Kritik Satir Harold & Kumar

harold_kumar_articleDalam seminggu ini gue nonton dua film Harold & Kumar—yaitu Harold & Kumar Go to White Castle (Danny Leiner, 2004) dan Harold & Kumar Escape from Guantanamo Bay (Jon Hurwitz, 2008 )—parahnya, ketika beres nonton gue sampai harus membuka imdb atau wikipedia untuk memastikan keduanya masuk genre film komedi.

Alasan? Karena gue sama sekali nggak bisa ketawa saat nonton kedua seri itu. Bukan karena keduanya jelek, tapi karena gue sadar bahwa ada hal lain yang ingin disampaikan oleh pembuatnya, sebuah inner message yang malah bikin gue ngeri karena kritiknya sangat-sangat-sangat (diulang tiga kali supaya mantap) serius terhadap Amerika sendiri.

Nilai masing-masing film itu di imdb adalah 7,1 dan 6,6. Sebuah nilai yang lumayan sih mengingat–misalnya–film Scary Movie (Keenen Ivory Wayans, 2000) saja yang notabene lebih sering disebut-sebut media dan lebih dikenal orang nilainya “cuma” 6,1.

Oke, baiklah… film Harold Kumar itu memang lucu dan unik, ditambah dengan bonus… payudara dimana-mana, hehe tapi ada kengerian tersendiri mengingat isi dari film itu adalah kritik konsisten terhadap sistem hidup di Amerika.

Misalnya di film yang White Castle, ada adegan Harold dipenjara bareng seorang kulit hitam, namanya Jackson dan dia digambarkan seperti mahasiswa S2 gitu deh. Dia hobi baca, sampai-sampai di penjara juga dia cuma duduk dan baca buku. Waktu Harold masuk sel, terjadi dialog “absurd” seperti ini:

Harold: So what are you in here for?

Jackson: For being black.

Harold: Seriously.

Jackson: I am serious. You wanna know what happened? I was walking out of a Barnes & Noble, and a cop stops me. Evidently, a black guy robbed a store in Newark. I told him, “I haven’t even been to Newark in months.” So he starts beating me with his gun, telling me to stop resisting arrest.

Nggak cukup sampai di sana, ketika ada adegan polisi-polisi konyol masuk ruangan dan melihat kunci sel nempel di pintu (sebenarnya si Kumar yang pasang, karena mau ngebebasin Harold), para polisi tadi dengan paniknya langsung mengepung sel, Harold sudah panik dan pasrah, sementara Jackson tetap saja baca buku karena nggak ngerasa salah. Tapi yang terjadi adalah dialog ini:

Officer Martone: Hey, Jackson’s trying to escape!

Jackson: What are you talking about? I’m just sitting here.

Officer Reilly: He’s trying to break free! Get him!

Officer Martone: Don’t move. Stop resisting! We need back up now! He’s got a gun!

Jackson: That’s not a gun, that’s a book.

Officer Reilly: Secure the book!

Oke, baiklah, temen gue—Imanda—punya kata yang tepat untuk menggambarkan komedi seperti ini, “satir”, secara bahasa entah tepat atau tidak, tapi secara rasa, kata itu tepat banget. Kedua adegan di atas itu satir banget! Gue nggak kebayang kalau parodinya saja sudah sadis, apalagi situasinya. Daripada ketawa, yang ada malah muncul pertanyaan “bener nggak sih di Amerika, perlakuan ke orang kulit hitam segitunya? Kasihan banget sih.”

Nah, kalau itu adalah parodi satir dari situasi yang dihadapi kulit hitam, gue kira yang ini lebih tepat ditujukan ke orang-orang Yahudi. Jadi Harold dan Kumar itu punya teman satu asrama, namanya Goldstein. Waktu itu Goldstein diajak pergi jalan-jalan tapi dia lagi nonton film, lalu terjadilah dialog yang salah satu line-nya begini:

Goldstein: Sorry, kids. We ain’t goin’ nowhere. We’re watching The Gift. Supposedly Katie Holmes shows her titties in this movie.

Harold: Is that all you Jews ever think about? Tits?

Wah, gue suka sama dialog-dialog jujur macam begini, sayangnya yang kaya begini susah ditemukan di film Indonesia. Kebanyakan dialog film Indonesia itu masih kebawa yang namanya sopan santun, padahal kalau lagi ngobrol sama teman-teman rasanya jauh tuh dengan kata norma kesopanan, nyablak aja sekenanya, karena kita yakin nggak akan ada yang tersinggung, toh sama-sama teman kan?

Gue selalu percaya bahwa film haruslah menggambarkan realita, bahkan dalam film yang paling surealis sekalipun.Dalam seri Harold & Kumar gue menemukan itu, walaupun dalam bentuk “dibungkus” komedi satir. Nah, justru ketika bungkusannya gue buka, yang ada gue terperangah dengan kejujuran di sana.

Termasuk yang ini, adegan lucu di Escape from Guantanamo Bay. Ketika itu tanpa sengaja Harold dan Kumar masuk ke rumah George W Bush! Wah, dan konyolnya, si Bush malah ngajak mereka ngisep ganja. Lalu terjadilah dialog yang menurut gue… nusuk banget…

Kumar: So you get high and you put other people who smoke weed in jail? That’s so hypocritical!

George W. Bush: Oh yeah? Well let me ask you something, Kumar, do you like giving hand jobs?

Kumar: No sir.

George W. Bush: Do you like gettin’ hand jobs?

Kumar : [smirking] Heh, yeah.

George W. Bush: Yeah well, that makes you a fuckin’ hypocriticizer too, so shut the fuck up! Now smoke my weed.

Oke, dialog macam ini apakah bisa diterapkan ke sistem pemerintahan kita? Ah, sudahlah, tidak perlu ngomongin politik dan pemerintahan, ini kan blog film ya 😀 Tapi intinya, kedua seri Harold & Kumar ini termasuk film yang bagus, mereka dengan sukses bisa memparodikan situasi-situasi rasis dan ketidakseimbangan politik dalam hidup sehari-hari.

Untuk yang mau nonton film ini, silahkan tonton saja tanpa memasang ekspektasi apapun, nikmati saja semua joke di sana, lalu tersenyum miris saja ketika sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak terlalu menyenangkan bagi sebagian orang. Maksud gue, pasrahlah kepada tampilan di layar… seperti juga dialog antara Kumar dengan Neil di restoran White Castle ini, tepat ketika Neil hendak beranja pergi keluar:

Kumar: So where you going to go now, Neil?

Neil Patrick Harris: [puts on sunglasses] Wherever God takes me!

Baiklah, ini gue kasih trailer film mereka yang keluar tahun 2011, judulnya A Very Harold & Kumar Christmas, disutradarai oleh Todd Strauss-Schulson, gue belum nonton, tapi gue kira akan sama aja kritik-kritiknya… satir! 😀

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=R95TeZ9jE0Y]

Share This:

Related posts:

Nonton "IL POSTINO": Ide Ceritanya Bagus...
Oke, sebelumnya lebih baik kita tahu dulu, siapa itu Pablo Neruda. Menurut catatan sejarah, Pablo Neruda lahir di Parral, sebuah kota sekitar 300 km di selatan Santiago, Chili, 12 Juli 1904 nama aslin...
Prisia, yang Eksotik...
Udah lama banget ya saya nggak ngupdate web ini, termasuk melanggar juga jadwal rutin ngupdate cewek of the week :D haduh... ya udah deh saya update sekarang. Pilihan saya minggu ini adalah Prisia Nas...
Olivia Lubis, si Anak Baik
Baiklah, setelah beberapa episode gue menampilkan aktris luar, sekarang waktunya kembali ke artis Indonesia. Dan yang jadi “korban” kali ini adalah Olivia Lubis Jensen. Menurut data di Wikipedia, dia...
Film Fantasi dan Fiksi Ilmiah Indonesia: Adakah?
Pertanyaan di atas mungkin sulit dijawab. Di Indonesia, genre film fantasi dan fiksi ilmiah kalah populer dibandingkan drama percintaan dan tema horor-mistik. Mungkin lantaran biaya produksi film fant...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...
Mencari Hilal: Film (yang) Indonesia
Saya menonton film Mencari Hilal di Bandung, ketika itu saya dapat undangan premiere nya di XXI Empire. Dan seperti biasa, ketika akan menonton film Indonesia dimanapun juga maka saya akan mengosongka...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.