Film dan Nasionalisme Polisi Tidur

5cm3Bicara nasionalisme, sebenarnya nasionalisme Indonesia ini lucu. Panji Pragiwaksono pernah menulis bahwa bangsa Indonesia itu seperti desa Galia yang ada di komik Asterix. Galia adalah sebuah desa yang penduduknya sering berkelahi satu sama lain karena hal-hal kecil, namun ketika tentara Romawi datang mendadak desa itu bersatu padu dengan begitu kompak menyerang para musuh, dan selalu sibuk saling menghina, saling menyerang, tawuran antar sesama, saling makan, saling terjang. Tapi ketika bom meledak dan teroris menyerang, waktu Malaysia mencuri kebudayaan kita, ternyata Indonesia bisa bersatu.

Karena itulah jaman sekarang, nasionalisme adalah wacana yang sering dianggap lelucon, banyak sekali kata-kata pesimis bertebaran di dunia maya atau terdengar di dunia nyata yang ditujukan bagi negara ini,. Bahkan begitu menjamurnya kata-kata pesimis tersebut, hingga kesan yang muncul adalah: sudah tidak ada harapan lagi di Indonesia.

Di tengah hujan pesimisme tadi, mengapa pula di masa pergantian tahun mendadak muncul film yang… berani-beraninya menunjukkan keindahan Indonesia, menunjukkan karakter-karakter yang cinta Indonesia, dan menceritakan orang yang memiliki loyalitas akut hingga mau berkarya bagi Indonesia? Apakah filmmaker-nya sedang membuang-buang uang? atau dia hanya sedang membuat film komedi?

Faktanya, film 5 cm (Rizal Mantovani, 2012) dan Habibie Ainun (Hanung Bramantyo, 2012) bukanlah film komedi. Kedua film itu adalah jenis film drama yang sarat dengan pesan nasionalisme. Dan ternyata, kedua film itu pun mampu membuktikan bahwa nasionalisme masih layak dijual. Sampai tulisan ini dibuat, Habibie-Ainun berhasil mencetak angka penonton tertinggi untuk film dari skenario asli, yaitu 800 ribu penonton. Sedangkan kalau dilihat secara keseluruhan, film tersebut ada di posisi dua, tepat di bawah 5 cm yang sudah mencetak angka penonton 1,4 juta orang.

Memang prestasi yang dicapai oleh 5 cm seharusnya tidak mengagetkan lagi sebab keuntungan membuat film dengan cara mengadaptasi novel adalah terbantunya marketing dan promosi karena film itu sudah mempunyai basis penonton dari pembaca novelnya. Lalu posisi dua yang diraih Habibie Ainun itu sebenarnya terjadi karena timing-nya yang tepat. Kalau kita perhatikan, atmosfir film Habibie Ainun bercampuran dengan atmosfir ketegangan akibat kasus penghinaan mantan Presiden Habibie oleh seorang mantan Menteri Malaysia. Artinya—menurut hukum desa Galia—rasa nasionalisme bangsa Indonesia sedang tinggi-tingginya.

 

Tema Sama, Cara Berbeda
Sebenarnya, banyak cara untuk bicara nasionalisme. Termasuk jgua lewat film. Ketika pada awalnya film digunakan (hanya) sebagai seni tontonan dan hiburan, ternyata sekarang film sudah berkembang menjadi media seni yang mampu mentransformasi nilai-nilai kemanusiaan, religi, pendidikan, hingga tentang nasionalisme.

Maka dalam kaitannya dengan nilai-nilai nasionalisme, film diharapkan mampu memberikan sebuah stimulus kepada masyarakat akan pentingnya rasa nasionalisme dan rasa cinta tanah air. Stimulus itu tersampaikan melalui nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya, baik secara eksplisit maupun implisit.

Nilai-nilai nasionalisme dapat berupa bagaimana cinta kita terhadap negeri ini dalam aspek pendidikan, menghargai pahlawan, sosial budaya, hingga politik. Dengan pesan-pesan yang disampaikan dari berbagai aspek diharapkan kita mempunyai inspirasi untuk lebih mencintai negeri ini dengan cara yang kita pahami dan dalami di berbagai aspek.

Lalu jika kita bicara film 5 cm dan Habibie Ainun, Keduanya ini jelas mengusung nasionalisme, meski dengan “cara masuk” yang berbeda. Habibie Ainun menawarkan cerita tentang seseorang yang cinta pada negerinya, memiliki rasa nasionalisme yang akut, dan ingin mengubah keadaan. Cerita film ini layak disejajarkan dengan kisah Soe Hok Gie dalam film Gie (Riri Riza, 2005), dan Albertus Soegijapranata dalam film Soegija (Garin Nugroho, 2012).

Sebaliknya 5 cm menawarkan rasa nasionalisme dengan cara dijejalkan begitu saja ke dalam cerita. Karena itu cerita film ini layak disejajarkan dengan film Nagabonar 2 (Deddy Mizwar, 2007).

Mungkin akan muncul pertanyaan: bukankah 5 cm adalah film adaptasi? Artinya secara skenario dan dialog pun sudah terpatok pada novel. Jadi kalau nasionalisme dalam filmnya terasa dijejalkan, bukankah novelnya pun begitu?

Masalahnya, novel dan film adalah dua media yang berbeda. Novel memiliki ruang untuk menjelaskan sesuatu, sebaliknya film memiliki kemampuan menata visual dengan baik. Jadi mungkin saja secara novel, 5 cm berhasil, tapi secara film tidak. Jadi andaikan saja ada penonton yang belum membaca novelnya, mereka akan merasa nasionalisme dalam film ini dijejalkan mendadak. Misalnya dari tokoh Genta yang mendadak jadi nasionalis sepanjang pendakian sampai puncak. Tak ada penjelasan karakter sama sekali selain Genta yang pengusaha muda, rapi, dan elegan. Bahkan kalau mau jujur, tidak ada penjelasan tentang karakter Genta yang punya hobi naik gunung, senang dengan alam, atau minimal gemar berolahraga.

Begitupun tokoh Ian yang mendadak saja disinggung oleh teman-temannya “Gimana? Indonesia keren juga kan. Lo masih males tinggal di sini?”, atau dengan kata lain Ian dibuat “tidak nasionalis” namun karena sikap ini tiba-tiba muncul pasca klimaks film dengan tidak adanya informasi perihal keengganan Ian dengan bangsanya sendiri sejak awal, maka efeknya jadi terasa sebuah keterpaksaan cerita untuk mendukung semangat nasionalisme yang diusung film. Ya, di dalam novel mungkin ada penjelasan itu, tapi di dalam film tidak.

 

Nasionalisme, Masih Jadi Anak Tiri
Lalu apakah ada yang salah dari dua perbedaan “cara masuk” tersebut? Sebenarnya tidak, karena toh pesan kedua film itu sampai kepada penonton. Artinya, tujuan film itu dibuat—selain menghibur dan menghasilkan uang—sudah tercapai. Sebab apa artinya sebuah karya seni jika pesannya tidak sampai?

Yang harus kita tengok berikutnya adalah soal kuantitas, seberapa sering bioskop kita dipenuhi penonton yang menikmati film bertema nasionalisme? Karena faktanya—kembali kepada teori desa Galia—nasionalisme kita layak disebut nasionalisme kagetan. Yaitu nasionalisme yang tidak hadir setiap saat, dan baru muncul-sewaktu-waktu setiap ada stimulan tertentu. Bahkan sebuah guyonan menyebutkan menjadi orang Indonesia berarti: mengendarai kendaraan Jepang sepulangnya dari restoran Amerika, menuju sebuah rumah yang di dalamnya banyak barang-barang buatan Cina. Ironis!

Bila kita tarik kata nasionalisme kagetan itu ke dalam film, kita akan mendapati film-film pengusun nasionalisme. seperti Merah Putih (Yadi Sugandi, 2009), Garuda di Dadaku (Ifa Isfansyah, 2009) atau Minggu Pagi di Victoria Park (Lola Amaria, 2010), ternyata masih berdiri dalam keterasingan karena mayoritas film kita yang beredar setiap tahunnya memiliki tema yang sama sekali berbeda.

Misalnya saja tahun 2012, dari sekitar 80 film lokal yang beredar, tema nasionalisme hanya menempati 9% (setara dengan persentase tema komedi). Jauh dengan tema dewasa atau tema kengerian (horor dan thriller) yang masing-masing menempati 31% dan 27%.

Karena proses kekagetan itulah maka film bertema nasionalisme ibaratnya polisi tidur. Ketika sedang melaju dengan kontur jalan yang sama, tiba-tiba kita dikagetkan dengan tonjolan yang membuat kita tersentak. Kita tersentak dengan benda itu, tapi kita tahu bahwa benda itu perlu untuk membuat kita kembali sadar diri pada kondisi jalan. Perspektifnya: ketika kita terlanjur terbiasa dengan deretan tema kehidupan remaja, kehidupan dewasa, atau kengerian hantu di bioskop, mendadak muncul satu tema yang asing. Tapi kita seolah sepakat bahwa tema itu penting, dan kita menikmatinya sesaat.

Mengapa hanya sesaat? Karena wajarnya, selepas melindas polisi tidur kita biasanya kembali menggas kendaraan kita sampai menemukan polisi tidur lagi, maka selepas film bertema “kagetan” seperti ini, biasanya kita harus kembali menikmati tema-tema biasa.

Jadi lepas dari caranya menanamkan tema nasionalisme—baik halus atau dijejalkan paksa—keberadaan 5 cm dan Habibie Ainun harus kita beri ekspresi lebih. Sebab mendengungkan nasionalisme perlu kontinuitas, meski awalnya hanya berupa “kekagetan” tapi bila dilakukan dengan rutin dan dengan durasi yang makin pendek maka lama kelamaan ini akan jadi kebiasaan.

Lalu setelah itu, siapa lagi yang bisa pesimis pada Indonesia?

 

Bandung, Januari 2013

Dimuat di Pikiran Rakyat, 11 Januari 2013

Share This:

Related posts:

Rumah Putih #5: Ketika Peranan Menjadi Diri
Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? “Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku pera...
Montir Baru: Keiko Kitagawa
Jadi kemarin siang sambil istirahat, saya nonton film Hollywood ringan. Selalu gitu kok polanya, kalau lagi pengen istirahat dari kerjaan dan ngisi waktu dengan nonton maka saya milih film-film hibura...
Sedikit Tentang Genre Road Movie
Le Grand Voyage adalah sebuah film yang menceritakan perjalanan ayah dan anak dari Perancis menuju Arab Saudi. Singkatnya, sang ayah ingin naik haji dan minta diantar oleh putranya mengunakan mobil, m...
Perjalanan Waktu di Artistik Grand Budapest
Pagi ini, menonton film The Grand Budapest Hotel (Wes Anderson, 2014) salah satu dari tiga film pemenang Oscar 2015 yang ingin saya tonton selain Birdman (Alejandro G Iñárritu, 2014) dan Whiplash (Dam...
Sahabat Museum, Menghangatkan Museum
Bila kita mendengar kata “museum”, biasanya pikiran kita langsung terasosiasi pada sebuah bangunan besar, luas, bernuansa temaram, dingin, dan sepi. Gambaran ini tidak terlalu mengherankan karena pada...
Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati
Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1] Ah, semoga ada yang benar-benar melihat b...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Film dan Nasionalisme Polisi Tidur

  • 21/09/2013 at 07:52
    Permalink

    Paragraf pertama, bagian : “……ketika tentara Romawi datang mendadak desa itu bersatu padu dengan begitu kompak menyerang para musuh, dan selalu sibuk saling menghina, saling menyerang, tawuran antar sesama, saling makan,…” gak enak bacanya deh Dra. Mungkinkah ada kata yg kurang ? Atau tanda baca yg kurang tepat ? Cekidot

  • 28/01/2017 at 18:21
    Permalink

    bagus sekali thanx to upload,semoga bermanfaat bagi penulis dan yang membaca

Leave a Reply

Your email address will not be published.