[Rumah Putih #1] Berharap Pada yang Bangkit dari Kubur

vlcsnap-2011-10-27-21h25m31s238

Cerita tentang mayit yang bangkit dari kubur, yang kini mendominasi sinetron “religius”, pernah juga merajai tema film Indonesia tahun 1980-an. Namun, bangkitnya mayit itu ternyata membawa “pesan” yang sangat berbeda. Di tengah hujan doa pengusiran, Anita (Suzanna) masih sempat mengucapkan ancaman. “Dengar pesanku ini! Barangsiapa yang merampok, memperkosa, dan melanggar hukum, ingat, aku pasti akan datang untuk mencabut nyawanya…” Anita lalu memandang suaminya, Sandy (George Rudy), menitipkan pesan untuk anak-anaknya, lalu pergi, kembali ke alam-Nya.

Itu adalah petikan adegan akhir dari film Telaga Angker, yang entah telah berapa kali tayang ulang di teve. Penayangan itu tampaknya ingin mengiringi kemarakan sinetron “religius” yang berceritakan tentang kebangkitan mayit. Dan, menonton film-film produksi tahun 1980-an ini, nyaris seperti melihat tayangan sinetron yang saban malam “berkejaran” di tiap stasiun. Ya, secara teknik visual… tampak memang tak ada kontras jelas penggambaran mayit yang bangkit di film tahun 1980-an, dengan sinetron tahun 2005-an. Padahal, secara teknologi jelas telah terjadi lompatan besar, yang tampaknya memang tidak diimbangi dengan kemajuan kreativitas pencipta sinetron. Dan itu jugalah yang membuat cerita dan pengadeganan nyaris sama. Mayit yang bangkit dengan kostum dan make-up yang sama, kiai yang selain jago berdoa juga ahli silat, sampai ending yang sebangun. Kalau pun ada beda, cuma pada sosok kiai dan motif “pembangkitan” mayit.

aaa

Aparatus Kubur
Dalam film-film Suzanna, sosok kiai selalu mampu berdoa lantang dan berlafal benar. Di sinetron sekarang, kiai-kiai hanya berkemak-kemik, dan jika pun ada pelafalan, terdengar seperti orang yang baru melek membaca al-Quran. Barangkali karena sinetron kejar tayang, pemeran sosok kiai pun mungkin diambil sembarangan, cukup dengan modal selempangan sorban. Namun, beda paling “serius” tampak dari motif bangkitnya para mayit. Seperti petikan pesan di atas, yang selalu ada nyaris dalam tiap film Suzanna, kebangkitan mayit selalu untuk membalaskan dendam.

Mayit bangkit untuk mengejar para pembunuh, perampok, dan yang utama, pemerkosa. Si mayit biasanya dapat berubah bentuk seperti manusia normal, dan menggoda-jebak korbannya. Dan sebelum “penghakiman”, sosok si mayit kembali ke bentuk yang menyeramkan, dengan lengking dan kekehan yang khas Suzanna. Proses penghukuman itu biasanya selalu diselingi ucapan, “Inilah hukuman untuk pemerkosa…” atau, “Rasakan balasanku hai perampok…” dan meninggalkan pesan kepada para saksi dengan ucapan semacam, “Ini agar menjadi peringatan bagi para pengganggu rumah tangga orang, pejabat yang koruptor, pemerkosa….”

Dari film-film misteri tahun 1980-an itu dapat dilihat bahwa motif bangkitnya mayat adalah untuk menghukum orang-orang yang masih hidup, musuh yang membuat kematian atau kesengsaraan keluarga si mayit. Bangkitnya mayit itu seakan menjadi “aparatus” kubur, utusan Tuhan, untuk membalas dendam dan menegakkan hukum. Dengan pesan-pesan yang dibawa si mayit, aparatus kubur ini justru mempropagandakan kebaikan. Mayit hanya tampak menyeramkan bagi si terdakwa, dan bagi yang lain, hadir dalam proses menggelikan, hanya menggoda.

Sementara dalam sinetron masa kini, bangkitnya mayit justru berkait dengan siksa kubur. Si mayit bangkit atau “dibangkitkan” secara visual –ditunjukkan siksa di dalam kubur– sebagai penunjukan atas hukuman atas dosa yang dia lakukan selama hidup di dunia. Dalam beberapa cerita di Taubat, Rahasia Ilahi, Takdir Ilahi, Kuasa Ilahi, Misteri Ilahi, dan insyaf, tampak bagaimana siksa kubur yang diderita si mayat, yang menimbulkan kegegeran bagi lingkungan sekitarnya. Biasanya siksa menimpa pada tokoh yang memakai pesugihan, menyembah “berhala” dan berdukun, bersumpah palsu, korupsi, memakai sihir, teluh, dan susuk, bekerja sebagai pelacur, berjudi dan mabuk-mabukan, sampai yang kikir membelanjakan harta di jalan Allah.

Si mayit yang “dibangkitkan” tidak perlu mengotbahi orang sekitarnya dan atau penonton, karena siksa atas dirinya telah menjadi pesan yang lebih nyata. Namun, keberbedaan “cara bangkit” mayit ini juga menunjukkan perubahan cara pandang sineis atas realitas.

aaa

3-Akting-Suzanna-saat-jadi-hantu

aaa

Apatisme Hukum
Pesan yang dibawa si mayit di dalam film, di satu sisi dapat dilihat sebagai keterbelengguan sinema untuk membawa pesan moral, yang tampaknya merupakan pengejawantahan dari moral pancasila. Si mayit terkadang tampak menggelikan–tentu ini dilihat dari kacamata kekinian–ketika mengotbahi para petugas yang korup dengan membawa-bawa pancasila dan atau atas nama kepentingan negara dan orang banyak. “Pesan negara” ini bahkan sangat jelas karena pengucapannya pun nyaris seperti hapalan. Atau, barangkali pengucapan gaya penghapalan ini memang menjadi “tanda” agar penonton tahu betapa terbelenggunya film itu.

Di sisi lain, bangkitnya mayit justru meruntuhkan pesan yang dia bawa. Mayit yang bangkit dan membalas dendam menunjukkan semacam ketidakpercayaan si korban pada kerja aparat. Si mayitlah yang selalu berhasil menemukan pembunuh, pemerkosa atau koruptor, dan jika tidak menghukum sendiri, dia akan menghubungi polisi, seperti di film Misteri Rumah Tua.

Di film Telaga Angker dan film Suzanna yang lain, balas dendam itu memang terjadi, meski ada beberapa penjahat yang terpaksa diserahkan pada massa karena penuntasan dendam itu dihakimi kiai. Dari sini saja tampak bahwa ketakpercayaan pada aparat itu sudah demikian dalam, sehingga jika pun tak terjadi pembalasan dendam, hanya sosok kiai yang masih dapat dipercaya.

Dalam sinetron masa kini, “pembangkitan” mayit justru lebih menunjukkan –sebagaimana juga pendapat Garin Nugroho– ketakpercayaan pada hukum. Jadi, ketakpercayaan pada hukum yang adillah yang membuat kepasrahan diletakkan pada hukum Tuhan. Apatisme pada hukum negara membuat adagium “Biar Allah yang akan membalas semua perbuatannya” mendapat titik pijak. Ketidakampuhan hukum negara untuk membuat efek jera juga yang membuat hukum Tuhan divisualisasikan dengan cara demikian mengerikan, kasar, dan di beberapa visual, justru tampak naif. Keapatisan pada hukum negara juga yang membuat Tuhan diharapkan turun tangan bukan saja sebagai sipengadil, tapi juga sekaligus sebagai Allah yang Maha Kejam dan Maha Penghukum.Dan dasar itu juga yang membuat bangun-rancang sinetron “religius” meletakkan ketakwaan tercipta dalam bungkus ketakutan atas hukuman, dan bukan karena, seperti lagu Chrisye dan Ahmad Dani, “Dia memang pantas disembah, Dia memang pantas di puja”, meskipun surga dan neraka tak pernah ada.

Akhirnya, cara bangkit mayat di film dan sinetron tampaknya hanya ingin menunjukkan betapa rusaknya negara ini. Di masa Orba, film menunjukkan betapa tak percayanya masyarakat pada aparat, dan di masa tanpa orde ini, sinetron menunjukkan ketakpercayaan pada hukum. Dan untuk menghibur kesengsaraan kita sebagai anak bangsa, kita pun “memvisualisasikan” mayit semacam Suzanna, dan siksaan seperti di sinetron. Kita pun menontonnya dengan bergairah, karena tahu masih ada hukum, masih ada keadilan, bahkan terjadi setiap malam, meski cuma di televisi.

[Artikel ini telah dimuat di Harian
Suara Merdeka, Minggu 25 September 2005]

===============================

Tulisan ini terdiri dari beberapa nomor. Saya posting (dengan editing seperlunya) untuk mengenang sebuah blog bermutu yang sudah hilang. Jadi maaf kalau saya nggak bisa kasih link tulisan, memang barangnya sudah nggak ada, padahal saya suka banget blogwalking ke sana. Namanya rumahputih.org, yang punya blog juga saya lupa siapa. Tapi untung dulu sempat copy beberapa artikelnya… dan tentunya saya tetap menunggu blog itu hidup lagi…

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Noriko’s Dinner Table: Dianjurkan Untuk Tidak Menonton
Sudah lama banget saya mau bikin review film ini, tapi nggak tahu kenapa setiap kali dicobain males terus. Ada aja halangannya, sampai akhirnya jadi juga meski harus dipaksain. Bukan apa-apa, sebuah ...
"The Maiden Heist", Film Komedi Para Senior
Film ini genrenya komedi ringan, disutradarai sama Peter Hewitt, rilis tahun 2009. Dari pertama lihat covernya, saya sudah yakin kalau filmnya jaminan mutu meski nggak tahu juga mutunya setinggi apa, ...
Nonton Downfall: Merinding Dini Hari
Saya yakin  sudah banyak yang menonton film ini. Ya, soalnya ini film lama, rilis tahun 2004 di Jerman (kalau rilis di USA tahun 2005) dengan disutradarai oleh Oliver Hirschbiegel. Film ini masuk kate...
Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi
Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gel...
Subang: Bicara Film & Kehujanan
Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemar...
Film Fantasi dan Fiksi Ilmiah Indonesia: Adakah?
Pertanyaan di atas mungkin sulit dijawab. Di Indonesia, genre film fantasi dan fiksi ilmiah kalah populer dibandingkan drama percintaan dan tema horor-mistik. Mungkin lantaran biaya produksi film fant...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.