Anti “Editor-Darah-Tinggi” (Buat Kameraman Wedding)

main-image-packagesGue jarang banget ngedit atau jadi kameraman di acara wedding. Tapi kadang kalau sudah kecelakaan maka gue akan terjebak ditipe kerjaan yang sebenarnya gue hindari ini. Misalnya sekarang, tulisan ini gue buat saat lagi istirahat, setelah boss meng-acc draft 5 editan video wedding gue! Pusing woy! Ini pasti gara-gara yang married anaknya OD (Orang Dalam) yang nggak enak buat ditolak!

Tadinya gue sudah bisa menghindar dengan sukses, sebab proses editing mau dikerjain sama si Yudha (teman gue yang lain), tapi akhirnya terjadi sesuatu yang bikin semua kerjaan pindah lagi ke gue! yah mungkin karena nggak ada editor sekeren gue lagi di sana (ehm… ehm).

Awalnya gue pikir ini akan normal sesuai prosedur. Artinya siap kerja, capture file, simpan hasil capture di software, terus edit, terus render, terus burn ke DVD, terus kasihin ke yang punya, terus terima duit, terus jajan! 😀 Tapi ternyata begitu gue lihat stoknya, aduh… gue nggak tahu siapa yang jadi kameramen! Stok nya hancur (sorry, ini setelah gaya bahasanya diperhalus puluhan kali), emh… ya apa boleh buat, editor memang sering kena “karma” begini, dikasih stok hancur, tapi hasilnya tetap harus bagus! Hiks hiks…

Memang sekarang kerjaannya sudah beres, tapi kejadian ini otomatis membuat gue merasa perlu bikin semacam panduan buat kameramen wedding, supaya stoknya nggak terlalu hancur, dan bisa tetap bikin editornya berkepala dingin pas ngerjainnya, dan inilah beberapa tips yang sudah gue susun:

12_4_2013_15_54_1216_FCF_Image_1_1

Sebelum Kerja, Ketemuan Dulu Sama Crew Lain
Bukan cuma ketemuan, tapi bahas apa aja gambar yang mau diambil, susunan acaranya seperti apa, orang-orang yang terlibat seperti apa, dll. Kalau dalam film sih istilahnya pra produksi, jadi supaya ketika hari-H nya nggak salah-salah maka yang namanya pra produksi ini vital banget! Termasuk kalau kameramannya ada dua orang, bisa tuh kalian ngomongin tipe white-balance yang mau dipake. Jangan sampai pas pelaksanaan yang satu pake setting indoor, yang satu lagi outdoor (atau setting night vision! LHO!)

Pengenalan Lokasi
Kameraman harus bisa ngakalin setting tempat, jangan menyerah dengan tempat yang sempit, coba atuh cari sudut-sudut yang menarik, naik ke atas pohon kalau perlu, yang penting momen bisa keambil. Soalnya kadang dengan ngerekam dari sudut yang nggak biasa bikin film kita jadi nggak biasa meskipun adegannya standar banget (misalnya, adegan salaman sama tamu)

Ngerti Komposisi, Atas Bawah Kiri Kanan
Maksudnya, si objek kudu seimbang di empat sisi di layar. Ini penting, kalau ini salah nanti seseorang malah jadi kelihatan aneh, tapi bukan berarti setiap objek kudu ada di tengah terus, kadang kita juga lihat objek yang agak ke kanan, tapi malah jadi bagus kan? feeling kameramennya sih yang harus main. Biasanya penyakit ini keluar kalau lagi ngerekam sambutan pihak keluarga, khutbah nikah, orang baca Al-Quran, dan ambil gambar MC. nanti deh gue bakal bahas lebih jauh soal komposisi ini, tapi intinya coba pelajari yang namanya rules of thirds yang biasanya jadi standar dunia fotografi

Fokus, Mesti Tahu Apa yang Diambil
Nah, ini juga penyakit standar, sering banget ada kameramen yang asal rekam aja, nggak tahu mau ngambil apa. Pastikan satu objek jadi fokusnya, biarpun cuma kucing lagi naik ke genteng juga nggap apa-apa, pokoknya fokus deh. Biasanya kalau di wedding, penyakit ini keluar kalau lagi ngambil gambar tamu salaman sama pengantin, mungkin niatnya yang penting adegan salaman kerekam, terus tanpa sebuah fokus kamera langsung diarahkan ke pelaminan, itu salah bro!

Still… Still… Still…
Asal tahu aja ya, beberapa editor nggak suka gambar yang diambil dari kamera moving (bergerak). Editor lebih suka kalau kameramen bertahan di satu objek selama 5-10 detik, lalu pindah ke objek lain, tahan lagi 5-10 detik, begitu seterusnya. Soalnya kalau kamera digerakin ke kanan-kiri-atas-bawah selama proses rekam, itu malah jadi salah satu ciri bahwa kameramen nggak fokus sama ojek, kesannya si kameramen bingung mau ngapain… dan jujur aja, stok kaya gitu malah nggak banyak kepake, kemarin aja karena mayoritas stock yang saya dapat itu moving, akhirnya pas ngedit gue sampai harus nurunin velocity per frame (maksudnya, gambar jadi slow motion biar fokus), malah kayaknya akan lebih baik kalau si gambar dibikin freeze aja. Problemnya, kalau di freeze atau slow motion, kualitas gambar kadang jadi turun!

choose_a_great_videographer_to_capture_your_wedding_day

Latihan Zoom in Zoom Out
Hukumnya sama kaya still tadi, jangan keseringan main fungsi zoom deh, itu bikin pusing. Mending kalau mau, ambil zoom out, tahan 3-5 detik lalu ambil zoom ini, tahan lagi 3-5 detik, gitu seterusnya… Tapi kalaupun kepaksa harus main zoom, coba dibuat halus dong pergerakannya, latihan dulu sebelum nge-rekam! Jangan langsung BLAKKK! Mendadak gambar membesar, atau CUUUSSS! Gambar mendadak mengecil… itu bikin pusing, kalau bisa bahkan si penonton nggak sadar kalau gambar lagi zoom, makanya latihan dulu!

Kenali Perangkat dan Setting Kamera
Siapa tahu ada kaki tripod yang harus dikasih minyak (soalnya kalau tripodnya seret, pas digerakin ada suara krrrkkkk… itu masuk ke sound lho!). Terus perhatikan exposure nya : warna gambar, night vision, black white, auto fade, fade to white, fade to black…. Halaahh.. itu sih teknis kamera, pelajari aja dari buku panduannya, jadi nggak gagap pas kerja.
Dan satu catatan penting, jangan ngerubah-rubah exposure ketika lagi ngerekam, kalau memang terpaksa, berhenti dulu ngerekam, oprek itu semua fungsi kamera, lalu mulai ngerekam lagi. Soalnya dijamin, stok yang ada perubahan exposure-nya itu nggak bakal kepake pas ngedit

Perhatikan Akad Nikah
Soalnya ini momen terpenting dalam sebuah wedding, jadi dari awal kudu ada rencana yang matang, nanti aku mau ngambil dari sini, fokusnya ke sini, kalau ada dua kamera lalu si kamera kedua mau ngambil dari mana, fokusnya apa, dan seterusnya

Berani!
Maksudnya gini, wedding adalah acara spesial, artinya kadang sebuah momen tidak akan terjadi dua kali. Untuk ngejar momentum itu, kadang si kameramen perlu melakukan hal-hal di luar skenario. Misalnya, pas lagi salaman sama tamu, mendadak si pengantin cewek kakinya kram, terus si pengantin cowok bantu ngurut telapak kakinya, itu kan momen penting, kalau untuk ngambil momen itu dengan baik ternyata si kameramen perlu menghentikan barisan tamu, ya lakukan aja. Nyari momen itu penting, soalnya kalau adegan yang terekam makan-makan sama salaman lagi, apa yang mau dieditnya coba?

Perhatikan Proses Pra-Resepsi
Pas ngedit, editor butuh klip-klip buat opening film. Biasanya sebagian besar editor sukanya sama proses pra wedding, jadi kameramen kudu usahakan ngambil itu semua. Misalnya : proses masang tenda, masang kursi, masak-masak, penganten dirias, video bagian luar gedung, lokasi persiapan akad nikah, dll…

Oke, itu aja tipsnya, semoga ada gunanya kalau kita harus jadi kameraman wedding dadakan di nikahan sodara atau temen, atau lebih jauhnya lagi kalau ktia mau buka jasa syutng nikahan, dan jangan lupa komisinya bagi-bagi buat gue… hehe

Share This:

Related posts:

School of Rock vs Garasi (Aspek-Aspek Film Beginian!)
Mungkin kata "beginian" di judul rasanya malah abstrak ya? tapi maksud saya adalah film yang, "beginian"... hehe, ummm... Duh gimana ngejelasinnya ya? Pokoknya kata "beginian&...
Superhero Indonesia Go Internasional
Sepanjang tahun 2010-2011, bioskop kita banyak diserbu sama film-film superhero!  misalnya saja Kickass (Matthew Vaughn, 2010), Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), Jonah Hex (Jimmy Hayward, 2010), The Gre...
Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi
Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gel...
Film Fantasi dan Fiksi Ilmiah Indonesia: Adakah?
Pertanyaan di atas mungkin sulit dijawab. Di Indonesia, genre film fantasi dan fiksi ilmiah kalah populer dibandingkan drama percintaan dan tema horor-mistik. Mungkin lantaran biaya produksi film fant...
Sedikit Tentang Genre Road Movie
Le Grand Voyage adalah sebuah film yang menceritakan perjalanan ayah dan anak dari Perancis menuju Arab Saudi. Singkatnya, sang ayah ingin naik haji dan minta diantar oleh putranya mengunakan mobil, m...
Mencari Hilal: Film (yang) Indonesia
Saya menonton film Mencari Hilal di Bandung, ketika itu saya dapat undangan premiere nya di XXI Empire. Dan seperti biasa, ketika akan menonton film Indonesia dimanapun juga maka saya akan mengosongka...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.