Gue pengen S.U.W.U.N.G difilmkan…

Akhirnya novel gue terbit juga… thanks GOD! perjuangan yang panjang, enam tahun gue nulis beginian… dan nggak perlu ada yang bilang WOW karena ini sama sekali nggak spektakuler. Kebanyakan males dan revisinya daripada nyusun cerita, hehe… tapi lumayan lah karena selama penyusunan novel ini setidaknya gue mesti menggerayangi beberapa kota, antaralain Jakarta dan Yogyakarta. Itu tuh buat ketemu senior dan minta masukan dari mereka.

Nah, tapi gue tetep merasa kurang, gue pikir wajar kalau selama pembuatan novel gue cuma berkutat di tiga kota: Jakarta-Bandung-Yogyakarta… lah ya kalau sudah terbit sih masa gue nggak bisa menjajah lebih banyak kota? Sekarang aja Cianjur dan Cirebon sudah mesen jadwal buat beda buku (alhamdulillah…), apa lagi? gue pengen ke luar negeri… gue belum pernah ke luar negeri, Singapura atau Australia aja nggak kepikiran mau ngapain di sana… nggak lucu kalau sampai di negara orang terus malah bengong nggak jelas mau ngapain. Semoga saja Jepang bisa gue jajah juga 😀 sudah lama gue pengen ke Jepang, pengen ngeliat cewek Jepang langsung! apa beneran sama kaya Maria Ozawa, Ameri Ichinose, Sora Aoi yang sering gue lihat di foto?

Tapi yang terpenting, gue pengen benda ini dijadikan film… pertanyaannya: apa ada kesempatan ke arah sana? gue mikir jaman sekarang ini sebuah novel sulit buat mencuat ke luar kalau nggak dijadikan film, atau memang novel itu bagus banget temanya.

Oh iya, apa dengan bermimpi begini berarti gue menambah penyakit film adaptasi di Indonesia? karena terus terang saja tidak banyak film adaptasi novel yang berhasil.Gue pernah baca sebuah artikel yang membahas film adaptasi dan salah satu isinya begini:

ENTAH bersumber dari keringnya ide para sineas atau lebih bisa menarik penonton, film adaptasi kian sering muncul di layar bioskop. Padahal, film adaptasi sering menuai banyak kritik dan protes dari penggemar novelnya. Misalnya, ada bagian cerita yang dihilangkan. Sebab, tidak mudah menuangkan cerita beratus-ratus halaman hanya menjadi beberapa jam dalam film. Selanjutnya, bagian-bagian cerita yang tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi penonton. Namun, protes tersebut tidak menyurutkan para sutradara untuk mengadaptasi novel.

Tantangan terbesar film adaptasi adalah memvisualkan tokoh dan setting yang hanya berupa deretan huruf, ga gue setuju kalau film adaptasi yang bagus harusnya digarap sama orang yang ngerti sama novelnya, nggak cuma baca doang. Lebih bagus lagi kalau dia memang suka sama tema ceritanya.

Ini jadi PR buat gue… beneran, kalau gue memang serius mau bikin novel ini jadi film rasanya gue juga harus terlibat di setiap proses: pra-produksi, produksi, bahkan sampai pasca-produksi.

Doain aja… 😀

 

Share This:

Related posts:

Beruntunglah, Manusia Terbuat dari Tanah
Di ruang kerja saya sekarang, sebenarnya nggak ada satupun orang yang bisa ngedit film siang-siang! Kenapa? apa ada pocong? Lho kok ada pocong siang-siang? Bisa saja lah, kalau pocongnya salah pergaul...
Bekerja Untuk Saxophone
Beberapa orang mengenal saya sebagai novelis, beberapa mengenal saya sebagai editor film, kadang sering disebut juga sutradara film, dan beberapa orang yang lain mengenal saya sebagai peniup harmonika...
Mudiko Ergo Sum
Sebenarnya, apakah "m u d i k" itu? Apa? Mudiko ergo sum, "saya mudik maka saya ada", begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, ya...
Ikigai: Apa Tujuan Kita Diciptakan?
Beberapa hari ini saya agak serius mengkaji soal IKIGAI, terutama soal yang berkaitan dengan diri sendiri. Mungkin ada yang sudah pernah denger soal ini, tapi mungkin juga belum… Kata “Ikigai” sebenar...
Apakah GNB Masih Diperlukan?
Gerakan Non Blok (GNB) atau yang dalam bahasa politik internasional disebut sebagai NAM (The Non-Aligned Movement) adalah sebuah gerakan yang tidak menganggap dirinya beraliansi dengan atau terhadap b...
Modal Penting Mencari Kerja
Pada suatu hari di grup alumni STM, ada satu orang teman yang mempost seperti ini: Temans… barangkali punya info lowker di bdg atau lg membutuhkan tenaga kerja di bdg lulusan SMA, pria, jujur, ulet…  ...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.