Aturan Satu, Tiga, dan Empat Detik dalam Editing

Fade_inKegiatan editing film berkaitan erat dengan durasi. Biasanya durasi kemunculan sebuah gambar atau suara akan membuat film kita enak ditonton, atau justru sebaliknya: membuat penonton tidak nyaman. Sekarang kita akan bahas tiga teori waktu dalam editing.

Aturan Satu Detik
Aturan ini berlaku ketika kita akan melakukan transisi standar antar klip seperti fade in, fade out, dan dissolve. Maksud satu detik disini adalah, durasi minimal transisi itu. Menurut pengalaman, durasi satu detik cukup enak dipandang mata. Bila kita ingin memasang durasi lebih lama tetap diperbolehkan, tapi nilai satu detik ini tetap jadi nilai standar transisi.

Namun nilai standar ini bisa berubah tergantung juga pada jenis transisi yang dipergunakan, kadang ada juga efek transisi yang membutuhkan waktu lebih pendek atau lebih panjang agak enak dipandang mata.

Misalnya, efek transisi crossover justru memerlukan waktu minimal 0.10 detik, namun transisi portal… akan lebih baik jika memakai durasi minimal 2-3 detik. Tapi bila kita tidak ingin menggunakan efek khusus, maka rumus satu detik ini harus digunakan.

Namun, sekali lagi, diatas itu semua kelayakan visual tetap memegang standar terpenting. Jadi segala rumus ini bisa dilanggar bila seandainya hasil akhir terlihat lebih baik.

fade in
Ilustrasi transisi fade in dalam editing

Aturan Tiga Detik
Sebagai editor film, kita tidak hanya berhubungan dengan file gambar, tapi juga dengan file-file suara. Salah satu suara yang akan kita tangani adalah narasi, dan aturan tiga detik ini adalah waktu minimal yang harus kita pakai sebagai jeda antar kalimat dalam narasi tersebut.

Bila kita menonton film dokumenter seperti Discovery Channel, kita akan merasakan betapa narasi disana mengalir dan tidak terburu-buru. Narator terasa sabar menjelaskan sesuatu dan kita sebagai penonton tidak merasa dijejali informasi terlalu banyak meski memang film itu memiliki banyak sekali informasi. Ternyata penyebabnya—selain memang narasi film itu baik, padat, dan jelas—adalah penggunaan jeda antar kalimat.

Maka ketika menerima file narasi, langsung kita masukkan ke software editing, kita potong-potong file itu sesuai dengan jumlah kalimat narator, lalu letakkan dengan jarak masing-masing tiga detik di track audio.

Selanjutnya kita tinggal mengisi gambar-gambar sesuai dengan narasi. Maka dari itu kita perlu stok gambar cukup banyak, antara lain untuk mengisi jeda yang timbul di track audio.

Ilustrasi transisi tiga detik dalam editing
Ilustrasi transisi tiga detik dalam editing

Aturan Empat Detik
Waktu empat detik adalah durasi maksimal untuk kemunculan sebuah gambar. Dikatakan standar karena dalam kondisi normal, harusnya terjadi pergantian gambar setiap empat detik. Sebagai contoh coba kita perhatikan video klip musik, biasanya setelah gambar muncul 4-5 detik maka gambar itu akan berganti.

Durasi ini bisa berubah tergantung keperluan. Misalnya jika kita ingin menyesuaikan kemunculan gambar dengan ketukan lagu backsound, atau ada informasi di gambar tersebut yang memerlukan durasi lebih panjang (misalnya dalam demo memasak/pertukangan).

Aturan ini tidak hanya dipakai ketika kita membahas stok gambar. Tapi ketika kita mewawancara narasumber atau host pun ada baiknya aturan empat detik ini dipakai.

Gambar host atau narasumber tadi bisa kita selingi dengan gambar dari kamera kedua (berbeda sudut pengambilan), atau bisa juga diselingi stok shoot

4
Ilustrasi transisi 4 detik dalam editing

Share This:

Related posts:

Beruntunglah, Manusia Terbuat dari Tanah
Di ruang kerja saya sekarang, sebenarnya nggak ada satupun orang yang bisa ngedit film siang-siang! Kenapa? apa ada pocong? Lho kok ada pocong siang-siang? Bisa saja lah, kalau pocongnya salah pergaul...
Nonton "IL POSTINO": Ide Ceritanya Bagus...
Oke, sebelumnya lebih baik kita tahu dulu, siapa itu Pablo Neruda. Menurut catatan sejarah, Pablo Neruda lahir di Parral, sebuah kota sekitar 300 km di selatan Santiago, Chili, 12 Juli 1904 nama aslin...
Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)
Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Vid...
Coraline... Bukan Caroline!
Sekarang saya bakal ngomongin salah satu film horor yang bikin betah ditonton. Yah sebenarnya saya ini rada alergi sama film horor, kecuali kalau dijebak teman seperti kasus ini. Namun khusus untuk ...
Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay
Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalny...
Kapan Sebuah Film Selesai?
Kapan sebuah film dianggap selesai? Beberapa orang nganggapnya pas film itu selesai diedit, beberapa orang lagi nganggapnya pas film premiere. Bahkan—ini yang konyol—beberapa orang ngira film selesai ...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Aturan Satu, Tiga, dan Empat Detik dalam Editing

  • 11/02/2013 at 07:34
    Permalink

    Segala sesuatu memang tidak dapat direncanakan dengan rinci tiap detiknya,karena banyak hal yang berada di luar kendali kita. Namun, dengan adanya perencanan waktu yang baik, kita pasti memiliki pola yang jelas untuk mengoptimalkan waktu dan mengurangi peluangnya kelupaan untuk suatu aktivitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published.