Catatan Cloudy #3: Siapa Mendung dan Verani?

gbrrrSalah satu komponen dalam film adalah artis, dan begitu juga dengan Cloudy: The Prequel. Sebelum bikin skenario film ini gue tentu harus membaca novelnya dulu, dan memang gue baca novel itu dua kali. Baca pertama untuk cari tahu cerita lengkapnya, baca kedua buat merekam atmosfirnya. Dari sana gue memastikan (seperti yang gue prediksi dari awal) bahwa yang harus gue angkat adalah tokoh Mendung dan Verani.

Ternyata nggak terlalu sulit memilih pemain untuk kedua peran ini, kebetulan gue beberapa kali kerjasama dengan artis SMA yang bagus-bagus dan tinggal memilah-milah saja. Ya, gue bilang nggak terlalu sulit mungkin juga karena nyaris ga ada casting kecuali yang terjadi di otak gue saja.

Dan terus terang sih, karakter Mendung dan Verani ini sebenarnya adalah karakter yang gampang diikuti (oleh para artis tentunya lah!) karena karakter mereka–terutama Verani–adalah karakter yang biasa ada di sinetron atau FTV. Mungkin ini juga… dipengaruhi sama si penulis novel Cloudy yang notabene tercatat juga sebagai penulis skenario film-film FTV

Oke, langsung saja, akhirnya inilah pilihan gue untuk memerangkan kedua tokoh di atas:

Mendung: Amelya Melviani
img_1785Amel baru gue kenal, tapi gue sudah tahu aktingnya karena pernah ngedit film dimana dia main jadi tokoh utama. Memang penyakit editor film tuh gitu, karena anteng berjam-jam (bahkan berhari-hari) nongkrongin akting seseorang di layar, jadi kadang berasa GR deket sama si artis, padahal artisnya nggak ngerasa gitu. 😀 Pas di dunia nyata aja, baru nyaho! Ketika si editor nyapa artisnya dengan style sok kenal (memang karena berasa udah kenal deket), si artis bengong dengan tampang bertanya “ini siapa ya?”

Apalagi gue juga terbantu lewat masukan dari seorang artis yang pernah jadi lawan mainnya, menurut orang itu Amel cocok memerankan karakter murung, sedih, nihilis, hidup di kelas menengah tapi minderan.

Memang intinya, karena waktu mepet maka gue perlu artis yang sudah jadi dengan karakter asli yang tidak terlalu jauh dengan karakter yang diperankan, maksudnya biar nggak ada masalah dengan penjiwaan.  Lalu, memang setelah syuting jalan gue merasa akting Amel dalam tokoh Mendung setidaknya mirip dengan yang gue bayangkan.

Verani: Sausan Fildzah Agustin
img_1622Gue tahu ada orang yang namanya Sausan ketika ngerjain proyek bikin iklan sebuah produk. Memang dia nggak jadi tokoh utama, waktu itu dia “cuma” berperan jadi temannya si tokoh utama, yang dalam iklan sama sekali nggak ngomong (cuma jingkrak-jingkrak doang, hehe…) ngomong sih, cuma gue potong pas editing, tapi dari situ aja gue sudah “kepincut” sama karakternya. Problemnya, dia sudah punya cowok, PLAKK!!

Kembali pada pedoman gue milih karakter, yaitu gue perlu artis yang sudah jadi dengan karakter asli yang tidak terlalu jauh dengan karakter tokoh yang diperankan, maka menurut pandangan gue bahkan secara wajah pun Sausan termasuk ke karakter Verani yang “setidaknya” lebih ceria daripada  Mendung. Maksud gue, minimal setelah wajahnya mencerminkan karakter

Dan yang bikin gue suka meski dia sudah punya cowok (kenapa beloknya ke sana terus!) Sausan ternyata termasuk aktris yang lentur juga, dia bisa dibentuk sesuai keinginan. Seperti pas syuting, ada kejadian dimana dia sempat salah mempersepsikan karakter Verani, tapi cukup dengan sekali gue kasih tahu, di take berikutnya dia sudah memerankan dengan baik dan benar seperti yang gue bayangkan.

Rasanya senang kerja dengan dua artis ini berdua, kapan-kapan gue pengen lagi bisa kerjasama dengan mereka, tentu dengan persiapan yang lebih matang lagi![]

cloudy-the-prequel-m2t_000138600
Scene dimana Mendung dan Verani ngobrol berdua

Share This:

Related posts:

Meneliti Industri Film Porno (Amerika)
Tidak bisa dipungkiri bahwa film porno itu ada, film ini merupakan varian dari romantic films (yang di dalamnya juga ada kategori semi-porno, sexual films, dan erotic films), dan termasuk ke sebuah ge...
500 Hari yang Menyebalkan
Setelah nonton film 500 Days of Summer (Marc Webb, 2009) temen saya ngirim SMS begini: "Every young single girl is f*****g suck! Thanks GOD gue udah merried!"... Haha, oke saya akui SMS ...
[Rumah Putih #1] Berharap Pada yang Bangkit dari Kubur
Cerita tentang mayit yang bangkit dari kubur, yang kini mendominasi sinetron “religius”, pernah juga merajai tema film Indonesia tahun 1980-an. Namun, bangkitnya mayit itu ternyata membawa “pesan” y...
Buried, Film Panjang dengan Satu Aktor!
Wew, satu kata buat film ini: Briliant! Serius, tadinya saya merasa agak pesimis ketika ada teman yang menyarankan  nonton. Itu karena saya berpikir: apa mungkin ada film yang enak ditonton 90 menit, ...
Rumah Putih #5: Ketika Peranan Menjadi Diri
Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? “Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku pera...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.