Subang: Bicara Film & Kehujanan

53629649-dsc00984Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemarin—tanggal 16 April—berhasil gue cek ulang kebenarannya. Well, nggak semua sih, gue nggak bisa menemukan sungai yang jernih tapi lebih karena gue nggak berkendara melewati sungai. Jadi semoga saja sungai-sungai di sana masih jernih, karena gue nggak mau menghancurkan keindahan memori gue sendiri,

Hari itu, gue diundang menjadi pemateri tentang film di Universitas Negeri Subang. (man, beneran gue baru tahu di Subang ada kampus dengan nama itu… gue memang kurang gaul). Gue kesana naik motor, melawan perintah emak gue yang seolah mengharamkan naik kendaraan sendiri (ampun mak…). Sisanya biasa, perjalanan dua jam, lalu kirim SMS sana sini, janjian dengan seorang panitia, mengecek buku agenda, janjian di bawah pohon super rindang pada sebuah perempatan, mengobrol dengan tukang becak tentang penggusuran lapak di seberang jalan (yang dia entah kenapa bercerita dengan cukup emosional), dan gue kembali menyesal tidak punya kamera yang bagus untuk mengabadikan adegan bapak-bapak satpol PP sedang sibuk bongkar-bongkaran.

Sampai akhirnya seorang panitia datang juga menjemput. Astaga, masih muda banget (punten-kang-terlambat-dan-sebagainya-saya-sih-tersenyum-saja). Terus terang gue belum pernah ketemu dia, tapi sudah sering ngobrol, thanks to every sh*t who look like social media! Makan siang ke nasi padang dulu, gue mau nambah tapi malu. Lalu mulai deh ke tempat acara berlangsung

Nah, seperti halnya acara film, ya gue cuap-cuap soal teknik bikin film, nonton beberapa film pendek, antara lain: Sign (Patrick Hughes, 2010), dan tentu saja film temen punya gue yang judulnya Penghulu (Destri Tsurayya, 2012)… ini film yang bikin sutradaranya jalan-jalan ke Perancis!

Gue nggak tahu sama peserta dan panitia, tapi gue menikmati setiap frame film yang diputar di layar. Buat gue, kedua film yang diputar itu termasuk salah satu—atau salah dua—film yang mewakili arti sinema yang sesungguhnya. Dimana unsur visual memegang peranan lebih besar dibanding audio dan teks.

Setelah nonton film, ya tanya jawab… lalu setelah itu malah “melantur” ke area-area informal seperti mengkopi film di eksternal harddisk, mencoba menyusun program pelatihan skenario untuk beberapa bulan kedepan, saling mencela dengan santai dan penuh gurau tentang tiga film pendek karya teman-teman Subang, menebak-nebak siapa di jajaran panitia yang memerankan siapa di film tersebut, lalu mencari-cari tokoh perempuan paling “cute” berkacamata di film kedua—yang sayangnya sudah pulang. Hmmm…

Endingnya? waktu mau pulang, baru sadar kalau di luar turun hujan. Tapi daripada kemalaman di area Cikole (area-hutan-lebat-tanpa-lampu-jalan-licin-menurun), ya terpaksalah motor dipacu ke Bandung, tentu dengan bonus kebanjiran dan kebasahan. Dua jam lebih tak berhenti untuk istirahat, sampai lutut tak bisa diluruskan. Dan anehnya hujan begitu konsisten dari Subang ke Bandung (mungkin karena satu langit!). Maka terjadilah dua jam perjalanan yang dingin dan suram, ketika menembus pekatnya malam di area yang asing dan basah.

Perjalanan yang aneh. Tapi gue menikmatinya… atau mungkin ini termasuk kutukan emak? Nggak tahu juga… :)

Gue dan beberapa panitia, itu yang pake jas disebelah gue tampangnya sutradara banget

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi
Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gel...
Starship Troopers dan Kisah Film Pertama
Beberapa malam yang lalu, seperti biasa dengan jadwal tidur yang aneh... (merem jam 19.00 dan bangun jam 23.00, lalu tidur-tidur lagi jam jam 19.00 besok ... kalong juga nggak gini-gini amat sih!) say...
Rumah Putih #4: Ketika Rok Prisia Tersingkap
Dapatkah seorang aktris menafikan kehadiran orang lain ketika dia dituntut untuk merasa sendiri? Prisia Nasution akan menjawab, “Tidak.” Bermain dalam Gala Sinema SCTV “Cinta tak Pernah Salah”, Prisia...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...
Angkringan dan Demokrasi
Sudah tiga hari ini saya ada di Yogyakarta, ikut workshop penyutradaraan. Nanti aja deh cerita soal workshopnya, sekarang saya cuma mau cerita soal gerai makanan khas Yogya yang namanya ANGKRINGAN. S...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Subang: Bicara Film & Kehujanan

  • 16/05/2013 at 01:22
    Permalink

    aishh… untung cuman lutut yg ga bisa dilurusin, coba kalo kepala? hhiih

    ^_^

  • 16/05/2013 at 11:24
    Permalink

    hush! hush! pait… pait!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *