi temen gue Adis. Sekadar info, Adis ini cewek tapi tontonannya cadas! Bayangin aja, film kegemaran dia adalah seri-seri Saw! Ngeliat video pemenggalan kepala sih biasa aja buat Adis. Euh, sebenarnya ngeri juga sih temenan sama dia!

Jadi waktu itu kita baru selesai siaran di sebuah radio, pas perjalanan pulang dia ngasih gue film Finding Bliss (Julie Davis, 2009). Dia bilang, “nih lihat deh, bagus, ceritanya soal seorang editor film.”.

Gue sebenarnya agak curiga, soalnya kalau Adis bilang sebuah film itu “bagus” maka di sana minimal harus ada adegan motong kaki sendiri, atau close up nyongkel mata orang. Gue sampai harus nanya berulang-ulang untuk meyakinkan ke Adis bahwa di film itu nggak ada setitik darah tumpah di scene manapun!

Well, apa hubungan Finding Bliss sama pertanyaan si Mawar tadi? Ini soal selera pada film porno. Jadi begini, Mawar nggak suka film porno bule (gue nggak tahu alasannya), sementara ada orang yang sukanya film semi-porno karena buat dia film porno vulgar itu menjijikkan (euh, nggak ngerti juga sih sebelah mananya), ada lagi yang sukanya sama jenis hentai, dan seterusnya. Nah, dalam Finding Bliss, sebenarnya ada satu konflik yang entah kenapa tidak terselesaikan hingga akhir cerita, sayang banget sih padahal gue berharap ada jawaban kongkrit, yaitu: tokoh utamanya—seorang cewek—yang kebetulan kerja jadi editor film di sebuah PH yang khusus memproduksi film porno, dapat tugas merancang sebuah film porno yang bisa membuat penontonnya mau mengikuti cerita dari awal sampai akhir.

Wow, siapapun yang pernah nonton film porno/semi porno—gue bukan orang suci, gue juga pernah nonton juga kok, terakhir waktu SMA—pasti tahu bahwa film jenis ini mem-bullshit-kan jalan cerita. Sebab yang dikejar oleh penontonnya adalah scene-scene seks saja. Artinya, sebenarnya dari sudut pandang editor film macam gue, tugas si tokoh utama di sana jadi menarik. Gue sebenarnya penasaran bagaimana akhirnya tugas tadi terselesaikan. Tapi sayangnya, sepertinya konflik utama film Finding Bliss bukan ke soal tadi, maka ya… gue sedikit kecewa sih.

Dari kekecewaan itu, maka gue ngerasa ada ini ada hubungannya sama ketidaksukaan si Mawar tadi akan film bule, dimana menurutnya jeritan orgasme film prono Jepang lebih seksi. Sebuah jeritan yang keluar dari mulut aktris hanya sebagian kecil dari cerita film, tapi mengapa itu yang jadi pusat perhatian? Kenapa si Mawar nggak bilang ” …Soalnya yang Jepang mah lebih bagus jalan ceritanya…”

Ah, mungkin gue yang terlalu berekspektasi tinggi ya? Dimana-mana yang namanya film porno ya ngejual badan aktris dan adegan seks. Itu juga yang bikin gue penasaran sama film Finding Bliss, harusnya dia bisa nyelesaikan tugas dari bosnya, baru film itu boleh tamat…

Share This:

Related posts:

"The Maiden Heist", Film Komedi Para Senior
Film ini genrenya komedi ringan, disutradarai sama Peter Hewitt, rilis tahun 2009. Dari pertama lihat covernya, saya sudah yakin kalau filmnya jaminan mutu meski nggak tahu juga mutunya setinggi apa, ...
Nonton "IL POSTINO": Ide Ceritanya Bagus...
Oke, sebelumnya lebih baik kita tahu dulu, siapa itu Pablo Neruda. Menurut catatan sejarah, Pablo Neruda lahir di Parral, sebuah kota sekitar 300 km di selatan Santiago, Chili, 12 Juli 1904 nama aslin...
Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi
Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gel...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian,...
Subang: Bicara Film & Kehujanan
Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemar...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.