Catatan Cloudy #1: Jabatannya Sampe Tumpeh-Tumpeh!

aicurtain2Huaahh, selesai sudah proyek film pendek yang kita kasih code name “Cloudy” ini, hasilnya, tim gue (Salman Film) jadi juara satu! Yaayy! Thanks GOD! Judul film yang kita buat adalah “Cloudy: The Prequel”

Cloudy ini adalah proyek film pendek yang kita ikutkan ke Andi Shot Movie Awards (ASMA), sebuah kompetisi film yang diadakan oleh penerbit Andi. Dalam lomba ini peserta harus membuat film lima menit dari adegan manapun yang ada dalam novel terbaru terbitan mereka, judulnya Cloud(y), nama penulisnya Achi TM (link blognya). Temen gue juga, tapi tentu saja hasil keputusan kita juara satu nggak ada hubungannya dengan gue kenal penulisnya lah… :)

Proyek ini sebenarnya cukup berkesan, karena disini untuk pertama kalinya gue memegang jabatan yang di luar kebiasaan. Oke, gue biasanya jadi tukang nunggu stok gambar di meja editing, tapi kali ini total-total gue harus megang lima jabatan sekaligus! (diulang sekali lagi biar dramatis: LIMA!) yaitu: produser, manager produksi, asisten sutradara, penulis skenario, editor. Ini nggak dihitung sama kerjaan-kerjaan kecil ala runner macam ngurusin konsumsi, nemenin artis ganti baju atau tukang gulungin kabel. Ya, yang kerjaan level begitu sih jangan dihitung deh.

Ehm, sebenarnya nggak separah yang dibayangkan juga… karena semua kerjaan nggak datang sekaligus. Ya misalnya, penulis skenario kan tugasnya di masa pra produksi, editor baru kerja di pasca produksi, terus asisten sutradara kerja di masa syuting aja. Mungkin kalau yang kerjanya nggak putus sampai akhir itu ya… produser dan manager produksi. Lucunya… di bagian pasca produksi, tugas produser antara lain memastikan editor kerjanya bener dan kesejahteraannya (baca: konsumsi dan istirahat) tercukupi. Masalahnya, yang  jadi editor kan gue juga… well that’s some akward moment, hehe

Capek iya, stress pasti, tapi gue puas sama hasilnya. Memang ada sedikit kekurangan dalam hasil filmnya, semacam ada “klik” yang harusnya nggak disitu, ada part yang nggak terlalu pas letaknya. Tapi memang gitu kan kerja kreatif? Tidak pernah puas dan selalu pengen revisi terus. Eh buset kenapa paragraf ini jadi serius banget!

Tapi yang paling bikin gue stress adalah karena gue terpaksa kerja lintas alam dunia. Soalnya, seperti yang kita sudah sama-sama tahu kalau kerja film itu terbagi dua: manajemen dan kreatif. Di manajemen masuk tuh produser, line producer, manager produksi, perijinan, promosi, dan berbagai kerjaan yang berkutat di area administrasi manajemen. Sementara di kreatif ada posisi seperti sutradara, penulis skenario, editor, sinematografi, penata musik, dan berbagai posisi lain yang lebih dominan ke art (pokoknya otak kanan semua deh!)

Nah, biasanya kalau misalnya nggak ada lagi orang, sebuah jabatan boleh tuh dirangkap-rangkap tapi batasannya harus tetap satu jenis. Kalau manajemen ya manajemen semua, kalau kreatif ya kreatif semua. Makanya nggak heran kalau kadang ada sutradara merangkap penulis skenario, atau manager produksi yang ikut juga ngurus promosi dan distribusi.

Tapi parahnya gue kemarin—lihat saja di daftar—adalah harus ngerjain kerjaan kreatif (asisten sutradara, penulis skenario, editor) dirangkap sama kerja manajemen (produser, manager produksi). Hasilnya? Sebenarnya itu langsung gue tepar bin semaput di pra produksi! Hehe… bayangin aja, di satu saat gue harus mikirin skenario, tapi juga harus mikirin darimana dapet duit buat beli konsumsi!

Makanya gue lega ini sudah selesai. Tarik nafas duluuuuuuuuuuuuu…

Juara satu dalam bentuk apapun sangat layak disyukuri, and sorry guys filmnya nggak bisa gue posting dulu di sini, gue belum yakin dapet ijin dari penerbit Andi atau tidak, ntar salah-salah malah dimarahin, hehe (duit hadiahnya belum dapet soalnya!)[]

img_1802b
Sebagian crew dan cast film “Cloudy: The Prequel”

Share This:

Related posts:

Nonton Downfall: Merinding Dini Hari
Saya yakin  sudah banyak yang menonton film ini. Ya, soalnya ini film lama, rilis tahun 2004 di Jerman (kalau rilis di USA tahun 2005) dengan disutradarai oleh Oliver Hirschbiegel. Film ini masuk kate...
500 Hari yang Menyebalkan
Setelah nonton film 500 Days of Summer (Marc Webb, 2009) temen saya ngirim SMS begini: "Every young single girl is f*****g suck! Thanks GOD gue udah merried!"... Haha, oke saya akui SMS ...
Charlene Choi, Kamu Cocok Buat...
Setelah nyaris sebulan blog saya vakum—meski sebenarnya banyak bahan yang bisa ditulis—karena saya kebingungan: mana duluan yang harus ditulis. Tapi ternyata semuanya berubah karena seorang cewek, leb...
Chef: Hidup Kita di Tangan Kita
Saya baru selesai nonton film Chef (Jon Favreau, 2014), inti ceritanya soal seorang juru masak profesional di sebuah restoran ternama yang mengalami konflik hebat dengan seorang kritikus makanan—dan t...
Perjalanan Waktu di Artistik Grand Budapest
Pagi ini, menonton film The Grand Budapest Hotel (Wes Anderson, 2014) salah satu dari tiga film pemenang Oscar 2015 yang ingin saya tonton selain Birdman (Alejandro G Iñárritu, 2014) dan Whiplash (Dam...
Goodbye Dragon Inn
Bulan Desember ini saya memang sudah rencana untuk menonton film-film dengan ritme yang lambat. Tidak ada alasan khusus. Euh... ada sih... yaitu untuk lebih menghayati kesendirian, kesepian, dan kerin...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.