Dumbledore Harris vs Dumbledore Gambon

Kemarin gue seharian nonton ulang seri-seri Harry Potter. Memang ngacak sih, lagipula sudah hapal ini ceritanya dari novel, jadi nggak terlalu merhatiin juga. Karena gue selalu beranggapan informasi di novel selalu lebih baik dari yang ada di film, mungkin film unggul dari sisi visualisasi. Tapi novel tetap punya ruang lebih buat bercerita.

Nah, ketika menonton itulah gue baru ingat ada satu karakter penting yang berganti, yaitu karakter Albus Dumbedore.  Sampai seri ke 2 tokoh ini masih dimainkan sama Richard Harris, seorang aktor Irlandia kelahiran tahun 1930. Sebelum dia meninggal tanggal 25 Oktober 2002 (cuma kurang lebih dua minggu sebelum premiere Harry Potter and the Chamber of Secrets di Amerika), dan akhirnya mulai seri ke tiga tokoh Dumbledore dimainkan sama aktor Inggris, Sir Michael John Gambon (Michael Gambon). Keduanya punya prestasi yang hebat di bidang film, mereka merambah dunia-dunia macam teater, nyanyi, bahkan Harris sih sampai jadi penulis skenario, sutradara, dan produser. Sebuah totalitas yang bikin gue salut sama aktor-aktor macam mereka.

Nah, tapi kalau gue membandingkan keduanya dalam Harry Potter saja… sebenarnya secara pribadi gue lebih suka karakter ini dimainkan sama Richard Harris. Soalnya secara keseluruhan, dia yang paling bisa memainkan karaker Dumbledore hingga memenuhi imajinasi gue waktu baca novelnya. Richard Harris benar-benar mencerminkan karakter Dumbledore, terbukti dia sempat dapat nominasi Phoenix Film Critics Society Award for Best Ensemble Acting untuk perannya di Harry Potter and the Chamber of Secrets. Artinya memang dia bagus banget memainkan peran ini. Lalu… catatan penting dari gue adalah cara ngomongnya, benar-benar menunjukkan Dumbledore yang berwibawa dan penyabar. Benar-benar karakter pengayom buat murid-muridnya yang diincer terus sama Volemort. Sebenarnya gue yakin kalau saat itu Harris benar-benar berubah menjadi Dumbledore 😀

Beda sama Gambon, ketika Dumbledore dimainkan sama dia yang gue lihat cuma tuanya aja 😀 tapi karakter jadi berubah beda banget. Dumbledore jadi kakek-kakek emosional yang gue lihat ga punya wibawa, jadi kesannya untuk naekin wibawa sebagai kepala sekolah dia mesti marah-marah terus kerjaannya (sorry, ini pandangan gue aja lho)

Share This:

Related posts:

Bekerja Untuk Saxophone
Beberapa orang mengenal saya sebagai novelis, beberapa mengenal saya sebagai editor film, kadang sering disebut juga sutradara film, dan beberapa orang yang lain mengenal saya sebagai peniup harmonika...
That's Right, Mr Formichetti!
Hal yang paling saya pelajari dari sosial media adalah: Saya diajari menipu diri. Ini seriusan, sejak awal tahun 2015 intensitas saya menulis status di sosial media menurun drastis, bisa seminggu sek...
Paket Video Wedding: No Way!
Dari dulu, PH tempat saya kerja mengerjakan hampir semua jenis film: video klip, iklan, animasi, film panjang, film pendek, liputan acara, dan banyak lagi. Tapi ada satu job yang sering banget kita ...
Tuhan Memaafkan Semuanya, Termasuk Steve Harvey
Peristiwa salah baca di ajang sekelas Miss Universe 2015 kemarin itu memang cukup bikin heboh, dan dunia seolah kompak menyalahkan Steve Harvey yang didapuk jadi MC acara tersebut. Buat yang ngga...
Filsafat Itu Seperti Pornografi
Seorang teman menulis status Facebooknya, statusnya tidak penting. Tapi dibawahnya ada 70-an komentar, yang salah satunya cukup mengganggu saya karena isinya: "Makanya jangan belajar filsafat, ka...
Impaksi 02: Operasi di RSGM
Di postingan sebelumnya, saya cerita bahwa untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gara-gara impaksi gigi geraham bungsu. Operasi pertama saya lakukan tahun 2015, dan operasi kedua sekitar semingguan...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.