Buried, Film Panjang dengan Satu Aktor!

Wew, satu kata buat film ini: Briliant! Serius, tadinya saya merasa agak pesimis ketika ada teman yang menyarankan  nonton. Itu karena saya berpikir: apa mungkin ada film yang enak ditonton 90 menit, tapi setingnya hanya kondisi seseorang di dalam peti mati? Nilai 7,1 di IMDb belum tentu masuk di benak. Soalnya saya bicara soal kenyamanan menonton, karena kadang film yang nilainya tinggi malah nggak cocok di selera beberapa orang. Sebaliknya yang bernilai rendah kadang malah enjoy dilihat.

Oke, kembali ke film… Ternyata Buried (Rodrigo Cortes, 2010) membuktikan bahwa saya salah. Sebuah film dengan hanya satu aktor yang tampil di layar selama 90 menit ternyata bisa menarik, dan ketika saya bilang satu aktor (diulang: SATU aktor) itu nggak main-main. Karena sepanjang film kita cuma lihat perjuangan mencari kehidupan dari orang yang bernama Paul Conroy, seorang supir truk berkebangsaan USA yang lagi kerja nganter-nganterin perbekalan tentara Amerika yang tugas di Irak. Tokoh Paul ini diperankan oleh Ryan Reynolds.

Jadi cerita singkatnya begini: film Buried dimulai dari Paul yang terbangun dari pingsan dan mendapati dirinya ada dalam sebuah peti mati. Nyaris tidak ada ruang gerak bagi dia, sementara yang ditinggalkan oleh orang yang mengurung Paul ini cuma korek api gas, pisau, dan HP (ada kameranya lhooo… *penting ya?!). Harapan hidup buat Paul ternyata tipis karena lebih parah dari sekedar dimasukkan ke peti mati, dia juga dikubur hidup-hidup dalam pasir. Nah, sepanjang film kita akan mengikuti perjuangan Paul untuk mengontak siapapun yang dia kenal lewat hp itu, mencari pertolongan kemana-mana, termasuk mencari tahu siapa yang sebenarnya iseng masukin dia ke peti.

Kalau cara bercerita memang dasarnya mirip sama film Phone Booth (Joel Schumacher, 2002) tapi kalau film itu ngambil cerita seseorang yang terkurung di telepon umum, Buried menaikkan level ketegangan dengan sangat drastis… coba bayangin, di telepon umum nggak terlalu mengerikan situasinya, banyak orang lewat, ada mobil, ada kesibukan, tempat telepon umumnya di Amerika, nggak ngerasa sendiri deh intinya… tapi Buried menampilkan situasi di dalam peti mati, peti mati itu dikubur dalam pasir, pasirnya juga di negara orang lain… Irak! Nggak ada orang tempat ngobrol, nggak akan ada orang yang menolong kecuali dia sendiri, dan yang pasti… ada hal-hal lain di dalam cerita yang membuat kita berpikir ini Paul Conroy mending mati saja deh, kasihan soalnya…

Secara sinematografi juga bagus. Dengan teknik pencahayaan, kadang layar gelap juga selama beberapa detik, juga sudut kamera yang banyak pakai close up dan extreme close up bikin saya yang menontonnya bisa merasakan kepengapan, kegelapan, dan kesempitan peti mati itu.

Perasaan yang sama tentang ruang sempit sebenarnya sempat mampir ketika saya nonton Kill Bill 2 (Quentin Tarantino, 2004), ada adegan ketika The Bride berusaha membebaskan diri dari peti mati pas dia dikubur hidup-hidup. Bedanya, adegan di sana paling cuma lima menit sementara Buried menyajikan adegan yang sama selama 90 menit non stop (nggak kepotong iklan, iya lah… masa di DVD ada iklannya! PLAKKK!).

Film ini cukup recommended buat ditonton, tapi jangan dijadikan film hiburan… kecuali kalau di antara kalian ada yang memang berpikir bahwa nonton orang dikubur hidup-hidup dan kehabisan nafas adalah hiburan yang menyenangkan… wew[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor
Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, ...
Nonton "IL POSTINO": Ide Ceritanya Bagus...
Oke, sebelumnya lebih baik kita tahu dulu, siapa itu Pablo Neruda. Menurut catatan sejarah, Pablo Neruda lahir di Parral, sebuah kota sekitar 300 km di selatan Santiago, Chili, 12 Juli 1904 nama aslin...
[Rumah Putih #1] Berharap Pada yang Bangkit dari Kubur
Cerita tentang mayit yang bangkit dari kubur, yang kini mendominasi sinetron “religius”, pernah juga merajai tema film Indonesia tahun 1980-an. Namun, bangkitnya mayit itu ternyata membawa “pesan” y...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian,...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.