Rumah Putih #4: Ketika Rok Prisia Tersingkap

13453823077621230475780x390

Dapatkah seorang aktris menafikan kehadiran orang lain ketika dia dituntut untuk merasa sendiri? Prisia Nasution akan menjawab, “Tidak.” Bermain dalam Gala Sinema SCTV “Cinta tak Pernah Salah”, Prisia tak pernah mampu merasa sendiri.

Sehabis menyaksikan kekasihnya bermesraan dengan Mala, dan diamuk cemburu, dia bergegas pulang. Dengan wajah menahan tangis, dia empaskan jenjang tubuhnya ke kasur. Empasan yang membuat roknya tersingkap, menampakkan gading pahanya. Tapi, dengan cepat gulungan rok itu dia turunkan, sekaligus merapikan kaos ketat yang sempat memamerkan tipis perutnya.Di kamar itu tak ada sesiapa. Selebar apa pun singkapan rok, dan seterpampang apa pun paha, tak akan ada mata yang melahapnya. Tapi, Prisia menyadari, dia sepenuhnya tak sendiri. Ada sutradara dan beberapa kru hadir di sana, juga penonton yang, kelak, suatu yang wajar dan bukan “kesalahan”. Kesadaran akan ruang, juga kehadiran orang lain, menunjukkan betapa lemahnya penghayatan atas peranan. Dan yang dialami Prisia, sebentuk ingatan yang datang dari peran yang gagal merasuk. Dalam akting tadi, dia tak berhasil “mengambil” kamar itu sebagai ruang pribadi… ketika ketersingkapan rok, bahkan ketelanjangan pun, adalah sedapat melihatnya melalui kamera. Dia pun terambing antara dua dunia, peranan dan kenyataan. Prisia, sesaat, memilih kembali ke kenyataan.

“Kesadaran akan ruang”. Itulahdi Indonesia, kesadaran akan ruang ini sudah menjadi penyakit yang luar biasa.

aaa

Mekanisme Senyap
Bunga Zainal dalam sinetron Suci juga acap menyadari “ruang” yang tidak steril itu. Dalam adegan pingsan –dan ini tipikalitas yang juga dilakukan semua aktris–dia digendong Denis. Namun, kepingsanan itu tak membuat tangannya abai untuk membenahi roknya yang menjuntai. Lucu.

Adegan bangun tidur apalagi. Nyaris semua aktris akan merapikan rok atau piyamanya di bawah selimut, sebelum keluar dari pembaringan. Adegan mandi pun, atau jatuh bergulingan, menjadi demikian “sopan” di sinetron Indonesia. Setiap aktris telah selalu mempersiapkan celana pendek ketat di balik roknya. Pemain selalu menyadari banyak mata yang dapat melihat tubuh mereka, bahkan ketika adegan itu “berkata” tak ada siapa-siapa.

Akting adalah melepaskan dunia nyata, dan masuk ke dalam dunia bentukan. Kemerasukan itu menuntut pengalpaan pada identitas diri, pada sekitar. Billy Chapel dalam film For Love of the Game menyebutnya sebagai “mekanisme senyap”, ketika realitas dan diri asali tak hanya menciut, tapi juga lenyap. Yang hidup adalah diri dalam peranan, dalam dunia bentukan.

Surya-Saputra-as-Nino_055136Karena itu, teriakan “action!” dari sutradara bukan saja tanda dimulainya sebuah adegan, tapi juga perintah bagi setiap aktris untuk menutup kenyataan dan diri asali, masuk ke gerbang peranan. Dan di Indonesia, tak banyak aktris yang bisa demikian. Maruli Ara hanya menyebut satu nama, Surya Saputra. “Begitu ‘Action!’ diteriakkan, dia akan segera menjadi orang lain, masuk ke perannya. Cepat sekali, seperti otomatis,” puji sutradara sinetron Dunia Tanpa Koma itu. Dan harus diakui, akting Surya sebagai Jendra Aditya di sinetron itu memang memukau.

Akting adalah kemerasukan. Teriakan “Cut!” adalah mantra untuk meluruhkan kerasukan tersebut. Meski kadang, sebengis apa pun teriakan itu, acap gagal untuk “mengembalikan” pemain yang larut ke dunia asalinya. Uli Edel, sutradara film Body of Evidence, harus meneriakkan “Cut” lebih dari tujuh kali, sebelum Madonna menyadari kalau pengadeganan sudah selesai. Madonna terseret pada perannya, masuk pada karakternya, dan susah disadarkan, demikian juga lawan mainnya. Sayangnya, untuk kasus Madonna, kemerasukan itu lebih khusus pada adegan bercinta.

Robert De Niro mengakui “Cut” memang menghentikan pengadeganan, tapi tidak “diri” yang dia perankan. “Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku perani. Kadang aku takut diriku tak pernah seutuhnya bisa kembali.” Bagi De Niro, memerankan adalah mengizinkan dirinya “dibawa” watak lain, tanpa ada kepastian bisa kembali. Christine Hakim butuh waktu tiga bulan untuk benar-benar bisa bebas dari infiltrasi peran yang dia mainkan dalam sebuah film. Pengorbanan yang besar untuk akting yang memang selalu bersinar.

Dengan demikian, akting bukanlah perkara main-main, dan aktris tidak profesi gampangan. Ada pertaruhan di setiap peranan, kebersediaan untuk “melepaskan diri”. Juga sebuah kesadaran, ketika “action!” diucapkan, realitas harus punah. Ruang yang baru pun hadir, dan dihidupi dalam “kesadaran” peranan.

Bagi Prisia, “Cut” mungkin adalah tanda lepasnya beban, usainya kerja, dan datangnya uang. Atau, beban baru, karena adegan yang sama, harus diulang. Bisa juga, “Cut” adalah jeda, untuk dapat berpindah ke adegan lain, di sinetron lain, di lokasi yang lain. Dengan demikian, aktris pun dimaknai sebagai profesi yang paling gampang untuk mengejar setoran. Uang. Dalam kesadaran semacam itulah, Prisia tak bisa masuk ke dalam suasana peranan. Ia pun selalu memerhatikan posisi duduk dan sibakan roknya, bahkan ketika dia tengah berada di kamar tidurnya. Prisia takut, di kamarnya, ada penonton yang dapat mengintip tubuhnya.

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 20 Juli 2008]

===============================

Tulisan ini terdiri dari beberapa nomor. Saya posting (dengan editing seperlunya) untuk mengenang sebuah blog bermutu yang sudah hilang. Jadi maaf kalau saya nggak bisa kasih link tulisan, memang barangnya sudah nggak ada, padahal saya suka banget blogwalking ke sana. Namanya rumahputih.org, yang punya blog juga saya lupa siapa. Tapi untung dulu sempat copy beberapa artikelnya… dan tentunya saya tetap menunggu blog itu hidup lagi…

aaa

aaa

 

Share This:

Related posts:

Meneliti Industri Film Porno (Asia & Indonesia)
Tanpa bermaksud mengesampingkan negara lain, bila bicara film porno Asia maka negara Jepang lah yang perlu dikedepankan. Ternyata era industri film porno Jepang (biasa disebut JAV atau Japan Adult Vid...
Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay
Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalny...
Buried, Film Panjang dengan Satu Aktor!
Wew, satu kata buat film ini: Briliant! Serius, tadinya saya merasa agak pesimis ketika ada teman yang menyarankan  nonton. Itu karena saya berpikir: apa mungkin ada film yang enak ditonton 90 menit, ...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian,...
Montir Baru: Keiko Kitagawa
Jadi kemarin siang sambil istirahat, saya nonton film Hollywood ringan. Selalu gitu kok polanya, kalau lagi pengen istirahat dari kerjaan dan ngisi waktu dengan nonton maka saya milih film-film hibura...
Chef: Hidup Kita di Tangan Kita
Saya baru selesai nonton film Chef (Jon Favreau, 2014), inti ceritanya soal seorang juru masak profesional di sebuah restoran ternama yang mengalami konflik hebat dengan seorang kritikus makanan—dan t...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.