Pengkhianatan Film Pada Novel, Kenapa Tidak?

Dalam sebuah diskusi film KCB, Hikmat Gumelar mengatakan bahwa film Ayat Ayat Cinta (AAC) lebih berhasil karena dia berani “mengkhianati” novelnya. Ini pernyataan yang menarik lantaran pernyataan ini menjelaskan banyak hal mengapa sebuah film yang diadaptasi dari novel kadang tidak berhasil. Penyebabnya antara lain karena film-film tersebut terlalu mengikuti alur cerita novelnya.

Hal ini cukup beralasan. Karena apabila dilihat dari sudut pandang manapun, film dan novel adalah dua media yang sangat berbeda. Dalam novel kita akan mendapat penjelasan yang lengkap tentang suatu kejadian, tentang perasaan tokohnya, tentang apa yang dia pikirkan, dan lain sebagainya. Tapi untuk memahami itu semua, kita harus menggunakan imajinasi kita. Bagamanapun juga, dalam novel yang bisa kita lihat hanyalah deretan huruf dan—kalau ada—ilustrasi gambar.

Sementara dalam film, bahasa visual yang bicara. Dengan melihat gambar bergerak yang berisi raut wajah, warna pakaian, dekorasi ruangan, cuaca, dan lain sebagainya, kita diharapkan mengerti emosi si tokoh, apa yang dia pikirkannya, dan banyak keterangan tambahan lainnya. Artinya dalam memahami film, diperlukan mata yang jeli menangkap detail gambar. Dalam beberapa aspek, hal itu memudahkan penonton lantaran imajinasi mereka tidak terlalu berperan, yang penting adalah kekuatan mata.

Kalau sudah begini, maka film hasil adaptasi novel terbagi menjadi dua, yaitu film yang mengambil alur cerita saja dan film yang berani menambahkan kisah baru. Keduanya bisa efektif, tergantung dari cerita yang dihadapi.

Mengambil Gambaran Besar Cerita
Pertama adalah film yang hanya mengambil alur cerita. Maksudnya begini. Sebuah cerita serumit apapun, pasti mengandung kerangka cerita. Biasanya kerangka itu bisa dijadikan acuan bagaimana cerita itu berjalan. Misalnya dalam film Harap Tenang, Ada Ujian (Ifa Isfansyah, 2006), kerangkanya adalah: anak yang membaca sejarah Indonesia ketika dijajah Jepang, gempa datang, anak itu bangun dan terus membaca, anak itu melihat orang Jepang mendirikan tenda, dan seterusnya.

Itulah yang bisa dilakukan penulis script film adaptasi. Ambil bagian-bagian besar dari sebuah novel seperti mengambil potongan puzzle yang besar dari sebuah gambar lengkap dan diterjemahkan ke dalam bentuk treatment, lalu skenario. Ini bisa dilakukan secara langsung karena kelebihan utama dari skenario adaptasi adalah tidak memerlukan  sinopsis. Film adaptasi yang mengambil cara seperti ini tidak perlu menambah-nambahkan cerita—justru dia harus menguranginya—tapi pastikan saja bahwa gambaran besar cerita yang diterjemahkan adalah potongan yang benar-benar penting.

Salah satu contoh film adaptasi seperti ini adalah Memoirs of a Geisha (Rob Marshall, 2005). Film yang diambil dari novel berjudul sama karya Arthur Golden ini, mengambil gambaran besar cerita kehidupan Chiyo dan meninggalkan beberapa detil kecil cerita, seperti upacara minum teh, pemilihan kimono, atau pendaftaran Chiyo ke sekolah Geisha. Hasilnya, bisa kita lihat bersama. Para pembaca novelnya sama sekali tidak terganggu dengan detail-detail yang dihilangkan lantaran jalan ceritanya sama sekali tidak berubah. Hal ini lantaran gambaran besar dari cerita tetap disusun dengan baik. Bahkan dalam beberapa scene, visualisasi yang ditampilkan bisa mempermudah pembaca novelnya dalam menggambarkan cerita.

Inilah yang disebut “mengkhianati” novel. Artinya, untuk para pembuat film adaptasi, mengapa harus ragu-ragu membuang beberapa bagian dari cerita kalau memang itu akan mengganggu film? Beberapa film yang seperti ini adalah seri Harry Potter, trilogi Lord of the Ring, dan seri Hannibal. Untuk film adaptasi dalam negeri, justru belum ada yang memakai teknik ini. Tapi film-film dalam negeri banyak mengambil teknik kedua.

Menambahkan Gambar Baru
Cara “pengkhianatan” yang kedua adalah dengan menambahkan scene yang tidak ada dalam cerita. Dalam beberapa film, hal ini justru sangat penting untuk membangun suasana. Contoh terbaik adalah film Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008). Siapapun yang sudah membaca novelnya, pasti tidak akan menemukan cerita anak-anak Laskar Pelangi bernyanyi lagu “Seroja” di ladang. Tanpa disadari, scene ini bisa memperkuat penggambaran suasana hati Ikal yang baru ditinggal A Ling.

Penambahan scene, di saat yang tepat, bisa memperkuat cerita. Hal inilah yang disadari oleh Hanung Bramantyo ketika membuat film Ayat-Ayat Cinta. Dengan berani, dia mengubah opening film yang seratus persen berbeda dengan novelnya. Otomatis dia juga mengubah karakter tokoh utama sehingga tidak setinggi karakter di novel.

Perubahan-perubahan seperti ini penting sekali dalam mengalihkan sebuah novel menjadi film. Sekali lagi, karena dilihat dari sudut pandang apapun, film dan novel adalah dua media yang sangat berbeda.

Sebagai contoh kegagalan, kita bisa lihat dalam film-film seperti Cintapucinno (Rudi Soedjarwo, 2007) atau Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 (Chaerul Umam, 2009). Ketika sebuah film menjiplak habis novelnya, yang akan terasa adalah cerita yang terlalu panjang dan membosankan. Bahkan, di beberapa sisi kadang ceritanya jadi terasa terlalu dibuat-buat. Apalagi bila cerita itu benar-benar menyalin setiap dialog dalam novelnya.

Untuk para filmmaker, jangan takut untuk mengubah cerita asli kalau memang dimaksudkan untuk memperindah film. Atau kalau ada yang bersikeras, silahkan tanya lagi apakah anda memang ingin membuat film yang layak ditonton oleh khalayak, atau film yang layak ditonton oleh anda sendiri?

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor
Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, ...
Rumah Putih #2: Singkong di Paha Lasmini
Lasmini tersenyum. Dia terus berjalan, seolah tak menyadari puluhan pasang mata yang mengawasinya dari semak dan rerimbun tegalan. Di ujung jalan, langkahnya berhenti, dan sambil membusungkan dada, di...
Film dan Nasionalisme Polisi Tidur
Bicara nasionalisme, sebenarnya nasionalisme Indonesia ini lucu. Panji Pragiwaksono pernah menulis bahwa bangsa Indonesia itu seperti desa Galia yang ada di komik Asterix. Galia adalah sebuah desa yan...
Ini Indomaret di Surga!
Saya belum pernah merasa sebahagia ini ketika masuk Indomaret. Oh, sebelum dilanjut… penyebutan Indomaret ini sama sekali bukan iklan, kebetulan saja toko yang saya masuki adalah Indomaret. Kalau misa...
Bersastra dan Bersantai di Rumpun Ariadinatan
Selain dikenal sebagai kota pelajar, Yogyakarta juga identik dengan kota budaya dan kota pariwisata. Berbagai hal yang berkaitan dengan dua hal tersebut dapat kita temui di kota ini. Mulai dari soal k...
Mengapa Memilih Durasi 18 Jam?
Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Dan seperti layaknya sebuah proses, dalam setiap novel yang keluar, saya berusaha mencapai satu level...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.