Memang Sudah Perlu Ganti Senjata!

emp_sfm-EditSuite-1Alhamdulillah, kemarin gue malam-malam didatangi sama kang Desmon, salah satu pentolan Museum Asia Afrika. Ternyata dia ngajak gue bikin proyek film lagi, bahkan kali ini dua film sekaligus! Seneng banget sih bisa kerjasama dengan MKAA lagi, soalnya menurut gue mereka adalah salah satu partner yang mengerti “cara bekerjasama” dengan baik. (Apapun itu artinya, pokoknya begitu, maksa! hehe)

Pertama kali gue kerjasama dengan MKAA waktu bikin film dokumenter bertema “Sejarah Lambang Negara”, itu bener-bener kerjaan gila. Apa karena susah? Nggak juga sih, kerjaannya sama aja dengan ngedit-ngedit film yang lain—apalagi waktu itu 50% stok gambar sudah disiapin pihak museum, dan gue cuma tinggal nyari tambalannya aja— tapi karena gue ngerjainnya sambil demam tinggi,  tapi demi sebuah tanggungjawab maka gue hajar aja sampe beres, sampe nginep di sana (plus kencing tengah malam ke WC museum yang horror banget!). Hasilnya, alhamdulillah bagus, kata kang Desmon sih dapet sambutan yang lumayan waktu pemutaran di Jakarta.

Nah, balik ke cerita. Kali ini ketika kemarin gue diajak kerjasama lagi ya gue sih seneng-seneng aja. Tapi… jadi kepikiran satu hal penting dalam karir ngedit ini.

Jadi ceritanya, waktu ngobrol sama kang Desmon sebenarnya gue lagi kerja pake laptop punya si mentor ngedit. Gue terpaksa pinjem perangkat ngedit karena karena dalam proyek yang sedang gue kerjain, si mentor sudah nyiapin rough-cut pake Vegas 11, terpaksalah gue mesti ikutan pake Vegas 11. Daripada mesti bikin rough-cut dari awal kan mending ngelanjutin yang ada (milah-milah stok buat rough-cut itu capek lho! :) ). Soalnya, memang meski hubungan kita berdua adalah guru-murid, tapi tipe Vegas yang kita pake beda, dia pake Sony Vegas 11 di Windows 7, gue pake Sony Vegas 10 di Windows XP. (Ibaratnya, jurusnya sama tapi senjata andalannya beda).

Awalnya gue pikir nggak perlu lah sampe minjem, cukup dengan mengubah “isi” laptop gue. Alahasil, laptop jadul itu di-upgrade ke Windows 7, karena si Sony Vegas 11 ga mau dipasang di Windows XP (nggak akur mereka, mungkin masalah keluarga, heu…). Ternyata setelah di-upgrade pun tetap saja laptop gue nggak bisa dipake ngedit, karena efeknya lambaaaaat banget. Ketika konsultasi ke si mentor, memang katanya Vegas 11 itu pake Graphic Accelerator atau apalah, dan ga bisa dipaksa ngedit di spek rendah kaya Vegas 10. Jadi laptop gue yang memori nya cuma DDR-2, 1 GB dan processor-nya jenis Celeron ini mesti pensiun dulu.

Maka itu gue pinjem laptop dia yang speknya bagus, tapi lantas kepikiran—sebagian juga karena dikomporin si mentor– bahwa sudah waktunya gue serius dengan dunia ngedit film. Jadi kalau kemarin-kemarin gue masih serius belajar, sekarang sudah waktunya serius ngejar punya alat kerja yang bagus. Minimal processor jenis i3, atau i4 (bagus kalo dapet i7) dan memori minimal 4 GB. Mau PC atau laptop terserah deh, yang penting bisa jalan.

Keinginan itu tambah kuat setelah dapet proyek dari kang Desmon. Yang kebayang di gue adalah dalam 1-2 bulan kedepan gue bakal ngedit dengan lebih intens, bisa berabe kalau masih pinjem-pinjem alat dari orang. Memang bener, sudah waktunya laptop lama gue pensiun, saatnya beli yang baru… terakhir nanya sih minimal perlu lima juta

Lima juta? Bisa lah, tapi nyari di mana ya? *ngorek-ngorek tong sampah*

Share This:

Related posts:

Ketika Aku dan Dia Menjelma Diam
FADE IN Sore... maghrib... senja (aku tak mengerti lagi sebutannya). Tiga kali film Jermal ini diputar di ruangan ini, ruangan kayu... aku mendengarnya lewat udara. Ketika itu, ada dia, bernyanyi kac...
Katanya: Korean Kill Bill
Saya mau ngomongin film yang judulnya "The City of Violence". Kenapa? karena setelah nonton, saya berpikir... "aneh juga, film segini bagus kok baru sekarang sampai ke Indonesia? padaha...
Been Alone in a Crowded Room
Apa yang paling mengerikan dari sebuah kesendirian? Akhir-akhir ini saya sering bertanya-tanya soal itu. Saat sendirian. Pada akhirnya saya sendiri harus menyerah karena tidak mungkin menemukan jawab...
Apakah GNB Masih Diperlukan?
Gerakan Non Blok (GNB) atau yang dalam bahasa politik internasional disebut sebagai NAM (The Non-Aligned Movement) adalah sebuah gerakan yang tidak menganggap dirinya beraliansi dengan atau terhadap b...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...
Tentang Ferdie, Bennington, dan Meja Bundar
(1) Dalam dua hari, timeline saya dipenuhi oleh dua berita kematian. Semuanya terasa ganjil sekaligus menyesakkan tanpa alasan yang jelas. Ganjil karena jelas-jelas saya tidak mengenal satupun dari p...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Memang Sudah Perlu Ganti Senjata!

  • 30/03/2013 at 20:17
    Permalink

    i5 kali, core i3, i5, i7,itu deretan prosessor core i yang dirilis Intel

Leave a Reply

Your email address will not be published.