2012: Indonesia Perlu New Wave Lagi

capanvSebenarnya, new wave adalah sebuah istilah ciptaan media sebagai sebutan pada sebuah kegiatan pembaharuan dunia perfilman di suatu negara.

Ciri-cirinya sama yaitu pertama, selama beberapa tahun perfilman negara itu sedang lesu dan film yang ada tidak memberi pilihan tema pada penonton. Kedua, selalu ada sekelompok anak muda yang bersatu mengadakan perubahan dengan memperkenalkan film dengan gaya yang berbeda. Ketiga, film yang mereka perkenalkan itu membuat sebuah perubahan besar pada pergerakan sinema di negara tersebut. Keempat, selalu ada satu film yang disebut sebagai tonggak new wave. Lalu kelima, perubahan di dunia perfilman seringkali juga mengubah peta literasi atau dunia perbukuan di negara tersebut.

Beberapa contoh negara yang mengalami era new wave antara lain Iran yang  dimulai sejak Darius Mehruji membuat film The Cow, lalu di Rumania yang ditandai dengan keluarnya sebuah film pendek berjudul Trafic di tahun 2004. Tapi New Wave yang sering dijadikan contoh adalah di Inggris, Perancis, dan Cekoslovakia.

Berawal dari Jurnal, Berakhir Pada Film
Kejenuhan penonton selalu mengawali era new wave, penyebabnya bisa macam-macam. Untuk Inggris dan Perancis, titik jenuhnya muncul sekitar tahun 1940-an, ketika anak-anak muda di kedua negara itu mulai gerah dengan gaya film-film yang seperti ingin meninabobokan penonton melalui penuturan yang linear nan lamban dan tema cerita yang biasa ditemukan dalam sastra klasik. Tambahan untuk Inggris, mayoritas film di sana hanya mewakili kelas menengah yang berlokasi di sekitar ibukota saja. Kelas sosial lainnya, terutama kelas pekerja, dianggap sebagai orang asing hingga penggambaran kelas pekerja di tiap film selalu sama: orang bodoh yang gampang dipecundangi, atau adalah penjahat yang harus dihindari.

Akhirnya muncul gerakan lewat sebuah jurnal film yang konsisten mengkritik perfilman lokal. Di Perancis ada nama-nama seperti Francois Truffaut, Jean-Luc Godard, Eric Rohmer, Claude Chabrol, dan Jacques Rivette. Sejak tahun 1951 sampai 1960 mereka bergabung dalam Cahiers du Cinema, sebuah jurnal film pimpinan Andre Bazin. Sementara di Inggris, sekitar tahun 1947 Lindsay Anderson, Gavin Lambert, dan Karel Reisz mendirikan jurnal film yang diberi nama Sequence.

Nama-nama di atas tidak hanya bergerak dalam jurnal saja tapi juga menyuarakan kritiknya dengan membuat film. Contohnya di Inggris, pada tahun 1956 dua pendiri Sequence—Lindsay Anderson dan Karel Reisz—bersama dua sutradara muda Inggris, Tony Richardson dan Lorenza Mazzetti membuat program pemutaran film yang diberi nama Free Cinema. Di luar dugaan program ini menggugah perhatian masyarakat hingga menjadi program rutin hingga pertengahan 1960. Dari program ini muncul film-film yang masih banyak diperbincangkan seperti: Every Day Except Christmas (Lindsay Anderson, 1957) atau We Are the Lambeth Boys (Karel Reisz, 1959). Program ini secara tidak langsung mengubah peta perfilman Inggris hingga sekarang.

Sementara pelaku new wave di Cekoslovakia lebih sederhana, mereka langsung menyodorkan film tanpa lewat keaktifan di jurnal-jurnal terlebih dahulu. Tujuan mereka adalah memerangi kejenuhan yang timbul sekitar tahun 1938 pasca perang dunia kedua. Ketika itu film-film yang diproduksi di sana hanya didominasi oleh drama romantis dan komedi, lalu berlanjut pada bentuk realisme sosialis dan propaganda politik karena pemerintahnya mendapat tekanan dari Jerman.

Beberapa film yang mereka sodorkan antara lain Three Wishes (Elmar Klos, 1958), lalu Romeo, Juliet, and the Darkness (Jirí Weiss, 1960) dan The Sun in a Net (Štefan Uher, 1962). Ketiganya berakhir sama: karena isinya mengkritik pemerintah maka dikenai pelarangan.

Salah Satu New Wave Indonesia
Kejenuhan yang dialami Indonesia tercatat pada pertengahan 1980 sampai awal 1990 dimana muncul aturan kebijakan impor film. Dari tiga film luar yang diimpor, harus diproduksi tiga film nasional. 32-Kuldesak_poster_1998Terjadilah tuntutan memenuhi aturan yang berujung pada overproduksi, akibatnya muncul banyak sekali film bertema seks dengan penggarapan yang buruk. Tidak ada pilihan bagi masyarakat yang datang ke bioskop kecuali memilih yang buruk diantara yang terburuk.

Akhirnya, sama seperti di Cekoslovakia, tanpa banyak basa basi empat orang anak muda yaitu Riri Riza, Nan Achnas, Mira Lesmana, dan Rizal Mantovani menyodorkan film Kuldesak (1998). Film ini juga menandai debut mereka sebagai sutradara film layar lebar. Sempat diikutkan di International Film Festival Rotterdam tahun 1999, juga mendapatkan nominasi untuk Silver Screen Award – Best Asian Feature Film dalam Singapore International Film Festival tahun 1999.

Film ini bisa juga dikategorikan sebagai tonggak awal new wave di Indonesia, lalu disusul dengan Petualangan Sherina (Riri Riza, 1998), yang mampu menyadarkan publik bahwa film dan penonton Indonesia ternyata masih ada. Anak-anak dan orangtuanya kembali datang ke bioskop untuk menonton film lokal.

Perfilman Indonesia menggeliat lagi, kesadaran para filmmaker muda untuk mengeksplorasi cerita bermunculan kembali, hingga pengaruh paling signifikan yakni: terancangnya sebuah skema produksi film yang sesuai standar. Kondisi ini terus menanjak hingga muncul Jelangkung (Rizal Mantovani, 2001) yang disebut-sebut sebagai warna baru film horror Indonesia setelah era Suzanna.

Namun New Wave belum sempurna ketika syarat kelima belum dipenuhi yaitu perubahan peta literasi atau dunia perbukuan. Sampai akhirnya film AADC (Rudi Soedjarwo, 2002) menjawab tantangan ini. Ketika itu terjadi gelombang kepenasaran di anak-anak SMA akan buku AKU karya Sjumandjaya—yang dibaca oleh Rangga dan Cinta—sampai akhirnya secara umum di kalangan SMA terjadi peningkatan minat baca pada jenis buku-buku sastra.

Indonesia Perlu New Wave Lagi!
Di era 2000-an, warna film Indonesia kembali beragam. Di bioskop hadir tema-tema cinta, horor, dan petualangan. Tapi setelah tahun kelima pasar kembali mengalami kejenuhan, karena pada titik tertentu mayoritas filmmaker tidak tahu lagi harus bagaimana, seolah semua tema cerita sudah pernah disampaikan. Akhirnya yang terjadi adalah film-film yang mengulang pola-pola lama.

Misalnya, pola kisah cinta di film AADC terulang lewat judul-judul seperti Inikah Rasanya Cinta (Ai Manaf, 2005), Apa Artinya Cinta (Sunil Soraya, 2006), atau Merah Itu Cinta (Rako Prijanto, 2007). Lalu pola horror yang melibatkan anak muda seperti film Jelangkung muncul di film-film seperti 12:00 AM (Koya Pagayo, 2005), Rumah Pondok Indah (Irwan Siregar, 2006), Suster Ngesot (Arie Aziz, 2007) dan puluhan judul film hantu yang kita tahu sangat membanjir sampai sekarang.

Kini setelah kejenuhan mencapai titik tertinggi, maka logis rasanya bila kita berharap muncul new wave kesekian. Sebab ternyata gebrakan Ayat-Ayat Cinta (Hanung Bramantyo, 2007) atau Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008) belum mampu menghentikan produksi masal film berpola lama. Apa ciri gebrakan itu gagal? Tidak lain karena setelah film tadi muncul, ternyata bioskop masih saja dipenuhi oleh film cinta dan horor dengan kualitas yang sama.

Ditambah lagi dengan sejarah yang terulang, sama seperti kebijakan pemerintah di periode 70-an, kini UU Perfilman tahun 2009 mengatur kuota 60% untuk pemutaran film Indonesia di bioskop. Sebuah peraturan yang tampaknya makin memaksa filmmaker Indonesia mementingkan kuantitas daripada kualitas. Penetapan kuota ini pun pada akhirnya menyebabkan film diproduksi dengan asal-asalan. Cerita dan skenario pun dibikin tanpa memperlihatkan kehidupan masyarakat dan problematika khas Indonesia. Karakter para tokoh dibikin dan ditampilkan secara stereotipikal. Bukankah kondisi ini mirip dengan era 90-an?

Imbasnya kembali pada penonton, data terakhir menunjukkan bahwa penonton film Indonesia tahun 2011 hanya 14 juta orang. Jumlah ini menurun dari tahun 2010 yang mampu meraih 16 juta orang. Ini juga jauh menurun kalau dibandingkan dengan tahun 2009 yang bisa mencapai 30 juta orang. Artinya rata-rata setiap film di tahun 2011 ditonton oleh 176 ribu orang, bandingkan dengan rata-rata tahun 2010 yang mencapai 195 ribu. Sebuah perbedaan yang kecil bila dilihat jangka pendek, tapi berdampak besar bila kita menghitung secara jangka panjang.

Begitulah, fakta-fakta di atas menunjukkan kalau Indonesia membutuhkan anak-anak muda yang sanggup memulai New Wave lagi. Bersyukurlah Indonesia masih punya orang-orang seperti Edwin (Babi Buta yang Ingin Terbang, 2009), Ifa Isfansyah (Sang Penari, 2011), atau senior-senior seperti Joko Anwar dan Garin Nugroho yang tetap tidak terbawa oleh tuntutan pasar dan tetap mengeluarkan film sesuai imajinya. Lewat mereka harapan akan sirnanya kejenuhan ini tetap bisa kita jaga. Entah kapan, tapi kita harus percaya situasi tidak selamanya akan terus buruk.

 

Bandung, Agustus 2012

dimuat di HU Pikiran Rakyat, Minggu 6 Agustus 2012

Share This:

Related posts:

Meneliti Industri Film Porno (Amerika)
Tidak bisa dipungkiri bahwa film porno itu ada, film ini merupakan varian dari romantic films (yang di dalamnya juga ada kategori semi-porno, sexual films, dan erotic films), dan termasuk ke sebuah ge...
500 Hari yang Menyebalkan
Setelah nonton film 500 Days of Summer (Marc Webb, 2009) temen saya ngirim SMS begini: "Every young single girl is f*****g suck! Thanks GOD gue udah merried!"... Haha, oke saya akui SMS ...
Rumah Putih #5: Ketika Peranan Menjadi Diri
Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? “Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku pera...
Charlene Choi, Kamu Cocok Buat...
Setelah nyaris sebulan blog saya vakum—meski sebenarnya banyak bahan yang bisa ditulis—karena saya kebingungan: mana duluan yang harus ditulis. Tapi ternyata semuanya berubah karena seorang cewek, leb...
Montir Baru: Keiko Kitagawa
Jadi kemarin siang sambil istirahat, saya nonton film Hollywood ringan. Selalu gitu kok polanya, kalau lagi pengen istirahat dari kerjaan dan ngisi waktu dengan nonton maka saya milih film-film hibura...
Sahabat Museum, Menghangatkan Museum
Bila kita mendengar kata “museum”, biasanya pikiran kita langsung terasosiasi pada sebuah bangunan besar, luas, bernuansa temaram, dingin, dan sepi. Gambaran ini tidak terlalu mengherankan karena pada...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.