Hiper-realitas Layar Kaca Indonesia

Ada yang takut sama kepiting beginian?

Dua orang anak perempuan berlari dikejar kepiting raksasa. Mereka berteriak minta tolong sambil terus berlari. Ternyata dari depan muncul ibu mereka disertai orang kampung yang membawa senjata. Dengan raut wajah lega mereka menghambur ke dalam pelukan ibunya, sementara kepiting itu makin dekat. Semua orang di sana bisa melihatnya. Lalu sambil memeluk anaknya sang ibu bertanya, “Apa yang terjadi?” anak-anaknya menjawab sambil terisak-isak “Kepiting raksasa itu mengejar kami bu!”

Adegan di atas adalah cuplikan sebuah film yang tayang siang hari di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia. Bila dicermati, adegan tersebut mengandung setidaknya empat penyakit tayangan layar kaca Indonesia.

Pertama, dialog yang berhamburan. Ya, nyaris semua penulis skenario film layar kaca begitu menghamburkan dialog, memaksa setiap adegan harus diisi oleh kalimat. Akibat dari penghamburan dialog ini… munculah masalah kedua yang juga cukup akut: ketidaklogisan cerita. Coba bayangkan, bila seandainya kejadian ini terjadi di kehidupan nyata, tidak mungkin orang akan bertanya “Apa yang terjadi” pada seseorang yang jelas-jelas sedang dikejar monster. Selain itu ada juga penyakit ketiga yaitu: pengulangan informasi yang tidak perlu bagi penonton di rumah. Maksudnya begini, penonton di rumah sudah melihat apa yang terjadi, lalu untuk apa informasi yang tampil dalam bentuk gambar itu diulang lagi dalam bentuk dialog?

Lalu pada akhirnya semua masalah itu mengarah pada satu titik, yaitu ketidakmampuan penulis skenarionya—dan tentu saja sutradaranya—memahami cara bercerita. Bahkan kalau mau ditarik ke arah departemen produksi maka bentuk adegan ini hanya menambah besar budget yang seharusnya bisa dikurangi.

Maksudnya begini, kalau memang kehadiran kepiting raksasa itu akan dimasukkan dalam dialog, maka untuk apa susah-susah membuat animasinya? Cukup dengan buat adegan—misalnya—kedua anak itu menghambur masuk rumah dan mengadu pada ibunya bahwa mereka dikejar oleh kepiting raksasa. Hasilnya informasi akan tersampaikan, dan tidak ada pengulangan yang tidak penting.

Hiperrealitas Layar Kaca
Empat masalah tadi—yang ternyata sudah berulang-ulang muncul dalam nyaris semua tayangan—terjadi karena peniruan yang salah kaprah. Mereka melihat film A berbentuk begitu dan ternyata tetap bisa tayang, maka film B sampai Z pun mengikutinya.

Sebenarnya masih ada lagi sesuatu yang over dalam sinema televisi kita, yaitu soal penggunaan warna. Serial si Entong, Awas Ada Sule, dan deretan film-film Indosiar merupakan contoh terbaik untuk urusan ini. Coba perhatikan betapa tokoh-tokohnya selalu penuh warna, belum lagi latar belakang yang juga sama cerahnya, apalagi kadang ditambah bunga-bunga yang terlalu semarak.

...oke, ini Batman apa Manusia Kalong? ada yang bisa menjelaskan?!

Tapi marilah untuk urusan ini kita garisbawahi saja masalah pertama:  dialog yang berhamburan. Karena ternyata dari satu hal ini saja kita bisa mengembangkannya menjadi banyak hal. Seperti yang kita tahu bahwa film harus selalu dominan terbangun lewat gambar. Maka pertimbangan pertama bagi seorang pembuat film adalah “Gambar apa yang muncul di layar hingga pesan saya tersampaikan?” setelah gambar itu dipasang dan ternyata kurang menjelaskan pesan, barulah pikiran berikutnya boleh muncul “Suara apa yang harus saya sertakan untuk lebih memperjelas gambar tadi?”

Penempatan dialog yang tidak tepat—meski terkesan sederhana—akan memicu runtuhnya realitas cerita. Karena sebenarnya film cerita hanya menjualsebuah akting. Tapi bagaimana supaya akting itu tidak terlihat oleh penonton adalah tugas utama seorang pembuat film, sekali saja penonton ditarik dan sadar bahwa film itu hanya berisi akting, maka hancurlah film tadi. Masalahnya, satu-satunya cara untuk menghipnotis penonton adalah dengan menyajikan realita kehidupan, ketika penonton merasa bahwa cerita yang dia lihat adalah kehidupannya, kehidupan teman dekatnya, atau kehidupan di sekitarnya, maka mereka akan terus terbawa emosi dan menikmati cerita sampai selesai. Hal ini terbangun tidak hanya lewat gambar, tapi melalui kombinasi yang tepat antara gambar dan dialog.

Tapi masihkah pembuat film televisi peduli pada hal ini? Harusnya kita khawatir ketika melihat serial televisi macam Tendangan si Madun, si Entong, atau Si Alif. Tokoh-tokohnya tidak bicara atau melakukan sesuatu seperti orang-orang yang kita temui sehari-hari, di banyak sekali bagian cerita banyak penempatan dialog yang berlebihan, tidak realistis, dan kesannya bodoh. Tapi serial seperti ini terus dibuat, tentu ada yang melandasinya. Selain karena faktor rating, juga faktor ketidakpahaman. Para pembuat serial seperti ini merasa cerita mereka mewakili realitas, padahal mereka melakukan seperti apa yang dikatakan sosiolog Prancis, Jean Baudrillard sebagai hiperrealitas.

Dalam buku In the Shadow of the Silent Majorities, beliau bahkan mengatakan bahwa media telah menciptakan satu kondisi di mana penonton tak lagi dapat membedakan kebenaran dan gosip, antara kenyataan dan rekayasa, antara makanan dan sampah.

Layar Kaca Perlu Penonton Aktif
Pierre Macherey dalam A Theory of Literary Production menyebutkan bahwa selalu ada kesenjangan antara apa yang ingin disampaikan sebuah karya dengan apa yang benar-benar dikatakannya. Menurutnya, pesan sebuah karya tersembunyi pada: apa yang dipaksa dikatakan agar mengatakan apa yang dikatakan.

Artinya, dari dialog yang tidak rapi, cerita yang asal-asalan, dan akting yang seadanya, apa pesan tersembunyi yang bisa ditarik dari film-film itu? Tidak lain adalah: secara umum selera penonton kita masih rendah. Mungkin ini terkait dengan strata pendidikan, mungkin juga karena tidak adanya pilihan acara yang bagus.

Tapi bukankah sebenarnya penonton masa kini sudah cerdas? Betul, bila pernyataan itu dialamatkan pada penonton layar lebar. Terlebih lagi karena produksi film layar lebar Indonesia ada harapan untuk terus membaik, apalagi kritik-kritik membangun terus bermunculan dari berbagai kalangan—dan lewat berbagai media—setiap kali sebuah film Indonesia tampil di bioskop.

Tapi secara statistik jumlah penonton televisi di rumah masih berkali-kali lipat lebih banyak daripada mereka yang datang ke bioskop. Artinya, di tengah iklim produksi film kita yang selalu mementingkan selera pasar daripada idealisme, tentu apa yang tampil di layar kaca merupakan cermin selera mayoritas masyarakat Indonesia. Lagipula berapa banyak orang yang meluangkan waktunya untuk mengkritik film televisi? Rasanya tetap saja lebih banyak kritikus—baik profesional dan amatir—yang lebih suka membahas film layar lebar.

Maka jelas film layar kaca memerlukan penonton yang mau menanggapi hiperrealitas yang terjadi, bukan cuma penikmat-penikmat pasif. Sebab sebenarnya penonton memiliki kekuatan untuk menolak isi media. Masalahnya, masih sedikit penonton yang menyadari ini. Karena masyarakat kita—yang sebagian besar belum memiliki tradisi membaca—menjadikan media televisi sebagai rekan pengisi waktu luang. Masyarakat cenderung menganggap televisi mampu memenuhi semua kebutuhan media, termasuk memperoleh informasi, bahkan menginterpretasi realitas.

Karena itu, perlu upaya dari berbagai pihak untuk memberikan keterampilan “melek media”. Dalam tataran yang sederhana, melek media merupakan kemampuan untuk mencerna dan mengkritisi isi media. Hingga pada akhirnya penonton memiliki ruang negosiasi. Ruang tersebut digunakan untuk beropini bahkan menolak isi tayangan. Konsumsi dan negosiasi yang dilakukan penonton dipengaruhi oleh latar belakang sosial dan budaya yang dimiliki.

Hal ini penting, sebab menurut Stuart Hall dalam Culture, Media, Language, dalam setiap tayangan televisi—termasuk juga iklan—telah terstruktur pesan yang diciptakan untuk ditembakkan kepada pemirsa. Namun bila seandainya sudah tercipta masyarakat yang melek media, maka tidak serta merta menjamin diterimanya pesan tadi oleh pemirsa. Pesan yang diinginkan sampai oleh produsen akan selalu mengalami resistensi dan artikulasi baru sesuai pemahaman penonton.

Jadi, sesungguhnya, secanggih apa pun, pesan dari setiap tayangan di televisi, semuanya adalah bahan mentah yang dimatangkan dalam proses pembacaan dan tawar-menawar kode budaya si penonton. Tak ada pemirsa yang sepenuhnya pasif bila semua melek media.

Lalu akhirnya, segala hiperrealitas yang jelas-jelas sangat mentah itu tidak akan mendapat ruang lagi, secara naluri mereka akan menolak tanyangan tersebut, dan setelah itu terjadi diharapkan efeknya akan sampai pada rating, dan mengubah keseriusan statisun TV dalam menayangkan acara-acaranya. Sekali lagi, semua kembali pada penonton yang melek media. Itulah yang kita perlukan sekarang.

 

 

Bandung, Agustus 2012

dimuat di HU Pikiran Rakyat, Senin 27 Agustus 2012

Share This:

Related posts:

Noriko’s Dinner Table: Dianjurkan Untuk Tidak Menonton
Sudah lama banget saya mau bikin review film ini, tapi nggak tahu kenapa setiap kali dicobain males terus. Ada aja halangannya, sampai akhirnya jadi juga meski harus dipaksain. Bukan apa-apa, sebuah ...
School of Rock vs Garasi (Aspek-Aspek Film Beginian!)
Mungkin kata "beginian" di judul rasanya malah abstrak ya? tapi maksud saya adalah film yang, "beginian"... hehe, ummm... Duh gimana ngejelasinnya ya? Pokoknya kata "beginian&...
Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor
Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, ...
Death Bell: Ini Film Slasher Pendidikan?
Film Death Bell dari Korea ini adalah karya Kim Sang Man (ditulis di kotak DVD) atau Yoon Hong-seung (ditulis di situs resminya) yang rilis tahun 2008. Film ini sebenarnya termasuk ke genre slasher. S...
Room Mate dan Budaya Kita
Setelah menonton film Room Mate karya sutradara Iran, Mehrdad Farid, saya membuka-buka internet dan menemukan beberapa tulisan yang membahas film ini juga. Tapi mungkin karena film ini tergolong baru ...
Starship Troopers dan Kisah Film Pertama
Beberapa malam yang lalu, seperti biasa dengan jadwal tidur yang aneh... (merem jam 19.00 dan bangun jam 23.00, lalu tidur-tidur lagi jam jam 19.00 besok ... kalong juga nggak gini-gini amat sih!) say...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

4 thoughts on “Hiper-realitas Layar Kaca Indonesia

  • 06/09/2012 at 18:59
    Permalink

    wahaha, emang ngkak gan klo liat industri perfilman indonesia, apalagi stasiun tv berlomba lomba membuat film striping sinetron dsb yang acaranya hampir tiap hari, yang sebenerya budget dai film tu sndiri bisa buat bikin film gede, trus film2 sinetron kyk gitu menurut ane gk komunikatif, perlu diperhatiin hal2 yang bisa membuat film tersebut jadi riskan serta unsur intrinsik dan ekstrinsik ny, hidup perfilman INDONESIA!

  • 10/09/2012 at 08:51
    Permalink

    iya iya setuju, dukung terus perfilman Indonesia, sambil perbaiki pelan-pelan sama kita-kita 😀 hidup perfilman INDONESIA!

  • 26/09/2012 at 04:30
    Permalink

    ada kang, menggelikan ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.