Catatan di Balik Film Jelajah KOMPENI

Sejak pertama kali gue ngeliat tulisan soal Komunitas Penjelajah Misteri (KOMPENI) di Kaskus, gue seperti ngeliat sebuah komunitas yang menarik, nggak tahu kenapa… tahu sendiri gue adalah orang yang paling males kalau sudah gabung sama banyak orang baru, mungkin karena gue ini tipikal cowok setia (ehm..ehm…), jadi untuk masuk ke sebuah komunitas atau untuk gabung di tempat baru biasanya resiko terkecil gue adalah:  meninggalkan salah satu kegiatan yang lain. Bahkan kadang pikiran gue ekstrim banget, kalau nggak ada duitnya gue males gabung… gue dicap mata duitan? It’s okay…  gue ga yakin ada orang yang bisa hidup tanpa ditunjang duit.

Tapi ternyata ini ga berlaku buat KOMPENI, sejak gue gabung sampe sekarang ternyata gue cukup enjoy sama kegiatan-kegiatannya, juga sama temen-temen baru gue di sana. Tinggal satu hal, yaitu kasih kontribusi buat tempat baru itu, dan gue bingung mesti ngapain…  haha…  masa sih gue cuma cengo aja diem-diem tanpa ngasih kontribusi, jadi anggota autis bukan hobi gue…

Nah, kebetulan KOMPENI itu punya semacam kegiatan andalan yang namanya Jelajah Misteri.  Jadi kita akan pergi ke tempat yang katanya angker, atau bersejarah. Terus nanti kita bakal nyari info ke penduduk setempat atau kuncen di sana tentang tempat itu. Yang pada akhirnya kita selalu ngejar kesimpulan logis, kenapa tempat itu dianggap angker. Mitos apa yang meliputinya, dll. Jadi kita ga nyari hantu sama sekali. (Cuma kalau ada hantu yang nyamperin ya itu namanya nasib sial aja.. hehe)

Ketika tahu ada kegiatan itu, gue berpikir untuk ngasih kontribusi di sana, tapi yah tapi dasar di otak gue cuma ada urusan novel atau film aja, makanya lagi-lagi gue berusaha memberikan ide di sekitar dua hal itu saja, haha…

Karena bikin buku tentang apa gue belum kebayang (sebenarnya ada sih, semacam buku kumpulan reportase Jelajah Misteri lengkap dengan foto-fotonya, tapi gue perlu tim jurnalistik kecil buat itu… gue belum nemu itu di dalam KOMPENI), maka gue menggerayangi… hehe… menggerayangi… kemungkinan main di dunia film. Jadilah setelah dipertimbangkan, rencananya gue mau bikin semacam web series dari jelajah misteri. Durasi nggak panjanglah 5-10 menit juga udah lumayan buat sebuah web series. Siapa tahu lama-lama acara ini bakal dibeli juga sama stasiun TV (aamiin… ayo mana amin? Ngacung!). Siapa tahu juga bisa menggantikan acara-acara misteri yang nggak-nggak, yang isinya orang kesurupan ga jelas. Sebab acara ini gue seting sesuai dengan misi KOMPENI, yaitu menguak kebenaran di balik sebuah mitos (ciaaahhh!!!), bukan mencari hantu sama sekali!

Nah singkatnya, sekarang jadi juga episode pertama jelajah misteri. Kebetulan waktu itu acara jelajahnya ke Taman Maluku. Filmnya udah gue upload ke YouTube, dan tentu saja masih amat sangat banyak banget kekurangannya, karena memang episode ini gue bikin masih dalam rangka mencari bentuk. Baik bentuk film, ataupun bentuk tim produksi. Dan inilah beberapa catatan gue tentang episode pertama itu:

Filmnya Under (cahayanya maksud gue)
Memang cahayanya under banget! Secara (halah… secara!) gue nekat syuting malam-malam di Taman Maluku yang ga ada lampu, plus pake kamera yang nggak ada night vision nya. Jadi pencahayaan terpaksa cuma pake lampu senter, dan masukan berharga datang dari salah satu anggota KOMPENI juga—nama Facebooknya: Ahan Hapidh Abib—dia ngomongin soal steady light, dan masukan dia bener juga sih… memang senternya nggak steady (tadinya gue bikin gitu supaya ada efek, tapi malah ga pantes ya, hehe… namanya juga baru percobaan *ngeles-mode-on)

Mungkin perbaikan kedepannya, ya gue berusaha minta jelajah misterinya siang-siang (tapi kalau siang ga ada serem-seremnya ya? Heu…). Atau nyari kamera yang ada night vision nya (semoga ada yang mau minjemin gratis, soalnya kalau nyewa belum ada duitnya)

 

Stok Gambar Kurang (kurang mantap, dan kurang jumlah)
Ini jelas kelihatan dari bentukan film, memang salahnya gue itu ga survey dulu ke lokasi, ini beneran pas hari jelajah gue baru dateng dan ngeliat lokasi. Jelas yang ada gue kaget dengan segala kontur di sana, gue juga bingung ngatur area mana aja yang perlu diambil. (Sebenarnya, ini juga pertama kali gue masuk ke Taman Maluku 😀 ). Apalagi ditambah masalah pencahayaan, jadi ngambil gambar juga ga leluasa. Masalah terakhir, di waktu… bukan waktunya yang terlalu sedikit, tapi waktu gue memahami area yang kurang lama. Akhirnya gue ngerasa kalau stok-stok gambar yang gue ambil itu nggak mewakili Taman Maluku secara keseluruhan, atau lebih jauh lagi… sama sekali nggak mewakili keangkeran tempat itu.

Perbaikan kedepannya? Rasanya gue beneran harus survey 1-2 hari sebelum syuting. Survey nya harus siang dan malam sekaligus biar paham lokasi. Prosedur ini memang sudah gue pahami, setiap ada kerjaan di kantor gue soal survey ini juga selalu dikasih waktu khusus, tapi nggak tahu kenapa kali ini di film pertama KOMPENI nggak gue laksanakan…

 

Bentuk Film Belum Sesuai Rencana
Soal ini  datang akibat gabungan dari beberapa masalah, tapi yang terbesar adalah masalah script-nya. Di dalam script harusnya ada dua hal: narasi dan wawancara (jadi pertanyaan yang diajukan pewawancara juga harusnya diatur dulu, nggak asal nanya pas di lokasi) . Nah, soal wawancara ini memang harusnya akan lebih mantap kalau melibatkan masyarakat sekitar dan bukan hanya anggota KOMPENI (terimakasih sekali lagi buat Ahan Hapidh Abib atas pengingatnya soal ini). Bahkan kalau mau sih itu masyarakat nggak diwawancara on the spot juga nggak apa-apa. Jadi misalnya selisih beberapa hari setelah jelajah, kita adakah wawancara khusus dirumah atau kantornya juga bisa. Malah gue pikir hasilnya akan lebih bagus

Terus soal script yang kemaren juga rasanya lompat banget ke kesimpulan, jadi hubungan sebab akibat antar paragrafnya ga ada… seolah kita bahas Sejarah Taman Maluku, lalu masuk ke acara jelajah KOMPENI, eh mendadak langsung masuk ke kesimpulan bahwa Taman Maluku itu nggak berbahaya. Kalau ada penonton yang kritis mungkin bakal nanya (dengan bawa pentungan) itu dapet kesimpulan akhir dari mana?! Kata siapa?! Kok ga jelas?! Mau di gebukin?! Atau di silet-silet-silet aja?! (Halah!)

 

Crew yang belum terbentuk
Gue kemarin terpaksa menjabat jadi sutradara, kameraman, sinematografi, dan editor sekaligus. Itu jelas nggak sehat buat gue (bikin darah tinggi dan masuk angin kedalon!), lalu kedepannya nggak akan sehat juga buat KOMPENI. Maksud gue, ini film KOMPENI dan tentu akan lebih baik kalau yang bikinnya adalah crew tetap dari KOMPENI, bukan hasil kerja individu gitu.

Maka beneran nih, gue perlu tim tetap… kalau bisa sih dari anggota juga. Beberapa posisi yang gue perlu banget (apalagi tiga posisi yang pertama itu skill nya di luar kemampuan gue) adalah: produser, manajer produksi, penata musik (dia harus bisa bikin backsound, gue ga mau pake lagu orang lain terus-terusan!), penulis script (sekaligus pewawancara), dan kameraman (yang ini wajib orang yang punya dan ngerti kamera). Sementara untuk sutradara dan editor-nya biar sama gue aja.

Apa bisa ya dapet crew tetap sebelum jelajah kedua?

Eh… oke deh langsung aja, inilah film Jelajah Misteri yang pertama, silahkan dinikmati ya, dan mohon maaf atas segala kekurangannya :-)

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=zwgoKF8UUAI]

 

 

Share This:

Related posts:

Noriko’s Dinner Table: Dianjurkan Untuk Tidak Menonton
Sudah lama banget saya mau bikin review film ini, tapi nggak tahu kenapa setiap kali dicobain males terus. Ada aja halangannya, sampai akhirnya jadi juga meski harus dipaksain. Bukan apa-apa, sebuah ...
Quarantine, Film Yang "Agak Nendang"
Awalnya saya dijebak sama temen di kantor, dia bilang punya film bagus dan habis kerja ngajak nonton, akhirnya pas kerjaan beres jam 4 sore, saya bela-belain nggak pulang, nungguin dia yang lagi ada u...
Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)
Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Vid...
Room Mate dan Budaya Kita
Setelah menonton film Room Mate karya sutradara Iran, Mehrdad Farid, saya membuka-buka internet dan menemukan beberapa tulisan yang membahas film ini juga. Tapi mungkin karena film ini tergolong baru ...
500 Hari yang Menyebalkan
Setelah nonton film 500 Days of Summer (Marc Webb, 2009) temen saya ngirim SMS begini: "Every young single girl is f*****g suck! Thanks GOD gue udah merried!"... Haha, oke saya akui SMS ...
Goodbye Dragon Inn
Bulan Desember ini saya memang sudah rencana untuk menonton film-film dengan ritme yang lambat. Tidak ada alasan khusus. Euh... ada sih... yaitu untuk lebih menghayati kesendirian, kesepian, dan kerin...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.