Rurouni Kenshin, Adaptasi yang Cukup Baik

20120810_Rurouni_KenshinAkhirnya kemarin terlaksana juga nonton salah satu dari dua film yang gue pengen banget nonton di tahun 2013, yaitu Rurouni Kenshin (Keishi Ohtomo, 2012). Nah, jadi sekarang gue tinggal ngejar film Django Unchained (Quentin Tarantino, 2012). Seperti biasa, agak sulit menunggu film seperti ini masuk bioskop Indonesia, jadi yang bisa dilakukan adalah menunggu DVD bajakan yang biasanya muncul 2-4 bulan setelah tanggal rilis resmi. Dan menurut gue, Rurouni Kenshin termasuk cepat, DVD bajakannya muncul cuma 2 bulan setelah rilis.

Gue sebenarnya bukan pengikut setia komiknya, apalagi anime nya. Tapi cukup tahu lah kualitas cerita si Battosai karangan Nobuhiro Watsuki ini, setidaknya gue lihat si pengarangnya serius banget menulisnya, sampe riset-riset segala. Nah, maka dari itu gue sebenarnya bersyukur banget karena akhirnya ketika diangkat ke layar lebar, film ini ditangani langsung oleh orang Jepang.  Artinya, ada jaminan soal style dan rasa Jepangnya akan tetap ada.

Karena meski bukan penggemar berat, tapi gue masih nggak rela kalau anime sebagus Rurouni Kenshin mesti mengalami kerusakan macam cerita Dragon Ball di Dragonball Evolution (James Wong, 2009) dengan nilai jeblok 3,1 di imdb, atau cerita si Avatar dalam film The Last Airbender ( M. Night Shyamalan, 2010) yang juga cuma mendapat nilai 4,5.

Nah, ternyata memang dugaan gue tepat. Dari soal casting sampai setting, film ini masuk kategori bagus. Secara cerita juga lumayan bagus lah, jadi meski gue nggak ngerti ini yang diambil di komik bagian mana, tapi setidaknya gue bisa tetap ngikutin, meski tadinya gue berharap kebrutalan si Battosai ini digambarkan setara dengan film Ninja Assasin (James McTeigue, 2009) … (ya wajar dong gue berharap gitu, minimal karena keduanya sama-sama digambarkan jagoan yang ngebunuh orang pake samurai), tapi ternyata adegan laga di sini–menurut gue–masuk ke standar film laga biasa buat usia remaja ke atas, darahnya biasa aja. Paling juga bisa lah disetarakan dengan Battle Royale (Kinji Fukasaku, 2000).

Yah, nggak apa-apa sih… mungkin karena secara cerita si Battosai ini memang nggak mau lagi ngebunuh maka adegan-adegan pertempurannya dibikin biasa, atau mungkin karena pertimbangan pasar pembaca komiknya yang kadang masih SD juga. Atau mungkin karena gue punya sedikit unsur psikopat? 😀 ah, masa sih? ngeliat film Rumah Dara atau Texas Chainsaw Massacre aja gue ga berani… apalagi ngeliat Cannibal Hollocaust… DOH, ga pernah bisa tahan 10 menit!

Apalagi aktor utamanya (Takeru Satoh) sedikit banyak gue sudah kenal waktu dulu sempat keranjingan nonton 10 seri lengkap dorama Mei-chan no Shitsuji, disana si Takeru Satoh ini jadi tokoh Kento Shibata. Jadi gue tahu sekarang kualitas akting orang ini. Itu semua yang menyebabkan gue merasa film Rurouni Kenshin bagus, dan mungkin saja bisa gue tonton beberapa kali lagi, terutama sih pengen ngeliat Megumi lagi…

Buset deh… beneran! tokoh Megumi nya cakep banget!

megumi
tuh kan, Megumi beneran cakep… :D

Share This:

Related posts:

Death Bell: Ini Film Slasher Pendidikan?
Film Death Bell dari Korea ini adalah karya Kim Sang Man (ditulis di kotak DVD) atau Yoon Hong-seung (ditulis di situs resminya) yang rilis tahun 2008. Film ini sebenarnya termasuk ke genre slasher. S...
Meneliti Industri Film Porno (Amerika)
Tidak bisa dipungkiri bahwa film porno itu ada, film ini merupakan varian dari romantic films (yang di dalamnya juga ada kategori semi-porno, sexual films, dan erotic films), dan termasuk ke sebuah ge...
500 Hari yang Menyebalkan
Setelah nonton film 500 Days of Summer (Marc Webb, 2009) temen saya ngirim SMS begini: "Every young single girl is f*****g suck! Thanks GOD gue udah merried!"... Haha, oke saya akui SMS ...
Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi
Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gel...
[Rumah Putih #2] Singkong di Paha Lasmini
Lasmini tersenyum. Dia terus berjalan, seolah tak menyadari puluhan pasang mata yang mengawasinya dari semak dan rerimbun tegalan. Di ujung jalan, langkahnya berhenti, dan sambil membusungkan dada, ...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Rurouni Kenshin, Adaptasi yang Cukup Baik

  • 18/01/2013 at 15:29
    Permalink

    Tinggal nonton filmnya secara bajakannya sudah didapat hehehehe ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published.